Category — Tulisan
Soundtrack Keseharian
Seperti biasanya, saya bangun jam 10 pagi. Seharusnya kata pagi tidak bisa bersandingan dengan angka 10 di kalimat itu. Tapi bagaimana lagi, lha wong bagi saya pengertian “pagi” itu tergantung siapa yang bicara. Seorang pembaca berita tengah malam mengucapkan selamat pagi pada pemirsanya, karena saat itu mungkin ia baru bangun tidur. Seorang pedagang sayur di pasar menganggap pagi adalah ketika ia mulai berbenah dan menyiapkan barang dagangannya selepas subuh. Untuk teman saya yang masih bekerja kantoran, pagi adalah ketika jam kantor dimulai. Tapi buat saya jam 12 malam, ya masih malam, belum pagi. Selepas subuh, ya masih gelap, belum pagi. Dan persetan dengan mereka yang bilang, “ayo keburu kesiangan sampe kantor” padahal waktu itu masih jam 6 lebih sedikit.
Bicara tentang pagi, saya teringat lirik lagu Peterpan yang berjudul Menunggu Pagi. Lagu ini sempat jadi soundtrack film Alexandria yang biasa banget itu. Entah mengapa lagu ciptaan Ariel itu kok bisa di matching kan dengan kisah cinta segitiga dalam film tersebut. Kata menunggu pagi dijadikan simbol bagi para tokoh dalam film tersebut, sebagai proses menunggu akhir kisah cinta yang bahagia. Meskipun cinta segitiga selalu ruwet, toh mereka yang “menunggu pagi” yakin kalau nanti suatu saat pasti ada jawaban dari jerat cinta segitiga yang membingungkan itu. Nyatanya toh, di akhir film itu, Bagas akhirnya bertemu dengan seorang wanita cantik di kereta. Terjawab sudah pertanyaan besarnya yang kita tunggu-tunggu setelah kurang lebih 1,5 jam nonton film ini.
Saya jadi ingat mbah-mbah pemikir dari kalangan ahli linguistik seperti Ferdinand de Saussure, Charles S. Pearce, Noam Chomsky, Roland Barthes, dan lainnya yang mencoba membahas tentang hakekat simbol. Simbol merupakan produk budaya suatu masyarakat untuk mengungkapkan ide-ide, makna, dan nilai-nilai yang ada pada diri mereka. Manusia cenderung menggunakan simbol dalam setiap bentuk komunikasi. Dalam musik, simbol-simbol tersebut terwakilkan dalam lirik. Setiap kata yang berjalin kelindan didalamnya, mengungkapkan suatu maksud. Apa yang ingin diutarakan oleh pencipta lagu, di buat metafornya sedemikian rupa, lalu dihubungkan dengan maksud apa yang ingin disampaikan. Dengan stock of knowledge yang kita miliki, kita bisa nyambung dengan simbol-simbol yang disampaikan dalam lagu tersebut. Nah, semakin handal sang pembuat pesan dalam memilih simbol-simbol tertentu, maka pesan yang tersampaikan semakin memadai dan dapat diserap dengan baik oleh pendengar.
Kolaborasi antara film dan musik memang tidak bisa dipisahkan. Keduanya seperti dua sisi mata uang. Setiap adegan dan babakan dalam film, perlu dilengkapi dengan pengiring yang membantu meleburkan emosi penonton dengan kisah yang diceritakan dalam film tersebut. Makanya jangan heran kalau seorang penonton tiba-tiba merasa bahagia dan kembali mengenang masa masa mudanya saat melihat Cinta dan ketiga kawannya asyik joget-joget di kamarnya dengan baju tidur dalam Ada Apa Dengan Cinta. Jangan heran kalau pasangan muda mudi yang baru saja keluar dari nonton bareng di Studio 21 jadi lebih mesra setelah nonton Heart dan menghafal Berdua Lebih Baik jadi soundtrack dalam kisah cinta mereka. Seperti kata Feist yang dikutip dalam Majalah Rolling Stone; “Hidup ini seperti film, dan apapun yang anda dengarkan dalam hidup merupakan kompilasi album soundtrack dari film itu. Apapun yang sudah saya buat dan nyanyikan adalah soundtrack hidup saya”. Menunggu Pagi yang tadinya adalah soundtrack untuk Bagas dan Rafli dan Alex, jadi soundtack untuk siapa saja yang mengalami kisah cinta segitiga. Bagaimana dengan anda?
