No Sunset Free Beer…
Sepenggal kisah enam jam di pantai Kuta…
Tidak ada sunset, gratis bir… Ha ha ha… Judul tersebut adalah slogan Jokos Bar, sebuah tempat penjual minuman di pantai Kuta. Jangan membayangkan Jokos Bar adalah sebuah bar yang penuh dengan minuman beralkohol ataupun lampu ratusan watt yang berkedap kedip. Ia hanyalah sebuah tempat sederhana di pinggiran pantai Kuta yang dinaungi oleh Payung Pantai besar dengan beberapa krat minuman dibawahnya, serta dua buah kursi malas dari plastik.
Kalau kita duduk di kursi malas itu, rasanya gak pingin kemana mana lagi. Dunia ini rasanya hanya butuh pasir dan pantai. Apalagi kalau putar koleksi terbaik dari HP dan atur posisi headset dengan benar. Seusuaikan volume dengan suara debur ombak, agar keduanya tetap bisa sama sama terdengar. Semuanya dikombinasikan dengan sebotol bir sambil menikmati angin bertiup dan menantikan sunset terbaik di dunia… plus bonus cuci mata menyaksikan bule bule berbikini yang berjemur dan bolak balik melintas. … haaaaa… I want more….
Mas Joko, adalah seorang penjual minuman yang tidak berpendidikan tinggi. Tapi lancar cas cis cus dengan bahasa Inggris. Semua tamu yang bersantai di Kuta disapanya, diajak ngobrol satu persatu, kelompok demi kelompok. Semua mereka yang datang dari berbagai belahan dunia, Eropa, Australia, Amerika, dll…tak terkecuali gue tamu domestik yang nyasar. Ha ha… Dari caranya berbicara kita tahu dia pandai berbasa basi dan terlihat sangat profesional.
Mas Joko seperti menawarkan sebuah persahabatan bagi siapa saja yang datang kesini. Basa basi yang tulus, yang kalau dirasa-rasa beda dengan basa-basi ala pelayan Pizza H** atau Mc Dona**, atau gerai fast food manapun yang lebih seperti mesin yang sudah diprogram dengan hafalan kalimat tertentu (apalagi pengucapannya yang serba cepat dan berkesan sekedar pemenuhan standar pelayanan-huh.. menyebalkan).
Mas Joko adalah sebuah “fenomena” Indonesia yang sebenarnya. Dia tidak perduli tamunya akan membeli minumannya atau tidak, tapi dia tetap saja memberi sebuah service yang tidak dibuat buat. Dengannya kita bisa ngobrol banyak tentang kebiasaan tamu tamu yang berkunjung ke Kuta, tentang apa saja yang “boleh” dan “tidak” saat ngobrol dengan bule, tentang susah senang berjualan minuman di Kuta, dll.. Semuanya menarik!
“Iya dek, selama dua puluh tahun saya kerja disini, tidak pernah bosan. Suasananya saya suka, banyak bule cantik cantik, dan mereka semua baik. Biasanya kalau saya kerja ditempat lain saya cepat jenuh, tapi disini tidak. Ya disini, dibawah payung ini. Payung yang menancap disini ini, gak pernah pindah. Ya duduk di tempat sampeyan duduk sekarang itu”. (sambil menunjuk kursi yang gue dudukin) Dengan berusaha untuk tidak melongo, gue segera menelan satu tegukan lagi bir yang tersisa separuh itu…
Saat sunset datang akhirnya tibalah waktunya buat gue untuk test drive kamera baru Nikon D*** (Hiks betapa dia sudah menggerogoti tabungan ku, dan sekarang waktunya action, hayah…) Tentu saja sunset datang tepat waktu, dan gue gak kecewa. Matahari tenggelam dengan indahnya, dan gue capture beberapa momentum siluet nya. Wuih…puas….
Dan sisa senja itu aku habiskan di Jokos Bar, dengan membuka botol selanjutnya… Satu hal yang pasti, Jokos Bar adalah cerita enam jam yang sangat menyenangkan…

2 comments
Mas Joko baik karena dia juga tau kalo konsumennya juga orang baik
endi liputane hunting kamera barunya kok gak diuplod.. ben gak cuma papuma thok
hahahhaha…
Ya ela Harriiiiiis…harrissss…
jadi ini kelanjutan nyasar di Kuta kemaren???
Jadi naik ojek pa naik taksi pak??
Leave a Comment