human wanna be

Category — Catatan Perjalanan

Duduk

Ini adalah sepenggal kisah sederhana tentang duduk. Bukan mau panjang lebar ngomong tentang “kedudukan” atau “siapa menduduki siapa” apalagi bicara “bagaimana cara menduduki”. Tapi ya…, hanya tentang duduk itu sendiri. Hanya sekedar mereview betapa duduk ternyata seru juga kalau dibahas. Untuk asyik asyikanlah…

Ceritanya cepat saja, karna indikator batere laptop ini hanya menunjukkan angka 1:13 hours yang artinya saya hanya punya satu jam lebih sedikit untuk mengutarakan cerita sebulan ini tentang bagaimana saya banyak duduk, duduk, duduk, dan duduk.

Cerita tentang duduk dimulai saat tiba tiba saya mendapat tugas untuk melakukan pemotretan di Bali. Untuk sesi prewedding lanjutan karena pada pemotretan awal terjadi ketidaksiapan dari pihak mempelai. Sepanjang jalan Jember-Banyuwangi saya duduk. Saat dikapal penyeberangan antara Ketapang Gilimanuk saya ngantuk luar biasa karna malamnya memang kurang istirahat, akhirnya saya memutuskan tetap di mobil dan tidur di jok tempat saya duduk. Tentu saja dalam posisi duduk.

Gilimanuk menuju Bedugul dan Kebun Raya juga saya manfaatkan untuk duduk sambil membaca bukunya Marina tentang Keliling Eropa Hanya 1000 Dollar. Mampir sebentar di sebuah depot untuk makan, juga sambil duduk. Pemotretan di Kebun Raya dan Bedugul hanya sebentar sehingga saya harus duduk lagi sepanjang perjalanan panjang menuju Denpasar-Kuta.

Sial sekali keberangkatan kali ini karena tidak sempat booking hotel jauh-jauh hari. Akibatnya harus tambah 2 jam lagi duduk di mobil sambil putar-putar Kuta cari hotel kosong yang bersedia diinapi. Setelah dapat hotel, sumpah saya sudah berusaha keras untuk tidur telungkup tapi eeee… kembali lagi pantat saya minta nempel ke kasur.

Esoknya, setelah pemotretan di hutan mangrove dan sekitar Kuta, saya melanjutkan perjalanan sekitar 4 jam menuju Karangasem. Jelas saya duduk. Dan otomatis saya harus nambah jatah duduk lagi selama 4 jam perjalanan pulang ke Denpasar. Dari sana saya lagi-lagi harus duduk 5 jam pulang menuju gilimanuk, ditambah 1 jam duduk di kapal, dan 2 jam lagi duduk di perjalanan Banyuwangi-Jember.

Sesampainya di Jember pekerjaan sebagai “tukang ngedit foto” numpuk, dan saya harus merelakan lagi pantat saya untuk duduk berjam-jam menuntaskan beberapa project yang masuk. Terus begitu selama beberapa hari karena klien selalu minta diutamakan alias “minta cepet” selesai. Aaaahh, duduk lagi duduk lagi…

Belum sempat meregangkan badan dan memijit-mijit pantat sendiri, saya harus ke Surabaya untuk sebuah misi yang cukup hedon, alias ndaftar sekolah mahal. Oh, betapa ternyata saya harus duduk lagi selama 5 jam perjalanan Jember Surabaya dengan segudang mimpi saya bisa diterima sekolah disana dan berharap banyak saya tidak terus terusan duduk.

Sialnya, begitu sampai di surabaya saya harus duduk lagi dalam antrian selama sekitar 3 jam untuk melamar sebagai mahasiswa. Itu saja belum termasuk duduk putar-putar Surabaya dengan sepeda motor saat cari lokasi pendaftaran. Di sela-sela stress berat karena duduk, seorang kawan ngajak nonton midninght session pemutaran Knowing di XXI. OMG!!! (dibaca ala anak gaul: Ow Em Ji….) saya harus duduk lagi dalam durasi 2 jam 30 menitpemutaran film tersebut. Padahal, tepat keesokan harinya saya diwajibkan untuk melewati serangkaian tes tulis dan wawancara yang membuat saya harus duduk lagi sejak jam 8 pagi sampai jam 2 siang.

Belum cukup sampai disitu, setelah segala urusan di Surabaya selesai, saya lagi-lagi harus menebus keberangkatan saya dengan perjalanan pulang yang kurang lebih sama: 4 jam duduk di kereta sambil mengetik kisah ini.

Cerita diatas adalah sepenggal kisah kecil yang harus “dikalikan dua” untuk tau berapa lama saya harus duduk dan duduk. Karena dalam tempo yang tidak terlalu lama, beberapa waktu yang lalu saya juga harus bolak balik Jember-Bali, Jember-Surabaya untuk sesi pemotretan prewedding dan pemotretan gelar busana di Unesa.

Di tengah itu semua saya mencoba untuk terus bersyukur. Jelas saya bukan seseorang yang duduk di jajaran direksi, atau bos besar yang punya segudang uang untuk jalan-jalan kesana kemari. Saya hanyalah tukang foto yang punya sejuta semangat untuk terus bekerja dan berkarya, meski harus duduk lagi, duduk lagi, dan duduk lagi.

Wah baterai sudah mau habis, dan sebentar lagi saya sampai kembali di Jember. Tentu bukan kebetulan karena begitu saya sampai di Jember, saya masih harus duduk lagi selama 3 jam perjalanan menuju Bande Alit untuk bergabung dengan teman-teman JPG yang sudah siap tempur motret banteng. Haaa.. duduk lagi???Ow Em Ji….!!!

May 19, 2009   3 Comments

No Sunset Free Beer…

Sepenggal kisah enam jam di pantai Kuta…

Tidak ada sunset, gratis bir… Ha ha ha… Judul tersebut adalah slogan Jokos Bar, sebuah tempat penjual minuman di pantai Kuta. Jangan membayangkan Jokos Bar adalah sebuah bar yang penuh dengan minuman beralkohol ataupun lampu ratusan watt yang berkedap kedip. Ia hanyalah sebuah tempat sederhana di pinggiran pantai Kuta yang dinaungi oleh Payung Pantai besar dengan beberapa krat minuman dibawahnya, serta dua buah kursi malas dari plastik.

Kalau kita duduk di kursi malas itu, rasanya gak pingin kemana mana lagi. Dunia ini rasanya hanya butuh pasir dan pantai. Apalagi kalau putar koleksi terbaik dari HP dan atur posisi headset dengan benar. Seusuaikan volume dengan suara debur ombak, agar keduanya tetap bisa sama sama terdengar. Semuanya dikombinasikan dengan sebotol bir sambil menikmati angin bertiup dan menantikan sunset terbaik di dunia… plus bonus cuci mata menyaksikan bule bule berbikini yang berjemur dan bolak balik melintas. … haaaaa… I want more….

Mas Joko, adalah seorang penjual minuman yang tidak berpendidikan tinggi. Tapi lancar cas cis cus dengan bahasa Inggris. Semua tamu yang bersantai di Kuta disapanya, diajak ngobrol satu persatu, kelompok demi kelompok. Semua mereka yang datang dari berbagai belahan dunia, Eropa, Australia, Amerika, dll…tak terkecuali gue tamu domestik yang nyasar. Ha ha… Dari caranya berbicara kita tahu dia pandai berbasa basi dan terlihat sangat profesional.

Mas Joko seperti menawarkan sebuah persahabatan bagi siapa saja yang datang kesini. Basa basi yang tulus, yang kalau dirasa-rasa beda dengan basa-basi ala pelayan Pizza H** atau Mc Dona**, atau gerai fast food manapun yang lebih seperti mesin yang sudah diprogram dengan hafalan kalimat tertentu (apalagi pengucapannya yang serba cepat dan berkesan sekedar pemenuhan standar pelayanan-huh.. menyebalkan).

Mas Joko adalah sebuah “fenomena” Indonesia yang sebenarnya. Dia tidak perduli tamunya akan membeli minumannya atau tidak, tapi dia tetap saja memberi sebuah service yang tidak dibuat buat. Dengannya kita bisa ngobrol banyak tentang kebiasaan tamu tamu yang berkunjung ke Kuta, tentang apa saja yang “boleh” dan “tidak” saat ngobrol dengan bule, tentang susah senang berjualan minuman di Kuta, dll.. Semuanya menarik!

“Iya dek, selama dua puluh tahun saya kerja disini, tidak pernah bosan. Suasananya saya suka, banyak bule cantik cantik, dan mereka semua baik. Biasanya kalau saya kerja ditempat lain saya cepat jenuh, tapi disini tidak. Ya disini, dibawah payung ini. Payung yang menancap disini ini, gak pernah pindah. Ya duduk di tempat sampeyan duduk sekarang itu”. (sambil menunjuk kursi yang gue dudukin) Dengan berusaha untuk tidak melongo, gue segera menelan satu tegukan lagi bir yang tersisa separuh itu…

Saat sunset datang akhirnya tibalah waktunya buat gue untuk test drive kamera baru Nikon D*** (Hiks betapa dia sudah menggerogoti tabungan ku, dan sekarang waktunya action, hayah…) Tentu saja sunset datang tepat waktu, dan gue gak kecewa. Matahari tenggelam dengan indahnya, dan gue capture beberapa momentum siluet nya. Wuih…puas….