Halah, pagi-pagi kok bicara soundtrack film. Karena biasanya kalau pagi saya memilih langsung mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku. Yah, kok malah jadi nyanyi. Tapi terus terang saja, lagu ini kok sepertinya tidak pernah bisa begitu saja hilang dari ingatan. Mungkin karena waktu kecil dulu, lagu ini selalu di cekoki setiap harinya oleh ibu di rumah, juga guru di sekolah. Akhirnya sampai sekarang terus terngiang-ngiang di kepala, terutama setiap kali bangun tidur. Lagu ini sepertinya sudah ada di kepala saya tanpa perlu tahu oleh siapa dan untuk apa lagu ini diciptakan. Saya hanya mendengar, menghafal dan kemudian menyanyikannya. Tentu saja hal ini sempat membuat saya bingung. Namun ternyata ada sebuah tradisi dalam ilmu komunikasi yang dikenal dengan istilah tradisi psikologi sosial. Pemikiran dalam tradisi ini memberi perhatian akan pentingnya interaksi yang mempengaruhi proses mental dalam diri individu. Jadi aktivitas komunikasi seperti mendengarkan pidato, dongeng, atau komunikasi antar personal lainnya, merupakan suatu fenomena psikologi sosial. Kita yang terbiasa mendengarkan bahkan dilatih untuk menyanyikannya, tanpa disadari menyimpan makna dan pesan yang terkandung didalam lagu tersebut. Mensinkronkan dengan kehidupan keseharian kita, lalu membuat sebuah kesimpulan mana yang baik dan mana yang buruk. Makanya sekarang ketika dewasa, saya kok jadi merasa bersalah kalau setelah bangun tidur langsung baca koran, nyapu lantai, atau jalan pagi ke pasar belanja jajanan pasar dengan modal cuci muka doang. Aneh kan?
Mbah Sigmund Freud pernah mengajukan beberapa tingkat-tingkat kesadaran mental, diantaranya adalah ketidaksadaran, keprasadaran dan kesadaran. Dalam konsep ketidaksadaran menurut Freud, adalah dorongan-dorongan, keinginan-keinginan, sikap-sikap, perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, atau insting-insting yang tidak dapat dikontrol oleh kemauan yang sulit ditarik ke dalam kesadaran, tidak terikat oleh hukum-hukum logika dan tidak dapat dibatasi oleh waktu dan tempat. Mbah Freud melalui kebanyakan kasus yang ditelitinya bilang kalau ketidaksadaran biasanya disebabkan oleh represi peristiwa masa kanak-kanak. Sebagian dari ketidaksadaran kita berasal dari pengalaman-pengalaman leluhur kita yang diteruskan kepada kita melalui beratus -ratus generasi. Hal ini serupa –meski tak sama- dengan padangan Carl Jung mengenai ketidaksadaran kolektif.
Kalau sehabis bangun tidur saya langsung mandi, bisa jadi itu adalah sebuah bentuk ketidaksadaran yang telah kita jalani selama usia kita hidup di dunia ini. Ada semacam kebutuhan tersembunyi yang dikonstruksikan. Kita dibuat merasa butuh untuk mandi dulu, baru melakukan aktivitas lainnya. Fungsi lagu Bangun Tidur tadi, ya untuk menyempurnakan proses konstruksi pada tataran kolektif. Sehingga konsep ketidaksadaran kolektif ala Carl Jung bisa masuk juga disini. Efek lagu tersebut yang dikenalkan ke seluruh Taman Kanak-Kanak dan di rumah-rumah keluarga Indonesia membuat kita, masyarakat, punya satu padangan tertentu (ketidaksadaran kolektif) untuk berbuat dan bertingkah laku layaknya pesan yang terkandung dalam lagu Bangun Tidur tersebut.
Huh, padahal lagu anak-anak kita kan banyak dikritik!? Mulai dari lagu Balonku, Naik Kereta Api, Naik Delman, dan lain-lainnya yang gak kalah jayus. Balonku ada lima; merah, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Kok yang meletus balon hijau. Basi banget kan? Bayangkan saja efek negatif yang mungkin tanpa kita sadari sudah tertanam di benak kita akibat logikanya dipermainkan. Mungkin, para pencipta lagu anak-anak perlu lebih teliti lagi ketika mencipta lagu yang akan dikonsumsi secara massif. Meski tidak bagus dan familiar, namun setidaknya logis dan dapat diterima nalar. Memang tidak gampang mencipta lagu untuk anak-anak. Musisi sekelas Fariz RM pun menyatakan tidak sanggup untuk membuat lagu untuk anak-anak. Ia bahkan mengakui, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menyanyi bareng Sherina, sekalipun Sherina adalah keponakannya sendiri. Ternyata dilema lagu anak-anak bisa jadi masalah yang serius juga. Saya kok jadi heran.
Setelah dipikir-pikir saya jadi takut bangun tidur terus mandi. Jangan-jangan itu alam bawah sadar saya. Sebuah ketidaksadaran yang sepertinya dilakukan dengan sadar. Mungkin lain kali saya akan bertahan dengan kebiasaan bangun tidur baca koran. Itu kan pilihan. Meski hidup itu bukan pilihan, tapi kita kan bisa memilih dalam hidup. Seperti ketika akhirnya setelah bangun tidur, saya milih langsung nonton MTV. Hayo siapa mau menyalahkan? Abisnya acaranya keren, apalagi presenter Rianti Cartwright yang manis itu. Bikin kita tidak mau beranjak melototi kotak pandora 14 inci itu. Tentu saja selain lihat wajah cantik Riati, lagu beserta klip-klip yang diputar cocok untuk menemani suasana ”pagi” saya. Apalagi sambil berdandan dan bersiap-siap pergi ke kampus. Cocok banget. Mak Nyuss kata Bondan Winarno.
Sampai di kampus, ada seorang teman yang gayanya mirip (dimirip-miripkan) Giring vokalis handalnya Band Nidji. Jangan-jangan dia berdandan begitu karena melewatkan ritual pagi yang sama dengan saya, ”sambil nonton MTV”. Obsesi selebritinya bereaksi sedemikian rupa, sehingga ingin tampil layaknya penyanyi terkenal. Padahal konteks-nya kan berbeda. Secara, dia sekarang ada dikampus, dan Nidji bergaya dengan syal melingkar di lehernya ada di panggung konsernya. Halah, capek deh. Kenapa sih kok banyak muda-mudi yang sedemikian terobsesi dengan artis?
