Duduk
Ini adalah sepenggal kisah sederhana tentang duduk. Bukan mau panjang lebar ngomong tentang “kedudukan” atau “siapa menduduki siapa” apalagi bicara “bagaimana cara menduduki”. Tapi ya…, hanya tentang duduk itu sendiri. Hanya sekedar mereview betapa duduk ternyata seru juga kalau dibahas. Untuk asyik asyikanlah…
Ceritanya cepat saja, karna indikator batere laptop ini hanya menunjukkan angka 1:13 hours yang artinya saya hanya punya satu jam lebih sedikit untuk mengutarakan cerita sebulan ini tentang bagaimana saya banyak duduk, duduk, duduk, dan duduk.
Cerita tentang duduk dimulai saat tiba tiba saya mendapat tugas untuk melakukan pemotretan di Bali. Untuk sesi prewedding lanjutan karena pada pemotretan awal terjadi ketidaksiapan dari pihak mempelai. Sepanjang jalan Jember-Banyuwangi saya duduk. Saat dikapal penyeberangan antara Ketapang Gilimanuk saya ngantuk luar biasa karna malamnya memang kurang istirahat, akhirnya saya memutuskan tetap di mobil dan tidur di jok tempat saya duduk. Tentu saja dalam posisi duduk.
Gilimanuk menuju Bedugul dan Kebun Raya juga saya manfaatkan untuk duduk sambil membaca bukunya Marina tentang Keliling Eropa Hanya 1000 Dollar. Mampir sebentar di sebuah depot untuk makan, juga sambil duduk. Pemotretan di Kebun Raya dan Bedugul hanya sebentar sehingga saya harus duduk lagi sepanjang perjalanan panjang menuju Denpasar-Kuta.
Sial sekali keberangkatan kali ini karena tidak sempat booking hotel jauh-jauh hari. Akibatnya harus tambah 2 jam lagi duduk di mobil sambil putar-putar Kuta cari hotel kosong yang bersedia diinapi. Setelah dapat hotel, sumpah saya sudah berusaha keras untuk tidur telungkup tapi eeee… kembali lagi pantat saya minta nempel ke kasur.
Esoknya, setelah pemotretan di hutan mangrove dan sekitar Kuta, saya melanjutkan perjalanan sekitar 4 jam menuju Karangasem. Jelas saya duduk. Dan otomatis saya harus nambah jatah duduk lagi selama 4 jam perjalanan pulang ke Denpasar. Dari sana saya lagi-lagi harus duduk 5 jam pulang menuju gilimanuk, ditambah 1 jam duduk di kapal, dan 2 jam lagi duduk di perjalanan Banyuwangi-Jember.
Sesampainya di Jember pekerjaan sebagai “tukang ngedit foto” numpuk, dan saya harus merelakan lagi pantat saya untuk duduk berjam-jam menuntaskan beberapa project yang masuk. Terus begitu selama beberapa hari karena klien selalu minta diutamakan alias “minta cepet” selesai. Aaaahh, duduk lagi duduk lagi…
Belum sempat meregangkan badan dan memijit-mijit pantat sendiri, saya harus ke Surabaya untuk sebuah misi yang cukup hedon, alias ndaftar sekolah mahal. Oh, betapa ternyata saya harus duduk lagi selama 5 jam perjalanan Jember Surabaya dengan segudang mimpi saya bisa diterima sekolah disana dan berharap banyak saya tidak terus terusan duduk.
Sialnya, begitu sampai di surabaya saya harus duduk lagi dalam antrian selama sekitar 3 jam untuk melamar sebagai mahasiswa. Itu saja belum termasuk duduk putar-putar Surabaya dengan sepeda motor saat cari lokasi pendaftaran. Di sela-sela stress berat karena duduk, seorang kawan ngajak nonton midninght session pemutaran Knowing di XXI. OMG!!! (dibaca ala anak gaul: Ow Em Ji….) saya harus duduk lagi dalam durasi 2 jam 30 menitpemutaran film tersebut. Padahal, tepat keesokan harinya saya diwajibkan untuk melewati serangkaian tes tulis dan wawancara yang membuat saya harus duduk lagi sejak jam 8 pagi sampai jam 2 siang.
Belum cukup sampai disitu, setelah segala urusan di Surabaya selesai, saya lagi-lagi harus menebus keberangkatan saya dengan perjalanan pulang yang kurang lebih sama: 4 jam duduk di kereta sambil mengetik kisah ini.
Cerita diatas adalah sepenggal kisah kecil yang harus “dikalikan dua” untuk tau berapa lama saya harus duduk dan duduk. Karena dalam tempo yang tidak terlalu lama, beberapa waktu yang lalu saya juga harus bolak balik Jember-Bali, Jember-Surabaya untuk sesi pemotretan prewedding dan pemotretan gelar busana di Unesa.
Di tengah itu semua saya mencoba untuk terus bersyukur. Jelas saya bukan seseorang yang duduk di jajaran direksi, atau bos besar yang punya segudang uang untuk jalan-jalan kesana kemari. Saya hanyalah tukang foto yang punya sejuta semangat untuk terus bekerja dan berkarya, meski harus duduk lagi, duduk lagi, dan duduk lagi.
Wah baterai sudah mau habis, dan sebentar lagi saya sampai kembali di Jember. Tentu bukan kebetulan karena begitu saya sampai di Jember, saya masih harus duduk lagi selama 3 jam perjalanan menuju Bande Alit untuk bergabung dengan teman-teman JPG yang sudah siap tempur motret banteng. Haaa.. duduk lagi???Ow Em Ji….!!!

3 comments
ya untung yang diceritain cuma “duduk”, coba kalo “bernafas” pasti bukan cuma sampe batre laptop yang habis, bahkan sampe laptopnya gak ada juga gak bakalan kelar..
Ketika kita “duduk” pasti kita “menduduki” sesuatu, karenanya jangan lupa untuk “mendudukkan” diri kita pada “kedudukan” yang “berkedudukan”.
Pintar saja tidak cukup, tapi harus pintar-pintar..
Pandai saja tidak cukup, tapi harus pandai-pandai..
halah..
wah wah wah, dalem juga nih komentarnya. siip tenan… bisa jadi referensi berfikir dan bertindak… asoy…
wah wah wah semoga tidak bisulan mas
Leave a Comment