Dan sisa senja itu aku habiskan di Jokos Bar, dengan membuka botol selanjutnya… Satu hal yang pasti, Jokos Bar adalah cerita enam jam yang sangat menyenangkan…

May 19, 2009   2 Comments

Bahagianya Bisa Bahagia

Terus terang saja seringkali kita lupa kalau diri ini butuh stabilisator, semacam waktu khusus yang disediakan untuk sepenuhnya “lari” dari rutinitas dan sedikit beristirahat. Terus-terusan bekerja juga tidak sepenuhnya baik apalagi sampai melupakan kekuatan diri yang sudah mejerit-jerit minta istirahat. Wah, betapa menyenangkan punya waktu untuk jalan-jalan sambil memuaskan hobby motret. Dan 8 Februari yang lalu menjadi momentum yang sangat membahagiakan, tentu saja.
Bersama rekan-rekan JPG (Jember Photography), saya berkesempatan menghadiri sebuah acara Festival Cap Go Meh di Probolinggo. Sesuai dengan undangan terbuka dari pihak Probolinggo Photo Club, JPG mengutus sebanyak-banyaknya member untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Akhirnya, 13 orang member JPG memutuskan untuk berangkat. Rombongan terbagi dalam dua kendaraan yang ongkos bahan bakarnya ditanggung secara patungan. Lumayanlah untuk membangun sense of solidarity-nya JPG.

Sekitar pukul 6 pagi kami tiba di alun-alun Probolinggo dan menyempatkan diri untuk sarapan nasi pecel di sebuah “bus café”. Sebuah kafe yang unik, sebab café ini pada dasarnya adalah sebuah bus yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan untuk tempat makan-makan. Sisa pagi itu tentu saja kami habiskan dengan sesi-sesi pemotretan narsisme diri yang tiada lagi dapat terbendung. He he… Menyenangkan melihat tawa yang lepas dan terjaga dalam persahabatan yang hangat. Pagi itu JPG sangat luar biasa.

Sesampai di klenteng kami langsung mendaftar pada panitia agar segera mendapatkan ID Card khusus fotografer. Menurut beberapa informasi yang saya dapat festival Cap Go Meh ini adalah yang pertama kali diadakan di Probolinggo. Perayaan untuk masyarakat Tionghoa ini berlangsung selama sekitar 5 jam yang diisi dengan parade arak-arakan beberapa “rombongan klenteng” dari beberapa daerah di Jawa Timur. Masing-masing menampilkan performance terbaiknya yang disaksikan oleh Walikota Probolinggo. Semua bersatu dalam kosmologi perdamaian, sebab berbagai suku bangsa berinteraksi tanpa konflik dan saling sawang sinawang.

Acara semakin menarik sebab dikemas pula dengan sesi pemotretan model. Meskipun banyak komplain dari beberapa fotografer undangan yang datang, tapi toh mereka tetap saja menyerbu model dengan serentetan shutter yang tidak berhenti. Dan tentu saja semua demi mengejar hadiah yang sudah disediakan oleh panitia.

Member JPG sangat antusias dengan momen hunting ini. Saya bahagia bisa bahagia. Apalagi melihat rekan-rekan JPG tak kenal lelah mengabadikan momen-momen unik, meskipun acara berlangsung dengan sedikit beratakan akibat pengamanan yang minim. Tapi semua senang, dan semua bahagia, itu lebih penting dari apapun. Kami menutup acara hunting dengan foto keluarga bersama dengan beberapa member dari KOPDAR dan Klub Fotografi Lumajang.
Siang setelah acara selesai, Widham mengajak kami semua untuk melanjutkan agenda, dengan makan siang di rumah saudaranya. Dengan kondisi capek dan perut keroncongan, tentu itu adalah sebuah undangan yang sangat mengggiurkan. Dan sekali lagi kami merasa beruntung dengan rezeki yang melimpah ini.

Ada sedikit rencana kecil untuk melanjutkan perjalanan dengan hunting dadakan ke Gunung Bromo. Namun ternyata karena kondisi yang kurang memunginkan akhirnya jadwal dadakan tersebut terpaksa dibatalkan. Termasuk pula tawaran untuk hunting di Lumajang yang juga mendadak. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami semua memilih pulang dan segera beristirahat. Dengan segala kebahagiaan yang tercurah, kami mengisi perjalanan pulang dengan cerita dan tawa yang berderai.

May 19, 2009   2 Comments

Melancong ke Paris Van Java

Kalau ditanya kenapa tulisan ini harus berjudul “melancong”, satu-satunya jawaban yang paling masuk akal adalah, karena perjalanan ini adalah semata hura-hura dan belanja. Sisanya, yah… semacam perayaan kecil-kecilan bersama keluarga. Mudah-mudahan juga tidak salah kalau aku sedikit menuliskannya disini. Hmm, setidaknya untuk suka-suka…

Setelah selesai dengan pembentukan Jember Photography, awal Desember aku mendapat undangan dari Bapak untuk datang berkunjung ke Bandung. Momen promosi doktoral yang berlangsung 1 Desember 2008 itu menjadi sejarah yang sangat berarti bagi keluarga. Setelah penantian yang begitu panjang akhirnya beliau dapat menyelesaikan pendidikannya sampai mentok. Setahuku dalam keluarga besar kami, baru beliau yang bisa menempuh pendidikan sampai S3. Moga-moga dimasa depan kelak aku pun dapat menyusul jejak beliau, meskipun tentu saja tidak mudah.

Setelah hampir tidak jadi berangkat, akhirnya malam itu kuniatkan untuk membeli tiket langsung tujuan Bandung. Untung saja tiket Kereta Api Turangga masih tersisa satu bangku. Akhirnya 30 November siang aku berangkat menuju Surabaya untuk oper kereta Turangga tujuan Bandung. Agak ketar-ketir juga gara-gara persiapan seadanya, sebab memang semua serba terburu-buru. Tapi beberapa keperluan penting tidak ada yang tertinggal.

Sesampainya di Gubeng kusempatkan untuk bertemu dengan teman lama semasa kuliah dulu. Arientha namanya. Kami sering curhat via SMS untuk hal-hal tertentu yang selalu saja menjadi bahan jealous bagi Mrs.You Know Who. Sambil menunggu kedatangan Kereta Api Turangga, kami berbincang bincang sejenak di sebuah kafe stasiun. Yah, seputar rencana di masa depan dan tentu saja tentang popularitas ku yang tiba tiba saja melambung gara-gara masuk halaman depan koran. He he…

Ah, menyenangkan bertemu teman yang lama tak jumpa. Rasanya seperti masuk ke pusaran air lalu berputar-putar membahas masa lalu dan masa depan. Pusing sebab banyak persoalan yang diam-diam ternyata sama-sama kami alami, tapi tidak bisa berbuat apa-apa sebab hidup memang penuh dengan segala keterbatasan. Namun diatas semuanya, perasaan lega mengekor. Sesi curhat harus terhenti sebab keretaku segera berangkat. Satu jam itu berlalu dengan cepat dan mengharukan.

Perjalanan berangkat ke Paris Van Java cukup menyenangkan. Tiket bangku C (duduk disisi gang), kuacuhkan. Kebetulan, penumpang sebelahku belum datang, jadi kutempati saja kursinya. Rupanya ia baru naik di sekitar Madiun (kalau gak salah), dan ternyata ia tidak berkomentar tentang rebutan kursi itu. Ah, malu juga aku jadinya. Padahal, biasanya, aku adalah orang yang paling cerewet soal bangku kereta. Pinginnya selalu duduk di sisi jendela, dan marah-marah bila ada orang menempati kursi yang sudah kupesan. Tapi dengan momen ini aku jadi paham bahwa ada orang sabar di dunia ini, dan aku masih perlu banyak belajar.

Tidak banyak yang bisa diceritakan sepanjang perjalanan Bandung-Surabaya, karena isinya hanya tidur dan tidur. Disekitar, ah entahlah dimana, aku terbangun. Pagi itu dingin sekali. Selain AC yang memang luar biasa dingin, suasana diluar memang berkabut. Pemandangannya bagus sekali, yang nampak disekitarku hanya sawah dan perbukitan. Beberapa perkampungan letaknya jauh didasar lembah. Mengerikan juga ternyata kalau sadar bahwa kereta ini berjalan meniti perbukitan yang terjal. Aku menyempatkan diri memotret beberapa view untuk kenang-kenangan. Sayang hasilnya biasa saja, sebab memang agak repot memotret dari kereta yang berjalan.

Sampai di stasiun Bandung, aku harus melanjutkan perjalanan menggunakan Angkutan Kota tujuan Ledeng. Dari beberapa obrolan dengan supir, aku tahu mereka sopan sekali. Logat sunda yang kental menjadi ciri khas yang paling kentara, selain tentu saja kulit mereka yang putih-putih bersih. Dari kisah Mingke aku tahu beberapa dari mereka tentu saja adalah keturunan dari Raja-raja yang pernah dibuang kesini semasa zaman Belanda dulu. Apalagi konon, menurut sejarah geologis, wilayah sekitar Bandung dahulu adalah sebuah danau purba. Setidaknya itulah mengapa di daerah sini kualitas airnya sangat baik dan mungkin berpengaruh pula terhadap kulit mereka yang putih bersih itu.

Sampai distasiun Ledeng aku dikabari bahwa rombongan keluarga sudah menunggu di gedung tempat acara berlangsung. Dengan terpaksa akhirnya aku harus mandi di terminal yang kamar mandinya sempit bukan main itu. Untung saja masih bisa mandi, meskipun terburu-buru. Soalnya tanpa kehadiranku, tentu saja tidak ada dokumentasi untuk acara bersejarah ini. Tepat jam 10 pagi aku tiba di gedung.