Saya jadi mengkhawatirkan media bernama televisi yang sehari-harinya saya tonton. Lewat media kita melihat realitas orang, benda, tempat ataupun hal lain yang tidak atau belum pernah kita kunjungi. Dengan keterbatasan manusia yang tidak bisa sepenuhnya mengalami beragam jenis pengalaman hidup orang lain, menjadi sosok yang berbeda dari dirinya, menimbulkan sebuah perasaan dalam dirinya untuk setidaknya berusaha menjadi atau setidaknya merasakan pengalaman orang lain. Sebuah usaha untuk meniru.
Lebih jelasnya mungkin kita bisa merujuk pada teori representasi ala Stuart Hall. Teori ini secara khusus melihat pada bagaimana cara-cara media memberikan makna-makna pada kelompok-kelompok budaya, mengkonstruksi identitasnya dan memberikan pelbagai makna terhadap produk-produk yang digunakan oleh kelompok tersebut. Media, lewat iklan yang menjadi motor penggerak terbesar dalam bisnis media, mengenalkan pada masyarakat produk-produk yang ”sebaiknya” dimiliki atau dipakai oleh seseorang sebagai penentu identitasnya. Lewat video klip yang tayang di MTV, Giring mencoba menunjukkan identitas kelompoknya yang bernama Nidji itu. Media mengemas dan menampilkannya sedemikian rupa kepada masyarakat. Menyiarkan keberangkatan mereka ke Paris sebagai perlambang suksesnya band ini. Hal yang sama media lakukan terhadap Slank yang rekaman dan Dewa yang shooting video klip di Amerika, atau Padi yang pergi ke Inggris untuk membuat video klip dan iklan Mie Sedap. Media berpesan ”makanlah mie ini”, maka kamu adalah seorang anak muda yang gaul dan ”seperti” Piyu dan kawan-kawannya. Apa yang direpresentasikan kepada kita melalui media adalah makna-makna tentang dunia dan cara memahami dunia. Jadi, kita harus mahfum bahwa mie instan adalah makanan yang layak konsumsi karena toh artis pun makan mie tersebut (malah diluar negeri). Kekhawatiran akan kandungan lilin dalam mie tidak usah lagi dipikirkan karena memang tidak ditampilkan.
Sekarang jeans gombrong ala penyanyi Hip-Hop yang bisa untuk tempat menculik bayi, ataupun celana ”pensil” yang lubang bawahnya kecil sekali sehingga kalau suatu saat kaki kita bengkak sedikit saja jelas harus beli celana baru, laris sekali dipasaran. Siapapun merasa harus punya dan memakainya kapanpun dimanapun. Sekedar untuk menegaskan identitas mereka. Ini saya anak Rock and Roll, inilah saya generasi Punk yang penuh idealisme, dan inilah saya Rapper yang doyan dance. Toh konsep identitas merujuk pada pemahaman tentang citra diri dan kepemilikan kelompok yang dianut oleh anggota budaya dan yang ditingkatkan oleh konsumsi produk-produk budaya dan representasi melalui media. Aduh kok jadi capek nonton televisi dengan kesadaran penuh semacam ini. Saya jadi selalu curiga dengan media. Kalau sudah begini, saya selalu ingat sebuah buku yang berjudul ”Matikan Televisimu”. Mungkin itu memang yang terbaik. Matikan televisi dan persetan dengan mereka semua rangkaian gambar elektronis yang hidup didalamnya. Tapi apakah kita sanggup?
Melihat ini semua, saya hanya geleng-geleng kepala melihat teman sekampus saya yang ”mirip” Giring tadi. Apalagi setelah saya melihat gaya dan penampilan saya sendiri yang tidak jauh berbeda, saya tambahkan sedikit lagi gelengan kepala saya. Akhirnya gelengan itu semakin banyak dan saya kembali berucap ”Capek deh…”. Ternyata memang sulit menghindari terkaman media dengan konstruksi akan ”identitas seharusnya” itu. Dengan legowo akhirnya saya mencoba bilang pada diri sendiri; saya juga manusia biasa.
Sambil mencari cari-cari apa yang bisa dilakukan dengan itu semua, saya jadi teringat abang Iwan Fals. Generasi musik jalanan yang sukses dengan tembang-tembang kritiknya. Saya mencoba memilah nilai-nilai yang coba diutarakan dalam ”gerakan perlawanan” ala Iwan Fals tersebut. Iwan Fals sebagai produk budaya, muncul dipermukaan. Mengulang kembali gerakan-gerakan yang pernah terjadi sebelumnya. Seperti John Lennon yang dikecam karena kunjungannya ke Amerika karena dikhawatirkan membuat Nixon tidak bisa lagi terpilih jadi presiden Amerika. Seperti juga semua teman-teman Flower Generation yang susah payah mengibarkan bendera perdamaian. Saya jadi berfikir, mungkin inilah yang bisa dilakukan dengan identitas yang kita miliki. Kita yang Rock and Roll bersikaplah seperti Lennon dalam ”Imagine”-nya yang mengidamkan kebersamaan. Kita yang Hip-Hop bersikaplah seperti Black Eyed Peas dengan ”Where Is The Love”-nya yang cinta damai. Kita yang Blues bersikaplah seperti BB King dalam ”There Must Be A Better World Somewhere”-nya. Kita yang Jazz bersikaplah seperti Jamie Cullum dalam ”21th Century Kid”-nya yang peduli terhadap generasi muda. Kita yang Punk bersikaplah seperti Offspring dalam ”Why Don’t You Get a Job”-nya. Kita yang rada cuek dan ”nggembel” bersikaplah seperti Iwan Fals dalam ”Tikus Kantor” nya yang jijik dengan kelakuan birokrasi ngawur, atau Remy Silado dengan ”Bromocorah”-nya yang mengkritik para koruptor. Dan ”kamu” yang Dangdut (karena gue enggak) bersikaplah seperti Ari Wibowo dalam ”Singkong dan Keju” yang begitu polosnya mendambakan kesederhanaan.
Saya jadi yakin dengan identitas yang saya pilih sekarang. Saya memang jadi lebih pasti dalam melangkah. Seperti bilang, ”Hey saya punya identitas. Lihatlah saya. Saya ber-identitas dengan kesadaran penuh”. Semacam stimulus untuk bertindak dengan idealisme yang positif. Betapa berutungnya kita ternyata. Saya yakin kehidupan diluar kampus, apapun itu bisa berdampak positif terhadap –setidaknya- diri saya pribadi. Teman saya ”Giring wanna be” tadi akhirnya ikutan senyum-senyum. Entahlah, mungkin ia sudah tercerahkan. Pulang dari kampus saya berjalan diantara etalase toko-toko yang menjual assesories untuk bergaya layaknya artis Ibukota. Tanpa ragu saya membeli beberapa ”identitas”, kemudian langsung berangkat ke ”kantor”. Kata terakhir itu harus pakai tanda kutip, karena kantor saya sebenarnya sebuah studio foto yang jam kerjanya paling santai di dunia. Yah, bagaimana lagi, pekerjaan sebagai fotografer toh berkaitan dengan kegiatan berkesenian. Tidak bisa dipaksakan. Meski mood kadang-kadang memang harus dicari, tapi kalau sedang tidak ada, ya tetap saja gak bisa kerja.
Biasanya saya mencari-cari mood dengan mendengarkan lagu-lagu yang saya sukai. Komposisi yang bisa membangkitkan semangat dan gairah. Sedikit goyang jempol kaki, biasanya sudah cukup. Yang penting suasananya ”dapet”. Seperti juga ketika memotret klien untuk sesi prewedding. Penting sekali berhubungan dengan klien secara luwes dan tidak kaku. Harus nyambung irama emosinya antara fotografer dan model. Biasanya saya memutar lagu-lagu yang easy listening, atau gampangnya, dikenal banyak orang. Kalau model yang dipotret bisa bersikap rileks, sebenarnya tugas fotografer sudah dimudahkan 50 persennya. Fenomena ini memang sepintas tidak terasa. Tapi kalau kita mau perhatikan sedikit, sebenarnya apa yang seseorang dengarkan ketika melakukan aktivitas tertentu sangat mempengaruhi kualitas tindakan-tindakannya. Artinya musik berpengaruh secara psikologis terhadap seseorang. Ada sebuah kesamaan emosional yang nyambung antara tiap detak beat nya dengan detak jantung kita.
Jenis musik yang dipilih memang bergantung pada siapa yang mendengarkan. Namun secara umum jenis musik apapun memang lebih dapat berperan memberikan stimulus relaksasi. Makanya, sekarang ini, musik banyak digunakan untuk terapi terhadap pasien-pasien di rumah sakit. Menurut penelitian yang sudah dilakukan, syaraf untuk mendengarkan musik dan syaraf perasa itu sama, karena sama-sama menghubungkan syaraf di otak dan di sumsum tulang belakang. Pada saat merasa sakit (misalnya saat proses pembedahan) saraf perasa sakit ini menjadi sibuk antara merasakan sakit dan mendengarkan lagu. Akibatnya, pasien tidak merasa sakit ketika pembedahan berlangsung. Maksudnya, rasa sakit yang diderita bisa direkayasa oleh si musik menjadi hilang.
Mungkin yang sudah banyak dikenal sejauh ini adalah musik-musik klasik, seperti komposisi Mozart, yang banyak digunakan untuk terapi terhadap seorang Ibu yang sedang hamil. Rahasianya musik jenis ini sebenarnya terletak pada ketukan lagu yang seirama dengan irama detak jantung. Saya jadi heran, orang seperti Wolfgang Amadeus Mozart yang hidup pada abad ke-18 itu kok bisa-bisanya mengaransemen lagu yang efeknya sedemikian hebat. Lihat saja album Mozart yang dijual di toko toko kaset sekarang. Diantara yang saya tahu, album yang kini banyak beredar dipasaran berjudul Before You Were Born atau Before You Workout. Mungkin masih banyak lagi judul-judul lain yang sengaja dibuat kedengaran praktis.