Acara berlangsung sebentar saja. Mungkin sekitar 2 jam, yang isinya adalah perdebatan antara 6 Profesor melawan Bapak. Aku tidak begitu paham keseluruhan permasalahan yang diperbincangkan, tapi yang jelas beberapa poin dapat kutangkap. Acara diakhiri dengan pengukuhan doktor yang berlangsung sangat khidmat itu. Aku sibuk memotret, sementara Ibu dan adik-adik diam terharu. Semuanya berakhir dengan ucapan selamat dari beberapa undangan yang hadir, juga dari beberapa atasan Program Doktoral Universitas Pendidikan Indonesia. Aku sepenuhnya bangga punya orang tua yang bisa dijadikan teladan. Alhamdulillah.

Setelah acara selesai, kami sekeluarga jalan-jalan ke Tangkuban Perahu untuk melepas penat. Segala stress terobati menyaksikan kawah yang tidak henti-henti mengepul itu. Menyaksikan kebesaran Tuhan, selalu saja membawa arti bagi hidup yang kita jalani. Betapa manusia ternyata begitu kecil dibandingkan alam yang maha besar, apalagi bila harus dibandingkan dengan kuasa-Nya yang melebihi apapun. Ah, menakutkan.

Kami mengisi waktu dengan menyewa tiga kuda untuk kunaiki bersama Meri dan Likha. Kami bertiga sibuk berjalan-jalan keliling kawah, sementara Ibu dan Bapak berbelanja beberapa oleh-oleh. Disana, tanpa sepengetahuan Bapak, kami bertiga sepakat untuk memberi Bapak sebuah ucapan spesial. Kami sepakat untuk memesan sebuah pigura sederhana terbuat dari bambu yang berbentuk perahu. Diatasnya kami menuliskan beberapa ucapan selamat dan kasih sayang. Setelah dipasangi foto, malam itu juga kami serahkan surprise kecil-kecilan itu di hotel tempat kami menginap. Bapak terlihat sangat bahagia dengan senyumnya yang selalu saja tampak buruk itu. He he…

Keesokan paginya setelah check out dari penginapan, kami keliling kota Bandung untuk belanja. Wah, rezeki untuk Ibu dan kedua adikku yang notabene adalah wanita biasa yang senang belanja. Di sebuah sentra sepatu, aku membeli sebuah sepatu boot yang sejak SMA kuidam-idamkan. Senang juga menghambur-hamburkan uang tabungan. Halah…

Selesai berbelanja kami menuju rumah kos bapak untuk mengangkut seluruh barang di sana. Bapak gak sanggup kalau harus mengangkut semuanya menggunakan mobil sendiri. Makanya kami sepakat untuk mengirimnya ke Lampung menggunakan jasa titipan kilat milik armada bus Kramat Djati. Repot juga mengangkut semua barang yang menumpuk selama 8 tahun lebih tinggal di Bandung. Tapi pelan-pelan semua dapat diselesaikan dengan lancar. Aku paham bagaimana perasaan Bapak meninggalkan kota ini, kota yang sudah menjadi guru baginya, tempat menuntut ilmu sampai mentok. Dan kini aku menjadi bagian dari perpisahan mereka.

Setelah segala keperluan beres, kami berangkat ke stasiun kereta api. Sekarang giliranku untuk kembali pulang. Kami sempatkan makan malam di sana, sambil sekali lagi mengurai kembali rencana keluarga. Banyak hal yang masih ingin dicapai, dan kami tidak ingin berhenti berusaha. Aku tahu besar harapan mereka padaku yang serba liar ini. Satu doa, semoga kata “semangat” terus menjadi bagian dari hati kami masing-masing.

Menjelang senja kami berpisah. Mereka berangkat kembali ke Lampung, dan aku melangkah pasti bersama keretaku meninggalkan Bandung, untuk entah sampai kapan…

May 19, 2009   1 Comment

Sekali Dayung Jember, Blitar, Malang Terlampaui

November ternyata menjadi awal yang baik buat hubunganku dengan “Mrs. You Know Who”. Di 7 November, dia datang kembali ke Jember dengan segudang rayuan yang membludak tertumpah saat itu juga. Semua hanya gara-gara 3 bulan lebih miss komunikasi. Yah, akibat konflik berulang yang sudah terlalu sering berulang dan berulang. Ternyata memaafkan memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, sudahlah, yang berlalu biarkan berlalu. Kini semuanya kembali menjadi baik, semoga untuk seterusnya. Akhirnya tanggal 8 November dirayakan dengan sederhana saja. Tidak ada kado dan tidak ada pesta. Mungkin dia kecewa, tapi biarlah. Semoga ini menjadi pelajaran berharga buat kami berdua.

Sementara pekerjaan “tukang foto” terus saja menuntut untuk dikerjakan dan diselesaikan. Setelah melewati 3 hari nonstop memotret resepsi dan prewedding, akhirnya badan kolaps. Kesehatan menurun dan akhirnya sakit. Rencana pemotretan prewedding di Malang dan Blitar akhirnya ditunda satu hari. Tanggal 10 November tim studio baru bisa berangkat untuk sesi pemotretan yang sangat melelahkan itu.

10 November pagi, kami langsung menuju ke Danau Selorejo. Lokasi pertama yang dituju untuk sesi pemoretan prewedding. Mrs. You Know Who ikut serta dalam rombongan, sekaligus pulang kembali ke kota tempatnya bekerja di Kediri. Kami berpisah disekitar antara Selorejo dan Pare. Sebab ia harus melanjutkan perjalanan ke Kediri dengan menggunakan bis. Sedangkan rombongan kami baru keesokan harinya akan kesana. Ah, lagi-lagi perpisahan.

Rombongan kami menginap di sebuah cottage disekitar tempat wisata Danau Selorejo. Lokasinya asyik, dan pemandangannya bagus. Pagi hari suasananya sejuk dengan view yang sangat mempesona. Bayangkan, dari tempat kita menginap, kita bisa melihat waduk yang begitu luas (makanya dinamakan danau), ditambah lagi latar belakang pegunungan yang sangat eksotis. Beberapa penduduk asli bekerja dengan menjala ikan di sekitar danau serta menyewakan perahu untuk paket wisata keliling danau. Semuanya bersatu dalam kosmologi pagi yang cocok untuk bersantai.

Tapi beginilah susahnya kalau perjalanan ke lokasi wisata bukan untuk berlibur, melainkan untuk bekerja. Pagi-pagi sudah harus prepare untuk motret. Alhasil, kopi yang masih mengepul harus tersisa setengah gelas untuk dilanjutkan diminum siangnya. Wah sial…

Pemotretan pagi itu cukup melelahkan. Tapi pekerjaan belum selesai, rombongan masih harus menuju Blitar untuk pemotretan di Candi Penataran. Akhirnya siang itu juga kami terpaksa cek out dari cottage dan berangkat menuju Kediri lanjut ke Blitar. Di tengah-tengah perjalanan kami menyempatkan untuk mengambil beberapa foto. Meskipun terik matahari sangat menyengat, tapi tugas harus dilaksanakan.

Siang, kami tiba di Candi Penataran. Susana mendung tebal. Baru saja mulai untuk ganti kostum, hujan rintik-rintik mulai jatuh dari langit. Kami terpaksa menunggu beberapa saat sampai hujan benar-benar reda. Tapi ternyata cuaca tidak kunjung berubah. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap melakukan pengambilan foto ditengah hujan rintik yang menyebalkan itu. Repot juga harus memotret dengan membawa payung kemana-mana.

Sore hari kami baru selesai memotret. Karena jumlah foto dirasa masih kurang akhirnya kami sepakat untuk menambah sesi pemotretan lagi keesokan harinya. Tapi kali ini lokasinya di Malang, tepatnya di hutan Purwodadi. Dengan stamina yang sudah drop, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Malang. Untungnya perjalanan lancar dan menyenangkan. Seperti biasa, dengan kondisi capek semua lelucon konyol biasanya keluar dari mulut. Wah, cukuplah untuk mengobati lelah.

Sesampainya di Malang kami menginap di sebuah guest house yang sudah menjadi langganan. Guest house ini sangat terawat, dan kamarnya pun tergolong mewah. Menu sarapannya juga enak, apalagi soto ayam yang selalu menjadi kegemaran kami. Namanya Peye Guest House. Letaknya kira-kira disekitar Dieng Plasa. Menurut resepsionis, Peye Guest House punya satu cabang lagi di kota ini, tapi kami belum pernah menginap di guest house yang satu itu.

Malam kami gunakan untuk sepenuhnya beristirahat. Pagi hari setelah sarapan dan proses make up selesai, kami berangkat ke Hutan Purwodadi. Sesi pemotretan disana memakan waktu sampai siang hari. Banyak spot menarik yang bisa dijadikan sebagai lokasi foto prewedding. Yang lebih menyenangkan adalah suasananya teduh sebab pohon-pohon di sini sangat rindang. Malah, kalau saja ada waktu untuk berlama-lama, ada juga keinginan untuk tidur-tiduran sambil membaca buku disini. Wah, mimpi disiang bolong…

Selesai motret, kami sempatkan untuk makan siang disebuah depot tidak jauh dari situ. Setelah perut terisi kenyang, kami kembali ke kota Jember dengan terlebih dahulu mampir di sekitar Lawang untuk membeli oleh-oleh. Akhirnya semuanya ditutup dengan tidur selama perjalanan sampai Jember. Syukur semua niat dan rencana dapat terlaksana dengan baik.