Saya jadi yakin, pekerjaan fotografi pun, kalau didukung dengan musik hasilnya pasti lebih memuaskan. Bisa-bisa profesi fotografer saya akan berjalan beriringan dengan kebiasaan saya mengkoleksi beragam jenis musik. Bahkan saat ini saja, koleksi lagu yang tersimpan di hardisk komputer saya sudah mencapai 37 Gigabyte. Dan saya yakin koleksi ini akan terus bertambah. Weleh weleh… . Tapi semoga saja saya tidak beralih profesi jadi musisi. Sepertinya lebih menyenangkan jadi fotografer saja. Fotografer itu seperti malaikat ”pembunuh waktu”. Membekukan waktu sepersekian detik dengan tombol shutter yang maha kuasa. Seketika mengabadikan moment dengan segera, sesaat setelah bunyi klik, mencipta masa lalu yang hidup dalam selembar foto. Makanya saya suka pekerjaan ini. Memotret masa muda orang-orang yang akan menjadi tua. Merekam moment yang mungkin tidak bisa lagi diulang untuk selamanya. Memberi makna pada hidup seseorang yang mungkin akan dikenangnya suatu saat nanti. Mengasyikkan. Mau?
Hal lain yang membuat saya suka dengan pekerjaan ini adalah banyak waktu luang yang bisa saya manfaatkan untuk hunting motret bersama teman-teman. Jalan ke suatu tempat dan mengabadikan kejadian atau lokasi tertentu yang indah. Atau kalau sedang ada moment konser artis-artis dari Jakarta, biasanya saya juga datang untuk mengambil beberapa foto. Pada saat memotret sebuah konser musik, inilah terapi yang sesungguhnya bagi saya. Semacam ada bius yang membuat pekerjaan memencet tombol shutter itu menjadi lebih mengasyikkan.
Ditengah riuhnya penonton yang bergoyang dibawah panggung, seringkali tanpa saya sadari jempol kaki pun ikut bergoyang. Malah kadang-kadang beberapa jepretan terpaksa meleset atau blur karena tangan juga ikut bergoyang. Dalam moment-moment begini saya jadi berfikir tentang satu hal. Bagaimana seorang artis yang tampil diatas panggung membawakan musiknya, dapat membius sekian banyak orang dalam sebuah lingkaran pentas. Ada semacam denyut kolektifitas. Hampir semua penonton paham lirik dan temponya, sehingga bisa berjoget dan bernyanyi bersama. Industri rekaman musik, artis, para kru tour, berkolaborasi dengan sponsor yang memenuhi lapangan dengan spanduknya, berhasil menyajikan hiburan massif yang membuat penonton histeris.
Ada perasaan yang berbeda memang ketika menonton sebuah konser musik dibandingkan dengan mendengarkan langsung dari kaset, CD atau pemutar file di komputer. Kita berada dalam keadaan senang dan bahagia, ketika selera yang kita sukai ternyata disukai oleh orang lain. Merasakan bahwa kita tidak berbeda dari yang lain. Hal yang sama juga kita rasakan saat mendengarkan radio. Meski beragam jenis piranti pemutar lagu sudah banyak tersedia di pasaran, tetap saja radio bertahan sebagai hiburan yang disukai oleh masyarakat. Meski dengan pemutar lagu yang sifatnya sangat personal itu kita bisa seenaknya memilih-milih lagu yang kita sukai, tapi tetap saja kita masih mendengarkan radio atau datang ke konser musik seorang artis tertentu. Kita seperti perlu meyakinkan pada diri sendiri untuk tahu bagaimana selera masyarakat kebayakan sekarang ini. Sepertinya hidup dalam sebuah kelompok budaya yang sama, dengan selera yang sama, adalah wajib hukumnya. Ini seperti tesis yang menyatakan bahwa manusia butuh untuk hidup berkelompok. Selalu bergantung pada orang lain. Karena menjadi berbeda, bisa jadi dianggap gila. Selera kita akhirnya ditentukan oleh selera masyarakat kebanyakan. Apalagi ada media yang berperan mendorong terjadinya budaya populer dalam masyarakat. Sekarang saja band-band terkenal dari luar negeri sudah banyak menggelar konsernya di tanah air. Publikasinya gila-gilaan, sampai-sampai spanduk besar konser My Chemical Romance, Muse, Saosin, dan Black Eyed Peas, saja terpampang di bundaran DPRD kota Jember yang notabene jaraknya lebih dari 1000 klimoter dari Jakarta. Selera masyarakat kita sekarang adalah selera global. Seleranya pemuda-pemudi Jember sama dengan seleranya muda-mudi Amerika sono. Negara-negara maju selalu bisa menentukan ”harus apa” dan ”harus bagaimana” kita. Fenomena masyarakat modern yang central to periphery jadi fakta dalam keseharian yang seringkali tidak disadari. Semua serba ikut-ikutan. Diameter pengaruh budaya Amerika yang notabene sebagai pemenang, semakin membesar dan terus meluas sampai titik pada lingkaran terluarnya.
Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peranan media global lintas negara. Acara-acara dari televisi kabel yang kini dinikmati oleh banyak masyarakat Indonesia, turut membentuk selera masyarakat dengan budaya global yang terasa lebih ”keren” dan lebih ”gaul”. Media sesuai dengan sifatnya yang kapitalistik tentunya memihak budaya dominan, karena ia butuh terus bergerak dalam masyarakat dengan berkesinambungan dan stabil. Akibatnya media massa yang notabene merupakan gelanggang lalu lintas ide, secara sepihak menyeleksi setiap tayangan dengan selera mereka. Masyarakat tidak diberi akses untuk menentukan apalagi ikut terlibat dalam proses penentuan tayangan. Apa yang tersaji itulah yang harus dikonsumsi. Akibatnya masyarakat tidak bisa memilih. Istilah spiral kebisuan, yaitu manakala informasi yang ditampilkan terus menerus, meskipun salah sekalipun akan dianggap sebagai sesuatu yang benar, terjadi dalam masyarakat media kita sekarang ini. Hayo lho?
Ah sudahlah, toh kita hanya perlu menikmati. Kebanyakan mikirin itu, kok rasanya hidup ini jadi gak enjoy. Tapi kalau gak dipikirkan? Jangan-jangan kita bakal cuma jadi budak modernitas? Entahlah. Saya memilih memotret konser saja. Enjoy… Merekam moment-moment puncak artis-artis idola saat manggung, teriaknya, keringatnya, histeria penonton, lalu pulang membawa kepuasan bathin. Upload foto-foto mereka di Fotografer.net dan berbagi pengalaman dengan member fotografer dari seluruh Indonesia. Terus belajar memotret dari mereka yang lebih senior dan mengajarkan sesuatu pada mereka yang lebih junior. Cukup menyenangkan.
*Penulis adalah mantan Redaktur Artistik pada periode 2004- 2005 dan Pemimpin Umum Majalah Mahasiswa Tegalboto periode 2005 – 2006. Saat ini bekerja sebagai fotografer dan menyukai musik seperti manusia biasa lainnya.
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Tegalboto Edisi Musikografi 2008
May 19, 2009 No Comments
Pelajaran Memotret “Hidup” ala Wendra Ajistyatama
Dia sederhana secara penampilan, juga sederhana dalam pemikiran. Bicaranya perlahan, malah lebih sering diam untuk mendengarkan orang lain. Ia bahkan tidak pintar secara akademis, apalagi memahami banyak wacana ruwet yang sering bikin pusing kepala. Tapi di UKPKM Tegalboto, dia adalah guru bagi saya, juga ‘suhu’ bagi banyak teman-teman lain yang menyukai fotografi.
Wendra Ajistyatama. Adalah kata pertama yang saya kenal dari seabrek istilah fotografi yang ada. Seolah kata-kata Wendra Ajisytatama, sudah ada lebih dulu dari kata shutter, speed, diafragma, komposisi, pencahayaan, ruang tajam, lubang jarum, dan ratusan istilah lainnya dalam dunia fotografi. Bukan karena ia pandai segalanya dalam urusan fotografi, tapi lebih karena dialah figur yang bisa mengajak kami anak-anak fotografinya, untuk terus menekan tombol shutter tanpa mau menyudahi pelajaran memotret.
Saat kamera digital belum menjamur seperti sekarang, Wendra Ajistyatama, lulusan SMA “bukan favorit” Jember, sudah memutuskan untuk belajar fotografi. Berbekal kamera Nikon FM manual warisan ayahnya ia memulai perjalanan fotografinya secara otodidak. Segudang seminar dan lomba foto di berbagai kota diikutinya. Sebut saja Monochrome Photography di Surabaya, Penggunaan dan Produksi Slide Warna, Workshop Kamera Lubang Jarum di kota Malang, Seminar Foto Jurnalistik Nafas Sebuah Perjalanan Jakarta, Kontes Rally Foto Surabaya dan Malang, Fotografi Jurnalistik di Solo, dan beberapa Pelatihan Jurnalistik di kota-kota lainnya termasuk Makassar.
Wendra adalah “semangat”. Itulah kata yang dapat melukiskan bagaimana Wendra bekerja dan berkarya. Saya ingat bagaimana seorang Wendra tanpa uang dikantong mengidam-idamkan sebuah kamera digital berharga belasan juta. Dan yang paling mengherankan adalah, sebelum akhirnya ia benar-benar memiliki sebuah Digital Camera Nikon D70s, Wendra sudah memiliki manual book kamera digital tersebut setahun sebelumnya dengan mendownload-nya selama berhari-hari di warnet. Sebuah kepercayaan diri yang luar biasa. Ia sepertinya sengaja bilang pada dirinya sendiri bahwa, “suatu saat aku akan memiliki kamera ini, dan keseriusan ini adalah saldo awalnya”. Kini, dengan kamera canggihnya, Wendra sudah memenangkan beragam lomba dan memajang karya-karya fotonya di berbagai media.
Hasil jepretan Wendra tampil di halaman shutter selama 5 Edisi Majalah Tegalboto, dimuat sebagai foto terbaik versi Majalah Foto Video terbitan Jakarta untuk distribusi seluruh Indonesia, menghiasi halaman sebuah buku penelitian Bapak Ayu Sutarto berjudul “Saya Orang Tengger, Saya Punya Agama”, dan di sebuah Jurnal Perempuan Desantara berjudul Penari Gandrung dan Gerak Sosial Banyuwangi, bahkan tiga karyanya terpilih untuk dipamerkan di gedung UNICEF Paris, Perancis untuk tema “Beauty and Beyond”.