May 19, 2009   2 Comments

Surabaya, Sarapan Pagi dan Sepotong Perbincangan

Kalau mau jujur ini adalah cerita tentang sarapan pagi yang sebetulnya gak terlalu penting untuk ditulis. Tapi berhubung suasana sore ini kelihatan begitu bersahabat, konektivitas antara hati dan pikiran akhirnya klop. Mungkin aja bisa menghasilkan sebentuk cerita yang cukup layak untuk dibaca.

Seharian mengurus Miranda di rumah sakit, sore hari order garapan album menumpuk minta diselesaikan. Belum lagi klien yang datang terlambat malam itu, membuat semua janji terpaksa harus molor. Dari sekedar keperluan untuk ambil CD file foto akhirnya berkembang jadi obrolan yang panjang. Terpaksa gue harus menunda tanggung jawab untuk mengurus percetakan undangan married seorang teman. Padahal malam itu mestinya urusan cetak harus sudah beres. Ah, sial. Belum lagi masalah organisasi yang mau gak mau gue juga harus terlibat untuk bicara panjang lebar dalam sebuah forum. Capek. Semuanya harus diselesaikan dalam sehari. Setelah melewati hari yang sangat melelahkan, ada satu keperluan lagi yang harus segera dituntaskan. Surabaya.

Dengan sedikit malas gue mampir di stasiun untuk beli tiket keberangkatan malam itu juga. Setelah hampir terlambat (akibat forum Tegalboto yang melenakan itu), akhirnya gue bisa menggapai (menggapai???) kereta Mutiara Timur yang sudah hampir berangkat itu. Akibat terburu-buru, gue harus berusaha keras melawan dingin akibat lupa membawa jaket. Selimut yang disewakan di gerbong-gerbong gak cukup hangat. Di gerbong 2, kabinnya berisik akibat AC yang sedikit error. Ah, apes. Perjalanan 4 jam itu akhirnya di lalui dengan meringkuk menahan dingin dan mendengar terus-terusan dengung AC sialan itu.

Beruntung gue bisa tertidur setelah membaca Rumah Kaca. Nyenyak dan cukuplah untuk istirahat. Keenakan tidur, akhirnya stasiun Wonokromo tempat seharusnya gue turun terlewat sudah. Ini hal yang biasa. Setahu gue sepanjang umur pergi ke Surabaya, yang seharusnya turun di Wonokromo, pasti kelabasan sampe Gubeng. Huah…sial. Akhirnya gue terpaksa balik arah dengan kereta kommuter tujuan Sidoarjo. Kereta yang gue biasa naik setiap kali tersasar sampai Gubeng. He he…

Betapa sialnya gue begitu sampe di Wonokromo, Bapak tercinta satu itu mengabari gue harus tunggu di Wonokromo untuk bareng-bareng ke Gubeng. Sebab lokasi hotel tujuan lebih dekat digapai (digapai??) dari stasiun Gubeng. Maksudnya?! Huah… Sial! Gue pikir dia sudah di Surabaya, eeeh… ternyata masih diperjalanan Bandung Surabaya. Dan gue terpaksa harus menunggu setengah jam karena ternyata kereta yang dia tumpangi baru sampai di Mojokerto. Ah, what a bad day… Setelah keretanya datang, dengan perasaan konyol gue balik lagi ke Gubeng bersama Bapak tercinta di satu kereta yang sama.

Dari Gubeng kami menyewa taksi yang mengantar langsung ke Hotel Weta. Setelah check in di lobby, kami langsung menuju kamar yang terletak di lantai 6 hotel ini. Kekesalan gak bisa terobati karena jelas dia sibuk dan jadwal hari itu bakal padat. Beberapa kepala sekolah dan guru sudah menunggunya untuk penataran soal Sertifikasi. Ah, mungkin cuma basa basi PNS saja. Entahlah, semoga saja tidak. Tanpa menyempatkan mandi dulu, buru-buru kami langsung sarapan pagi di ground floor.

Ditemani menu nasi goreng dan secangkir kopi dengan gula diet (tulisan nya sih gitu, gak tau diet beneran ato gak)… terceploslah… (diambil dari kata ceplas ceplos - bener gak sih) banyak rencana yang sempat gue utarakan ke dia. Tentang melanjutkan sekolah, menikah, juga soal pekerjaan. Tiga hal yang kedepan bakal jadi kompleksitas baru dalam hidup gue. Perdebatan kecil jelas ada. Katanya orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi Bapak yang satu ini kadang keras kepala dan terlalu memaksakan kehendak. Seolah olah bakal dia aja yang jalani hidup gue. Huah, beberapa percakapan terdengar menyebalkan. Tapi setidaknya beberapa hal berujung pada satu kesimpulan. Meski masih samar.

Diselanya gue masih juga sempat merasakan ambiguitas dalam kedirian gue. Tentang banyak rencana yang sepertinya gak mudah untuk dijalani. Mungkin karena gue sudah terlalu nyaman dengan keadaan yang sekarang. Jadi manusia biasa-biasa aja yang gak perlu harus tertuntut. Menghidupi diri sendiri aja, dan gak mikirin macem macem, apalagi pacar bahkan istri nantinya. Menyenangkan. Meskipun seringkali di satu titik ada suntuk. Absurd.

Tapi kata orang hidup mesti terus berbenah. Menggapai yang bisa digapai. Sekali ada kesempatan jangan pula disia-siakan. Entah mengapa jadinya gue takut dengan pilihan pilihan. Hah…(sambil narik nafas panjang nih ngetiknya). Bayangkan, 2 tahun kedepan berarti gue harus sekolah lagi. S2 Komunikasi emang pilihan gue. Dalam bayangan gue, keilmuan di Hubungan Internasional bisa nyambung dengan Komunikasi Internasional. Gue bisa mendalami lagi skripsi tentang MTV dalam tesis gue nantinya (mungkin). Selain itu kegiatan jurnalistik yang gue tekuni di Tegalboto juga bisa nyambung dengan dunia komunikasi. Kebiasaan diskusi seputar cultural studies, semiotika, dll juga lumayan dekat dan cukup mendukung. Pada tataran praksis, gue seorang fotografer, yang jelas nyambung dengan dunia komunikasi visual. Dan peluang terbentang sebab tahun depan rencananya Unej membuka jurusan Komunikasi. Tunggu apa? Mungkin seharusnya memang begitu. Tapi… entahlah, tetap aja ada ragu.

Dan kekonyolan semakin menjadi jadi saat obrolan sampai pada bagian tentang menikah. Di satu titik gue berharap bisa segera menyandang gelar sebagai seorang suami, membela abis abisan rencana gue yang satu ini. Beberapa alasan logis rasional gue utarakan. Semuanya nyambung dan masuk akal. Tapi ternyata bikin bapak yang satu ini masuk angin. Huakakak…. Apalagi gue?! Bayangkan didepan bapak sendiri koar-koar tentang keinginan berumah tangga. Menyatakan siap lahir bathin dan sanggup menerima resiko apapun. Tapi yang mau diajak nikah aja gak ada?! Hah,… betapa tololnya. Lagi-lagi sebuah ambiguitas yang absurd.

Dan soal kerjaan. Yang satu ini selalu saja mengundang perdebatan panjang. Dan gue sebel banget dengan ketidakpercayaannya terhadap apa yang gue tekuni selama ini. Seolah olah orang bekerja hanya mencari uang. Gue bekerja ingin mengekspresikan diri gue, bukan semata-mata jadi pegawai mentereng jreng jreng jreng… Rezeki kan gak melulu uang dan materi. Kesehatan? Ketenangan berfikir? Waktu luang untuk membaca dan berdiskusi? Motret klien sambil travelling? Teman-teman yang kompak dan seide? Wah yang ini aja sudah rezeki luar biasa dari Tuhan! Iya kan? OK, sekarang ngomong materi. Kenapa sih dia selalu ragu dengan kapabilitas seseorang dalam mencari rezeki. Alhamdulilah gak sampe setahun ini gue bisa nabung dalam bentuk deposito. Order juga berdatangan syukur gak sampe seret banget. Gue bisa tetep belanja barang yang gue suka. Nambah alat-alat produksi dan perlengkapan foto. Jalan dan nraktir temen kalo ada seseran lain? Lha terus bapak yang satu ini minta apa?

Pola berfikir manusia jadul yang pingin jadi pegawai gue rasa sih sudah kuno di jaman sekarang ini. Kenapa sih gak membiarkan manusia berfikir merdeka? Dian Sastro, mbak gue yang satu itu aja (haaaah… gitu kan?) sampe capek ngemsi (maksudnya jadi MC) di acara WMM (Mirausaha Muda Mandiri). Dia bilang Indoenesia nih setidaknya butuh 2 persen aja wirausahawan untuk kestabilan ekonomi dan sekarang di Indonesia baru ada 0,8 persen! Bayangkan? Sementara mental generasi muda dididik cepet lulus dan bermental pekerja? Terus? Gak tau deh, gue ketawa ketiwi aja ngliatin jidat bapak satu ini yang botaknya sudah semakin menjalar.

Ahhh… bapak… bapak. Bagaimanapun kamulah manusia yang sudah lebih banyak makan asam garam. (kenapa sih harus asam garam?) Kalo gue mungkin masih cetek ilmunya tentang hidup. Mungkin masih banyak emosinya kalo memutuskan sesuatu. Dan gue yakin bapak yang satu ini tidak mau anaknya salah jalan. Bravo deh buat semua bapak di muka bumi ini!

Dalam perjalanan pulang ke jember gue sempatkan bersenandung dalam hati. Lagunya Koes Plus yang berjudul “Ayah”. Wah kena banget… Sawah sawah diluar jendela kereta rasanya ikut bernyanyi. Sawah becek yang dulu sempat merenggutnya sebagai petani waktu masih tinggal di Kebumen. Dan gue kembali mengamini semua nasehatnya, dari lubuk hati yang terdalam.

Tanpa gue sadari, inilah sarapan pagi paling berkesan dalam hidup gue. Sarapan pagi yang diwarnai dengan keterbukaan, dan kebebasan menceploskan (diambil dari kata ceplas ceplos) segala opini dan pendapat, juga rencana yang mungkin terkesan berlebihan. Dan 2 jam di Surabaya, rasanya membuat gue terbelalak. Hah… gue kesini cuma buat sarapan doang???

Ah sudahlah. Semoga banyak hal yang bisa dipetik. Seperti petani-petani di luar jendela kereta yang setia memetik rezeki baginya juga rezeki bagi kita manusia pemakan segala.

May 19, 2009   4 Comments

Pulang, Lagi… (akhirnya)

Tadinya malas menuliskan sedikit catatan perjalanan tentang pulang. Toh pulang hanyalah pulang. Namun bila saja waktu tiba-tiba terhenti dan aku belum juga bercerita sedikit tentang hari-hari itu, rasanya menakutkan juga. Mungkin seperti perasaan bersalah yang sulit dibayar. Karena banyak “quantum momentum” yang kurasakan saat pulang, dan itu mengapa kemudian ini menjadi perlu.

Lebaran 2008.

Pilihan untuk pulang akhirnya kuambil, setelah awalnya ragu juga untuk kembali ke tanah kelahiran. Kebumen bukan tempat yang ramai, apalagi kalau berharap disana banyak hiburan. Halah… jauh! Ia hanya sebuah kampung yang disana kita harus benar-benar bersabar meski sekedar untuk menunggu sore, malam kemudian pagi lagi. Tapi keluarga bukan “barang” yang bisa ditinggal pergi, lalu dikunjungi kapan sempat. Ia seperti rumah, yang padanya kita harus kembali untuk bertanggung jawab.

Perjalanan antara Jember menuju Kebumen aku tempuh dengan bis. Singgah di dua kota, Surabaya dan Yogyakarta. Perjalanan malam antara Jember-Surabaya hanya dipenuhi kekhawatiran. Inginnya tidur, tapi takut terlewat waktu sahur. Huh…, akhirnya hanya duduk melongo dan banyak berfikir. Untungnya bis berhenti disekitar kota Pasuruan, mempersilahkan penumpang untuk santap sahur. Menu Coto Makassar akhirnya kupilih karena kangen juga dengan makanan yang satu itu. (Aku hanya dua kali makan Coto, pertama saat Ikut Pelatihan Jurnalistik di Makassar, yang kedua ya… saat itu).

Penjual yang terheran heran melihat semangat makanku yang luar biasa itu, adalah seorang perempuan yang ‘luar biasa besar’ badannya. Dia asli Makassar, tapi sudah hampir 20 tahun tinggal di Jawa. Satu dari jutaan perantau yang ikut bertarung berebut rizki di tanah Jawa. Kalau ramalan Jayabaya benar, bahwa pulau Jawa akan tenggelam, tentu dia salah satu biang penyebabnya, apalagi mengingat ukuran tubuhnya yang triple XL. Hehe… just kidding. Dia perempuan baik, dan mau membuka percakapan. Suaranya parau seperti laki-laki. Suatu saat, aku akan sempatkan lagi mampir ke kedai itu. Coto-nya enak.

Sampai Surabaya, aku hanya oper bis tujuan Yogyakarta. Perjalanan panjang ini aku habiskan untuk tidur. Maklum, puasa hari terakhir, godaannya banyak. Daripada buyar puasa satu bulan, cuma gara-gara kegagalan sehari, eman-eman. Lebih baik, tiduuuuurrr… .

Sampai Yogyakarta, inginnya langsung bablas ke Kebumen. Tapi ternyata kaki ini inginnya berkelana. Akhirnya sore terakhir ramadhan, aku habiskan untuk jalan-jalan keliling Yogyakarta. (Gak keliling sih, lha wong cuma muter kampus UGM terus ke Gramedia. He he…) Alhamdulillah, bisa sampai tujuan dengan selamat. Soalnya kode jalur bis kota, aku tidak hafal. Apalagi sekarang di Yogyakarta sudah ada Trans Yogya-nya (persis seperti Trans Jakarta cuma ukuran bis-nya lebih kecil), jadi rutenya sudah banyak yang berubah. Dan lagi dulu semasa sering singgah dan keliling Yogyakarta, tidak pernah naik bis kota. Selalu dapat pinjaman sepeda motor dari teman yang kuliah disana. Tapi sekarang berhubung kebanyakan mereka sudah lulus, ya mau bagaimana lagi? Satu-satunya pilihan adalah bis kota. Asyik kok.

Tujuan awalnya ke Gramedia, ingin lihat-lihat backpack untuk laptop. Tapi akhirnya malah banyak lihat koleksi buku. Diantara sekian banyak buku, anehnya mata ini sekali lagi jatuh cinta lihat jajaran karya Pulau Buru-nya Pramoedya. Tanpa pikir panjang, akhirnya kubeli saja tetralogi Pulau Buru itu (L-A-G-I). Maksudnya?

He he… dulu pernah punya empat buku fenomenal itu. Sayang sekarang sudah (konon) disumbangkan ke sebuah perpustakaan di sebuah pulau terpencil di Lampung. Soalnya, keempat buku itu kubeli dengan uang patungan dengan seseorang… ehm, sepertinya gak perlu kusebut namanya.  Begitu kami berpisah, akhirnya buku itu harus bersarang di tempat yang (mungkin) memang seharusnya dia berada disana. Ah,…semoga bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Akhirnya, sekali lagi aku bangga menenteng karya yang menjadi kandidat peraih Nobel itu. Bayangkan, Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya penulis Indonesia yang nyaris mendapat Nobel karena karya yang satu itu! Sungguh luar biasa. Semuanya ada 4 buku, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Dan keempatnya kubeli (lagi) tanpa penyesalan sedikit pun. Ini buku yang pantas di koleksi. Sebab, terus terang saja, selain untuk kubaca, sedikit pertimbangan lainnya dari membeli buku adalah; untuk kuwariskan pada anak-anakku kelak. Ah, pasti mereka bangga dengan ayahnya yang seorang ini. He he…

Cerita dalam roman tetralogi Pulau Buru itu sederhana saja sebenarnya. Tapi setiap detailnya sangat komprehensif. Sangat baik menggambarkan lika-liku tahun 1900-an di Indonesia. Bukan saja langka cerita yang mengambil setting pada tahun itu, tapi gaya Pramoedya bertutur memang sedemikian khas. Dan saya suka, seperti juga jutaan orang lain di bumi ini yang senang membacanya. Oh, Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, Keluarga Mellema, dan semua tokoh yang hidup didalamnya; aku kangen dengan kalian. Pasti akan kubaca lagi!

Dari Yogyakarta, aku berangkat pukul 5 sore, dan sampai di Kebumen pukul 8 malam. Buka puasa terakhir harus dilakukan diatas bis. Namun cukup melegakan meski hanya dengan sebotol air mineral. Diantara itu semua, satu hal yang paling membahagiakan; yaitu bertemu mereka yang kini hidup dalam kosmologinya masing masing. Keluarga besar.

Setahun berlalu sejak lebaran satu tahun yang lalu. Beruntung seluruh keluarga tahun ini tetap dalam kondisi yang sehat. Idul fitri kembali riuh dengan suasana kebersamaan. Hari-hari kami lewati bersama dengan bahagia. Saling berkunjung dan saling bersalaman. Banyak obrolan mungkin terdengar hanya sekedar basa basi. Tapi semuanya menampakkan wajah sumringah! Alhamdulillah.

Hari-hari di Kebumen kuhabiskan dengan mambaca kembali Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Bosan? tidak. Aku semakin bisa mendalami setiap pesan yang disampaikan oleh penulisnya. Lima hari di Kebumen semakin membuatku merasa dekat dengan segala apa yang digambarkan dalam roman itu. Apalagi suasana pedesaan dan lingkungan yang sangat “jadul”. Ah, betapa beruntungnya aku. Sayang, aku hanya sanggup menyelesaikan dua buku. Sisanya tentu akan kubaca sepanjang perjalanan pulang dan setelah sampai di Jember.