Lebih dari itu Wendra adalah sosok dengan jiwa dan talenta menjadi juara. Banyak karya-karyanya memenangi segudang lomba fotografi di negeri ini bahkan di negeri orang. Juara I dan II direbutnya dalam Lomba Fotografi Jurnalistik Nasional di Makassar, Finalis Lomba Foto Lingkungan Universitas Surakarta, Juara I pada 2006 dan Juara II pada 2007 di Kontes Foto Tahunan Art Fair “Filmologic Photology” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Juara I Lomba Foto Editing dalam PEKSIMINAL Jawa Timur, terpilih pada “Photo of The Month Contest” Majalah Chip Foto-Video Edisi 05, Agustus 2006, dan namanya masuk dalam nominasi 15 besar dunia “Photographer of the Year” School Of Photography.
Lalu, jika mereka bertanya pada saya siapa Wendra Ajistyatama sebenarnya? Maka saya akan menjawab dengan penuh kepastian “dialah sebuah novel dengan kisah seru dari awal hingga akhirnya”. Cerita tentang hilangnya kamera digital pertama kesayangannya menjadi bukti jatuh bangunnya seorang Wendra menjalani hari-hari fotografinya. Banyak alat fotografi yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun terpaksa dijual untuk membeli kembali sebuah kamera baru. Kini, dengan nafas tersengal-sengal ia masih saja terus bersaing dengan kami anak-anak fotografinya untuk berkarya lebih baik, dan lebih baik lagi.
Pada 24 November lalu, akhirnya Wendra Ajistayatama dinobatkan menjadi wisudawan Universitas Jember. Sebuah status yang memaksanya untuk siap bertarung menentang hujan dan badai realitas. Bapak Pewarta Foto Tegalboto itu kini harus bergabung dengan ribuan wisudawan dari seantero negeri ini, untuk bersaing seperti dahulu ketika ia berkompetisi dan akhirnya memenangkan lomba. Berebut lahan kerja untuk hidup dan menghidupi. Selamat jalan Wendra Ajistyatama, kami ada dibelakangmu. Berkaryalah terus dan teruslah mengispirasi. Memotretlah terus dan teruslah memotret hidup.
Tegalboto, 2007
(Saya persembahkan untuk Wendra Ajistyatama yang telah berjasa mengenalkan saya pada dunia fotografi. Tulisan ini pernah dimuat pada Bulettin Tegalboto untuk menghormati momen kelulusan Wendra sebagai Sarjana Sastra pada November 2007.)
May 19, 2009 2 Comments
Manusia dan Keinginan
Oleh: Romdhi Fatkhur Rozi Entah menjadi sesuatu atau menjadi seseorang. Kita, manusia, sekarang ini hidup dalam sebuah dunia yang serba menuntut. Memaksa untuk berpacu dalam logika bolak-baliknya zaman atau berdiam diri menyaksikan perubahan yang semakin kencang. Nyaris mustahil di zaman sekarang ini ada manusia yang hidup tanpa keinginan apapun. Setidak tidaknya untuk sebuah hidup yang lebih baik. Tentu saja bukan? Perubahan zaman yang semakin keras dari hari ke hari meninggalkan begitu saja siapapun yang tidak ready teknologi, tidak gaul, tidak keren, tidak gaya, tidak modis, tidak kaya, tidak terkenal, tidak mampu bermimpi dan tidak punya keinginan!!! Hidup sudah layaknya film bioskop. Akan dimulai tanpa menunggu penontonnya. Siapa yang bisa menuntut? Karena memang sudah seperti itu aturan dunia ini. Kalau boleh kompromi, seharusnya kita boleh memberikan tawaran terhadap tuntutan-tuntutan itu. Tapi rupanya kita memang tidak hidup di “dunia seharusnya”. Mau apa lagi?! Sejak kecil kita dididik untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit. Sebuah langkah kecil untuk menjadikannya benar-benar milik kita. Menjadi guru, dokter, pengusaha, tentara, artis, pilot, sampai astronot yang -maaf- masih mustahil untuk orang-orang Indonesia. Orang tua dan guru-guru kita tidak henti-hentinya mendorong untuk menjadi seseorang atau menjadi sesuatu itu. Mati-matian mendidik dan membiayai, agar dapat sampai ke negeri Cina. Sebuah pepatah agung nan mulia bagi bangsa ini yang masih harus banyak belajar, bahkan sampai ke negeri orang. Bangsa Indonesia merdeka dengan sejuta keinginan besar. Soekarno dengan “Mercusuarnya” ingin menjadi pemimpin yang merubah wajah bangsa ini di hadapan para pemimpin bangsa lain. Soeharto dengan Repelita, swasembada pangan, dan merdekanya iklim investasi, tidak lain dan tidak bukan adalah demi mencapai kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Soe Hok Gie, Chairil Anwar, Mohammad Hatta, Jenderal Soedirman, Nasution, dan sederet nama lainnya berjuang untuk perubahan. Berjuang dengan keinginan yang menggebu-gebu demi sebuah hidup yang lebih baik. Lihat saja Alexander The Great yang akhirnya mampu menguasai separuh bumi ini. Wilbur Wright yang bisa terbang, dan Yuri Gagarin yang akhirnya bisa mendarat di bulan. Bill Gates yang menguasai teknologi, atau bahkan Muhammad dan Yesus Kristus yang berhasil menyebarkan pengaruhnya