Kebumen, 5 Syawal 1429H

May 19, 2009   3 Comments

Menuju Pulau Dewata, Menuju Kebebasan Dan Keindahan

Hard Rock Hotel
Bali, 10 September 2007

Ini adalah ketiga kalinya aku mengunjungi pulau dewata ini. Kembali menginap di hotel yang sama, namun kamar yang berbeda. Dari hotel aku langsung dapat akses terdekat ke Pantai Kuta. Salah satu tempat yang sangat fenomenal di muka bumi ini. Tempat dimana sejuta budaya bertemu dalam satu lokasi yang mereka bilang “amazing”.  Tapi dalam bahasa sederhanaku, aku memilih menggambarkannya dengan; sebuah tempat yang “panasnya minta ampun”.
Apa yang kutulis kini adalah kisah perjalanan sehari semalam menikmati kesendirian. Lari dari hiruk pikuk pikiranku sendiri. Lari dari keributan yang lagi-lagi muncul dengan “si dia”. Ingin sendiri tanpa dering handphone dan sms yang gak penting. Asal tahu saja, terhitung sudah hampir 48 jam sampai kutulis semua ini, HP yang kubawa tetap berada dalam posisi mati. And here we go… ini dia ceritanya…
Selepas menyebrangi Selat Bali perjalanan darat kembali dilanjutkan. Melewati jalanan panjang menuju Denpasar, aku disambut dengan hijaunya sawah bersambung bibir pantai disebelah kanan jendela mobil. Hawanya panas, tapi cukup menyenangkan. Matahari sudah hampir tinggi padahal masih pukul 10 pagi WIB. Tapi di Bali, tentu saja sudah pukul 11. Pelancong domestik sepertiku ternyata masih harus dirugikan dengan hilangnya satu jam karena selisih tiga zona waktu di Indonesia. Tapi apalah artinya itu semua, toh perjalanan ini bukan untuk tujuan bisnis.
Diatas itu semua, yang paling mengasyikkan dari perjalanan ini adalah mendengar alunan Jazz bercampur desing angin dari jendela mobil yang kubuka sebagian. Setiap perjalanan berkendara seperti ini, lamunan adalah segalanya. Dan Jazz yang sedang mengalun, serasi berpasangan dengan Pocari Sweat yang menyegarkan. Selesai menikmati sebatang rokok, aku tertidur karena segalanya sudah begitu nyaman terasa.
Ketika memasuki seputaran Pantai Kuta, aku langsung  teringat dengan Pantai Pasir Putih di kampung halamanku. Lautnya sama birunya. Pasirnya juga sama putihnya. Bedanya pantai dikampung halamanku tidak ada turis berbikini seksi berseliwearan disana-sini. Tidak banyak hotel mewah yang dibangun disana, apalagi toko-toko fashion berkelas internasional yang ramai dikunjungi pelancong. Kuta punya itu semua, termasuk keindahan sunset yang sulit dikalahkan oleh pantai dimanapun di dunia.
Seperti sudah sempat kusinggung, sampai di Kuta aku langsung check-in di Hard Rock Hotel. Ini ketiga kalinya aku menginap disini. Seperti Hard Rock Hotel di seluruh negara lainnya, patung gitar dan sound sebesar rumah terpampang di depan hotel. Ciri khas yang perlu biaya mahal untuk membangunnya. Setidaknya dengan adanya artefak semacam itu, tamu yang menginap disini tidak segan untuk berfoto mengabadikan kesempatan mereka menginap di hotel mahal ini.
Siang setelah istirahat sebentar, aku pergi makan siang di Mc Donald. Satu lagi simbol kapitalisme global yang ternyata harus antri setengah jam untuk dapat makan fried chicken rasa “Amerika”. Makan siang kali ini diramaikan dengan Kuta Karnival dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berjalan konvoi dengan baju adat masing-masing menampilkan eksotisme Indonesia kepada turis-turis yang sudah siap dengan handycam dan kamera digitalnya. Banyak senyum dan tawa disana. Panas yang terik adalah bonus menarik bagi para turis itu. Tapi bagi peserta karnaval, ini adalah derita yang harus ditutup dengan senyuman. Salah satu peserta Kuta Karnival adalah Jember Fashion Carnaval yang sudah fenomenal itu. Kesempatan ini tentu saja kumanfaatkan untuk bertemu dan ngobrol sebentar dengan teman-teman dari Jember.
Sepanjang sore aku habiskan menikmati matahari tenggelam di pantai. Indahnya pemandangan memanjakan insting fotograferku untuk terus menekan tombol shutter sampai kehabisan baterai. Yang pasti tidak ada kecewa disini meski keindahan sunset harus berakhir diganti malam.
Kesempatan pergi ke Bali bagi sebagian besar masyarakat Indonesia (tentu saja aku juga termasuk didalamnya) adalah ticket mahal yang hanya bisa sesekali dikunjungi. Sebab semuanya harus dibayar dengan uang. Sedangkan uang adalah lembaran yang juga sulit dicari di negara ini. Ironisnya, Bali layaknya tempat wisata lainnya adalah mesin penyedot uang yang siap mereguk berapapun kita sanggup membayar.
Seperti juga Black Canyon Coffee di Discovery Mall tempat pilihanku untuk menghabiskan malam pertama di Bali ini. Sebuah café milik sebuah MNC yang menyediakan minuman dan makanan lezat bagi para pelancong Bali. Rupanya kita harus merogoh kocek nyaris 200 ribu untuk satu paket makanan dan minuman yang intinya hanya untuk mengisi perut. Ini adalah tempat dimana bila kita bilang ke pelayan, “mas, meja saya agak cepat sedikit dong…”, maka dia akan bilang ke rekannya “hey table five, hurry up”. Bali, rupanya dipenuhi mereka yang sepertinya tidak ikhlas jadi orang Indonesia. Inginnya selalu ke-Inggris Inggrisan.
Terus terang saja, di Bali kita terpaksa membeli gengsi. Outlet-outlet di sepanjang jalanan kecil di sini menjual “Made In USA”. Harganya melangit sampai hampir setengah juta untuk sebuah kemeja. Sehingga dengan uang satu juta kita mungkin hanya bisa dapatkan satu stel pakaian saja. Bukan harga yang murah bukan? Tapi inilah Bali. Mesin uangnya Indonesia. Bandrol harga begitu jelas untuk menghisap isi kantong bule-bule yang ingin menghabiskan uangnya. Tapi untuk masyarakat kita sendiri, ada kok  toko-toko yang sedikit kurang prestise dari segi penampilannya tapi mengobral dagangannya dengan harga yang jauh lebih murah tapi berkualitas. Cukup adil bukan?
Bali menyimpan semuanya dalam diamnya. Dalam doa dan langkah tenang mereka yang sembahyang  di Pura Pura suci di segala sudutnya. Bali adalah Pulau Dewata yang siap membagi kebahagiaan kepada semua orang, semua manusia, semua dari kita. Bali siap membagi keindahan alamnya untuk orang Madura yang berjualan Bakso di pinggir pantai Kuta. Membagi rezekinya untuk satpam Hotel asal Banyuwangi itu. Meramaikan bisnis travel milik orang Batak di ujung lorong sana. Membiarkan pantainya di jelajahi pasangan bule dari Jerman itu. Dan disini juga menyediakan apapun untuk saya, fotografer, mengabadikan segala yang tampak.
Malam di Bali adalah kehidupan yang sebenarnya. Semua bergerak, semua berdenyut. Di sekitar Kuta, anak-anak orang kaya Bali sibuk menyetel musik dari tape mobilnya masing-masing. Volumenya sedemikian keras mengalahkan debur ombak di pantai sana. Di diskotik, pemuda-pemuda kita juga sibuk bergaya dengan rambut pirang dan kalung perak kebanggannya. Para pembuat Tatto asyik mengukir tubuh para bule itu sambil cas-cis-cus ngomong barat. Dua orang pelayan wanita di kedai Circle K melamun menunggu pembeli sambil sesekali menggosip. Beberapa PSK sesekali terlihat dari persembunyiannya di balik pohon-pohon di kegelapan Pantai Kuta. Semuanya luar biasa. Semuanya seperti tidak ingin mati.
Pulang ke hotel, di lobi depan band lokal memainkan hip-hop yang sedang ngetrend dengan bising. Para tamu asyik menikmati minuman dari botol-botol yang tidak habis-habis dipesan. Seharian kelelahan, aku memilih tidur di kamar saja. Di Hard Rock kita bisa menonton band yang tampil di lobi dari TV yang live menyiarkan ke seluruh kamar. Tapi aku lebih senang dengan film-film dari channel HBO saja. Nonton sebentar, aku langsung ketiduran tanpa tahu jalan ceritanya.
Rencana check out pagi-pagi dibatalkan karena rupanya aku harus berangkat ke daerah Karang Asem di Timur pulau Bali. Ini adalah survei untuk keperluan pemotretan prewedding yang rencananya akan ambil lokasi disana. Untungnya sarapan pagi masih bisa dinikmati. Maksudnya, makan sebanyak-banyaknya karena sarapan ini sekaligus makan siang. Aku terpaksa makan banyak, kemudian tambah lagi dengan hidangan penutup yang jumlahnya sama dengan menu utamanya. Lalu tambah lagi menyantap “roti sangat lezat”, yang aku tidak tahu namanya. Bukan apa-apa sih, sayang sekali kalau harus membuang voucher makan pagi di hotel ini. Itu sama halnya dengan membuang uang 150 ribu ke tong sampah.
Perjalanan ke Karang Asem harus ditempuh selama kurang lebih dua jam perjalanan. Awalnya melelahkan. Tapi aku tidak menyesal setelah tahu keindahan Taman Soekasada Ujung yang sangat luar biasa itu. Water Palace, sebuah Istana yang dibangun semasa Raja Ida Anak Agung Jelantik. Sebagian besar wilayah istana dipenuhi kolam-kolam air dengan jembatan yang melintas dengan gabungan antara arsitektur Bali dan Eropa. Sangat artistik. Panasnya Bali tidak meredupkan semangatku mengabadikan segala keindahan arsitektur yang dibangun pada tahun 1908 itu.
Ide untuk mengirimkan foto dan artikel pada majalah wisata, menyulut semangatku untuk memotret sebaik mungkin. Bahkan sampai memfotocopy buku sejarah Water Palace untuk mendukung artikelku. Sebuah cita-cita ideal adalah karyaku dapat dimuat di majalah. Semoga segala usaha ini berbuah manis. Di Taman Soekasada hanya sekitar tiga jam saja. Sisanya adalah perjalanan bolak balik Karang Asem – Kuta yang lumayan menyedot BBM. Selama diperjalanan, seperti biasa, aku memilih tidur.
Sampai dihotel langsung makan malam. Tadinya ingin langsung tidur, tapi karena ini adalah malam terakhir, kusempatkan untuk renang di kolam renang Hard Rock yang luar biasa indah. Di kolam renang ini rasanya seperti di pantai, sebab ada pasir dan kafe yang sangat artistik tatanannya. Kita bisa pesan minuman kafe tanpa perlu beranjak dari kolam karena meja kafe sejajar dengan permukaan air kolam. Luar biasa.
Setelah pengalaman berenang malam-malam yang “menegangkan” itu, maksudnya sudah tau dingin kok malah mandi malam-malam, aku langsung tidur. Tidur lelap, sebab esok harus pergi meningggalkan Bali. Bantal legendaris Hard Rock yang konon diisi dengan bulu angsa itu, sangat membantuku lelap dan mimpi indah.
Pagi setelah semuanya selesai di packing, aku langsung check out meninggalkan hotel. Menyempatkan mampir di pasar seni untuk membeli layangan khas Bali. Bukan untuk dipakai sendiri tapi untuk keperluan pemotretan. Juga beberapa kaos yang kubeli sudah cukup untuk oleh-oleh. Selamat tinggal Bali, selamat tinggal Kuta, selamat tinggal Hard Rock, selamat tinggal duka yang sudah kutinggalkan disana. Kini aku kembali ke Jember tempat segalanya bermula.
Jelas aku akan merindukan Kuta. Tempat yang mereka bilang “amazing”, tapi dalam bahasa sederhanaku aku memilih menggambarkannya dengan; “boros banget dua hari disini”. Kuta oh Kuta…Kuta samadengan ramai. Kuta samadengan panas. Kuta samadengan cewek seksi berbikini. Kuta samadengan sunset. Kuta samadengan surfing. Kuta samadengan kacamata bermerek aspal. Kuta samadengan bakso yang rasanya sama saja dengan di Jember. Kuta samadengan keinginan untuk terus kembali kesini.
(Salah satu stock tulisan lama yang mengendap di hardisk komputer. Semoga masih bisa dinikmati. Ada sedikit sesal kenapa posting selalu berjamaah dan berjubel sekaligus. Tanpa disadari ternyata cerita ini sudah setahun berlalu.)

May 19, 2009   No Comments

Menguak Keindahan Arsitektur Bali dan Eropa di Taman Ujung Soekasada

Banyak dari kita mengerti betul peristiwa yang terjadi di masa sekarang,  apalagi berencana matang untuk apa yang akan dilakukan dimasa depan. Tapi sedikit sekali yang mau mengerti tentang apa yang terjadi di masa lalu, padahal sejarah adalah mula dari segalanya tentang yang terjadi kini dan dimasa depan. Taman Soekasada di Karangasem Bali adalah artefak dari masa lalu yang sampai kini terus bercerita kepada kita lewat keanggunan seni arsitekturnya.

Suasana damai menjadi atmosfir yang akrab terasa sejak pertama kali saya menjejakkan kaki di Taman Soekasada. Ia bagaikan magnet yang bukan saja mengajak kembali pada masa lalu, tapi sekaligus menyadarkan tentang nuansa seni dan budaya yang amat kental disetiap jengkal warisan dunia ini. Memasuki Taman Soekasada, saya seperti ditarik kembali pada kenangan dan nilai kesejarahan. Takjub melihat betapa keindahan tata letak bangunan mampu bersinkronisasi dengan alam Bali yang hangat. Kerumitan arsitektur Bali dan Eropa berjalinkelindan dengan makna filosofis dan tujuan praktis komplek bangunannya.

Jajaran kolam yang tenang mendominasi sebagian besar lahan Istana. Jembatan yang menghubungkan masing-masing sisi kolam dibangun dengan seni arsitektur yang sangat indah. Di kedua ujungnya terdapat bangunan semacam posko penjagaan yang berdiri dengan kokoh mengisyaratkan keangkuhan sebuah istana. Apalagi ukiran yang terpahat pada badan bangunan juga patung-patungnya, semuanya merupakan warisan budaya yang sangat bernilai harganya.

Memang berbeda rasanya ketika melihat keindahan Taman Soekasada dibandingkan dengan melihat keindahan pantai-pantai di Bali. Bentuk pantai dengan pasir bersihnya juga putih buih ombaknya sudah demikian adanya terbentuk secara alamiah. Tapi Taman Soekasada, adalah hasil kreasi dari rasa dan karsa penciptanya yaitu para pendahulu dan leluhur Bali yang hidup dimasa lalu. Lewat karyanya mereka bercerita pada kita tentang kedamaian dan keindahan yang dulu pernah ada, bahkan terus bertahan hingga kini.
Istana Air Taman Soekasada berdiri pada area seluas lebih dari 10 hektar. Dibagian baratnya, bukit-bukit curam menampilkan pemandangan yang sangat indah. Dari sini kita dapat menikmati pula keindahan Selat Lombok. Pada bagian mendatar dibawah perbukitan itu terdapat paviliun utama dari Istana Air itu yang tampak seperti mengambang dengan agung diatas kolam. Dari bangunan istana ketepian dihubungkan oleh jembatan yang masing-masing dilengkapi dengan pos penjagaan. Kolam-kolam lainnya membentang kearah selatan mendekati laut yang diatasnya  terdapat paviliun yang sangat estetis.
Disebelah Utara pavilun utama, terdapat air mancur yang airnya memancar dari dua makhluk didalam mitos. Airnya berasal dari mata air alami yang mengalir turun dari bukit menuju kekolam dibawahnya. Diatas tepian kanan utama, terdapat balai bundar berbentuk melingkar yang berdiri diatas tanah bertingkat yang konsentris. Dari sana kita dapat melihat pemandangan sampai ke laut. Kompleks istana ini dibuat dengan suasana tropikal, agung, namun dengan gaya santai dan sedapat mungkin menghilangkan kesan formal.

Sulit membayangkan bagaimana seorang Raja pada awal abad ke 19 yang hanya berbekal ilmu arsitektur tradisional mampu membuat karya seni semacam ini. Berdasarkan catatan sejarah sebelum 1908 Kabupaten Karangasem merupakan wilayah kerajaan. Alkisah pada sekitar Abad ke-17 Masehi, yaitu tiga setengah abad setelah kekuasaan Bali kuna dikuasai oleh Kerajaan Klungkung, Kerajaan Karangasem muncul dibawah pemerintahan I Dewa Karangamla. Dinasti Karangamla sendiri tidak bertahan lama setelah Dinasti Batanjeruk mengambil alih pemerintahan Kerajaan Karangasem.

Diceritakan setelah suaminya gugur ketika gagal menjalankan perintah penguasa Kerajaan Gelgel Raja Dalem Waturenggong, janda Patih Agung Batanjeruk dipersunting oleh I Dewa Karangamla. Saat itu I Dewa Karangamla berjanji pada janda Patih Agung Batanjeruk untuk menyerahkan kekuasaannya pada putra tirinya yaitu I Gusti Oka. Akhirnya setelah I Dewa Karangamla mangkat, kekuasaan beralih ke Dinasti Batanjeruk dengan I Gusti Oka sebagai raja.

Dibawah pemerintahan I Gusti Oka, kerajaan Karangasem terus berkembang setelah akhirnya lepas dari kekuasaan Kerajaan Gelgel. Bahkan kerajaan ini sampai dapat melebarkan wilayah kekuasannya di Lombok setelah memanfaatkan konflik yang terjadi disana antara Banjar Getas dengan Raja Selaparang maupun Pejanggik. Kerajaan Buleleng juga tak luput dikuasai oleh karajaan Karangasem setelah berhasil memanfaatkan kemelut antara Raja Buleleng Gusti Made Jelantik dengan kemenakannya Gusti Nyoman Penarungan.  Selain itu, Kerajaan Karangasem juga berhasil membangun kekuatan dengan menata balatentaranya menjadi prajurit yang tangguh.

Kerajaan Karangasem dikenal sebagai kerajaan yang sangat menghargai karya seni dan budaya. Pada masa pemerintahan I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti dibangun sebuah Puri Gede yang merupakan perpaduan seni hias Cakranegara, Lombok dan seni keramik Cina. Selain itu I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti juga membangun sebuah pesanggrahan di Manikan Ujung. Data sejarah (Muliarsa, Situs Taman Soekasada) menunjukkan bahwa Desa Ujung mempunyai potensi budaya serta alam yang subur dan indah yang menjadi dasar pertimbangan Raja Karangasem untuk membangun sebuah pesanggrahan.  Lokasi ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah taman, yang difungsikan untuk kegiatan tertentu yang bersifat dinas maupun pribadi. Inilah tempat yang kita kenal sekarang sebagai Taman Soekasada Ujung. Nama itu mengandung indikasi bahwa ada wilayah Ujung yang dianggap sangat mulia, indah dan potensial.

Taman Soekasada Ujung sendiri sebenarnya mulai dibangun secara intensif pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik. Dengan bekal pengetahuan arsitektur tradisional yang didapat para undagi Raja, I Gusti Bagus Jelantik membuat perencanaan taman Soekasada Ujung, dan sekaligus memimpin pembangunannya. Uapacara peresmian taman itu diselenggarakan pada Tahun 1921, tatapi selama empat tahun selanjutnya masih diteruskan pembangunan beberapa fasilitas lainnya.

Dari upacara Malighya yang dilaksanakan di Istana Taman Ujung memberi inspirasi kepada sastrawan Karangasem yang kemudian menghasilkan beberapa Geguritan Ligya 1937, dengan memakai beberapa tembang antara lain: sinom, durma dan ginanti. Dalam geguritan inilah Taman Ujung disebut dengan nama Taman Soekasada yang berarti taman yang selalu memberikan kesenangan lebih.

Tercatat Raja I Gusti Bagus Jelantik adalah Raja Terakhir Karangasem yang memerintah wilayah Bali Timur dari tahun 1909 sampai 1945. Invasi Belanda pada tahun 1908 menempatkan raja-raja di Bali termasuk I Gusti Bagus Jelantik sebagai bupati yang berada dibawah pemerintahan kolonial yang baru. Raja ini dikenal memiliki nilai budaya yang tinggi. Pembangunan Taman Soekasada sendiri sebenarnya adalah wujud cita rasa berkeseniannya yang bertujuan untuk menyalurkan hobi sekaligus menyediakan tempat peristirahatan dan rekreasi bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan juga masyarakat Karangasem.

I Gusti Bagus Jelantik tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan keahlian desain dan arsitektur. Pengamatannya terhadap metode para undagi kerajaan, juga dengan mendengarkan saran dari Wardoyo, seorang teknisi Dinas Pekerjaan Umum pada saat pemerintahannya, beliau mulai membangun taman indah yang juga dikenal sebagai Water Palace itu.
Pengaturan taman istana, kolam ikan, bangunan jembatan diatas kolam ikan, serta teratai serta ikan-ikan yang terdapat didalamnya tampak sangat indah. Semuanya merupakan refleksi rasa estetik dan kemampuan arsitek beliau. Ujung adalah tempat yang sangat sempurna bagi Raja untuk menjamu para tamu agung dengan menampilkan pertunjukan seni disana.

Raja-Raja Karangasem pada dasarnya memiliki kecintaan terhadap lingkungan air. Bahkan simbol bagi kerajaan Karangasem pun juga diambil dari unsur air, yaitu “Amerta Jiwa”. Amerta adalah air; Jiwa adalah kehidupan. Simbol ini tidak hanya dipatologikan pada mahkota Raja, namun juga dipresedenkan dibeberapa karya landscape maupun arsitekturnya. Semuanya memiliki integrasi nilai historis, koherensi morfologi pada arsitektur maupun water landscape gaya Eropa – Bali dengan beberapa heritage lainnya yaitu Kerajaan Karangasem, Puri Karangasem, Taman Tirta Gangga, Taman Sekuta, dan Telaga Tirta.
Water Landscape Design di Ujung dapat digambarkan sebagai suatu karya seni lukis yang atraktif, dalam satu kesatuan kanvas yang wadahnya berwujud lembah morfologi arsitektur Bali dan Eropa telah dilebur dalam beberapa komposisi goresan-goresan geometris dari garis, bidang, ruang dan titik yang artistik yang selanjutnya diintegrasikan secara naturalis terhadap elemen-elemen alam disekelilingnya. Struktur elemen-elemen alam diintegrasikan oleh sumbu-sumbu konseptual untuk menciptakan suatu organisasi yang bersifat formal, kaku, dan kenegaraan. Strukturalisme ini mempertegas kondisi bentuk simetri simetri ruang hijau. Sebaliknya secara serentak elemen-elemen alamnyapun telah mampu menampilkan karya arsitektur sebagai subyeknya. Sebuah karya arsitektur yang sangat luarbiasa tersebut akhirnya menjadi sebuah potensi dan warisan budaya yang tak ternilai. Bentangan panorama keindahan laut, hutan, gunung, dan sawah merupakan background yang dramatis bagi heritage Ujung.

Sayangnya Istana Air ini tidak mampu bertahan saat bencana alam yang mengguncang Bali. Bencana alam yang pertama adalah ketika Gunung Agung meletus dan disertai guncangan yang kuat pada tahun 1963. Ini adalah bencana terbesar yang pernah terjadi saat itu di Bali. Meskipun wilayah Istana Air tidak secara langsung dilalui lava, namun wilayah ini terkena hujan abu yang disemburkan gunung. Kerusakan yang terjadi akibat hujan abu sebenarnya dapat segera ditangani dengan mengadakan pembersihan dan penanaman kembali pada taman tersebut. Namun langkah tersebut baru dapat dilaksanakan pada akhir tahun 1970-an karena keterbatasan dana yang dimiliki keluarga kerajaan.

Kemudian bencana kedua menyusul pada tahun 1981. Gempa bumi yang terjadi beberapa kali menyebabkan meluasnya kerusakan khususnya pada jembatan dan bangunan utama. Meluasnya kerusakan ini hanya menyisakan satu pos penjagaan dan beberapa bagian jembatan yang masih tersisa saat itu. Meluasnya kerusakan ini terjadi karena tukang bangunan Bali tidak mengenal konstruksi beton bertulang yang seharusnya digunakan pada bangunan. Mungkin ditambahkan terlalu banyak air pada saat pencampuran beton yang menyebabkan beton menjadi lemah. Mungkin juga terjadi bahwa pasir laut yang dipakai tidak dicuci terlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi menyebabkan besi menjadi berkarat. Saat itu prinsip desain bangunan untuk mengantisipasi gempa mungkin belum terlalu dikenal di Bali.

Pemugaran Situs Taman Soekasada sudah dilakukan sejak tahun 1995 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali-NTB-NTT. Kegiatan pemugaran tersebut didasarkan atas hasil studi kelayakan dan studi teknis yang telah dilaksanakan pada tahun 1994-1995. Pemugaran yang dilakukan bertahap dan berlangsung sampai tahun 2000 telah berhasil mengembalikan 2 buah bangunan kanopi dan jembatan menuju Bale Gili. Sejak Tahun 2001 sampai 2003 kegiatan pemugaran Taman Soekasada penanganannya diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Karangasem melalui Proyek Pelestarian Warisan Budaya Bali dengan bantuan Bank Dunia.

Daerah Karangasem dalam peta wisata Bali adalah wilayah yang kurang di kenal publik kita sendiri. Tidak sepopoler Kuta atau Tanah Lot yang sering menghiasi halaman majalah wisata atau liputan khusus dengan foto-foto ekslusif sunset-nya. Taman Ujung Soekasada yang berjarak sekitar 100 km ke arah ujung timur Pulau Bali harus ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih 2 jam. Akses menuju lokasi wisata ini sangatlah mudah, karena jalanan menuju kesana terpelihara dengan baik. Hanya saja kita akan sedikit kesulitan mencari situs bersejarah Taman Ujung Soekasada karena minimnya tanda penunjuk jalan menuju ke lokasi tersebut.

Banyak pihak mendambakan daerah Karangasem diprioritaskan sebagai daerah wisata dengan konsep “One Stop Centre”, yaitu daerah Ujung sebagai satu daerah tujuan wisata yang memiliki banyak alternatif obyek wisata. Beberapa obyek wisata budayanya adalah kawasan pemukiman nelayan, wisata air, istana air, perhotelan di wilayah pantai, dermaga, cinderamata masyarakat setempat, dan lain-lain. Rencana penggunaan lahan sekitarnya diprediksi dapat mengintegrasi dan mengangkat rencana pengembangan kawasan pariwisata Taman Soekasada.
Seharian berada di wilayah Istana Air ini rasanya semakin menyatukan diri kita dengan lingkungan khas Bali yang ramah dan bersahabat. Sore di taman ini semakin menyenangkan karena anak-anak kecil penduduk sekitar biasanya masuk ke wilayah istana untuk bermain bersama. Nuansa keakraban yang disuguhkan mereka, menyatukan segala pesona Taman Ujung pada satu titik keindahan yang teramat nyata.

Ketenangan yang terasa disini bukan saja datang dari tatanan taman yang  indah, tetapi juga karena keramahan penduduk sekitar. Suara gemericik air menemani perenungan panjang akan makna kesejarahan situs Taman Soekasada Ujung. Seluruh bangunan seakan bicara tentang makna dibalik umur panjangnya. Seperti dongeng yang selalu saja terdengar indah meski sudah ribuan kali kita mendengarnya. Berada disini seperti kembali kepada alam dengan kestabilan rotasi emosinya. Pagi yang indah berganti siang yang terik, akhirnya mendatangkan senja yang hangat. Tenggelamnya matahari di ufuk Barat sayang sekali menjadi peluit panjang yang harus memisahkan saya dari kedamaian Water Palace yang tak terlupakan.

Note:

Foto foto lokasi Water Palace dapat dilihat di galeri foto saya pada link “karya foto saya”.

(Tulisan ini pernah dikirimkan untuk mengisi rubrik di Majalah Jalan Jalan dan Majalah Tamasya)

May 19, 2009   4 Comments