nyaris tanpa ada satu pun yang dapat mengalahkan kemampuan mereka ini. Sejak dahulu kita, manusia, memang hidup dalam banyak sekali keinginan. Keinginan, keinginan, dan keinginan! Memiliki keinginan besar seperti memanggul batu gunung sambil bersepatu roda, seperti dunia akrobatik, butuh keahlian dan keberuntungan. Inul Darastista seorang gadis dari dusun kecil di Pasuruan, telah meletakkan dasar bagi proses pendewasaan berfikir bangsa ini. Membuat pusing para pemikir humaniora tentang perubahan budaya dan pergeseran intelektual seni Indonesia. Inul tanpa disadari secara mendadak mengobrak-abrik pandangan para pengamat budaya bangsa ini ditengah ketidakmampuan mereka menjelaskan proses globalisasi. Satu hal yang mengawali semuan itu adalah, keinginan seorang Inul kecil dahulu, untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Sekali lagi semua diawali oleh sebuah, keinginan!!! Sayangnya, manusia dengan egoismenya kadangkala melupakan kodrat dan keterbatasannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Nalar dan nalurinya seringkali melewati batasnya yang teramat rapuh. Menciptakan nafsu yang sulit dibendung ketika sudah terbentur dengan hasrat keduniawian. Bahkan melupakan esensi kehidupan yang sebenarnya untuk berbahagia hanya dalam batas lingkaran kemanusiaan. Tidak lebih dari itu. Tapi saat ini kita sudah tidak boleh menyesal dengan banyaknya korban Bom Bali, Bom Makassar, Pemberontakan GAM, Gerakan Papua Merdeka, Peristiwa Tanjung Priok, Malari, Pemberontakan PKI, Penyerangan WTC, Perang Irak, sampai peracunan Munir atau bahkan penembakan Kennedy. Keinginan yang begitu besar, hanya menjadi racun dan virus mematikan bagi orang lain. Keinginan nyaris selalu berbenturan dengan kenyataan, tapi itu tantangan. Kekuatan manusia menjawab kesulitan itu dengan caranya yang paling unik. Namun keinginan-keinginan manusia biasanya melenceng dari realitas yang ada disekelilingnya. Sebagai contoh, banyak orang Indonesia yang berebut ingin tercatat dalam Museum rekor Indonesia. Sekedar untuk dapat terkenal yang katanya juga tercatat oleh sejarah. Kita semua pernah dengar Mie Instan terbesar didunia dibuat di Indonesia, tapi pada saat yang bersamaan di NTB anak-anak Indonesia banyak yang menderita busung lapar. Pohon Natal terbesar pun, yang konon merupakan simbol kedamaian, dibuat di Indonesia. Tapi pada kenyataannya, kedamaian masih sulit dicari di tanah air ini. Yah, kemakmuran dan kedamaian di Indonesia sepertinya memang baru sebatas simbol. Berapa banyak kolom berita kriminal di Indonesia diisi oleh Ibu-Ibu yang menjadi pelaku tindak kejahatan. Sanking pinginnya punya –maaf- bra seperti artis idolanya, seorang Ibu rela mencuri di sebuah supermarket. Atau mahasiswi-mahasiswa cantik yang justru menjadi “SPG plus-plus” untuk sekedar bergaya dan membeli mimpi trendy-nya. Belum lagi banyaknya pelajar SMP yang terlibat dalam jaringan narkotika, hanya untuk mendapatkan uang demi memuaskan rasa sakaunya akan barang haram tersebut. Dalam kehidupan yang semakin semrawut ini, berbagai macam keinginan tumbuh dalam benak kita. Inginnya pendidikan di Indonesia setara dengan pendidikan di luar negeri. Universitas di Indonesia barlomba-lomba membangun fasilitas selengkap-lengkapnya. Padahal anggaran yang disediakan negara tidak mencukupi untuk memenuhi tuntutan zaman. Mereka kemudian menarik bantuan dari orang tua murid dengan angka yang mencapai enam bahkan delapan digit. Bukankah ini merupakan ironi ditengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang terinfeksi kemiskinan? Sebuah pertanyaan yang seharusnya dilayangkan adalah, apakah keinginan mulia tersebut telah dibarengi dengan semangat belajar yang juga menggebu-gebu dan menghasilkan lulusan yang berintelektual kritis? Sekarang ini semua hal bisa menjadi komoditas, termasuk keinginan. Berbagai macam kontes digelar, dari kontes model, menyanyi, sampai kontes lawak. Siapapun orang Indonesia yang ingin cepat terkenal boleh mengikuti kontes-kontes yang digelar di hampir semua stasiun televisi itu. Ribuan orang terekrut menjadi peserta audisi. Banyak diantaranya yang rela meninggalkan kewajibannya hanya untuk sekedar ikut audisi dan belum tentu lolos. Alasannya coba-coba, siapa tahu bisa jadi jebolan akademi dunia hiburan. Realitas ini adalah bukti keinginan mayoritas masyarakat Indonesia untuk mendapatkan segala sesuatunya secara instan. Merasakan senang, terkenal, kaya, dan mati masuk surga. Yup, persis seperti lirik lagu wajib “anak-anak” Indonesia. Pemahaman yang dewasa tentang bagaimana mewujudkan keinginan haruslah dimiliki secara mutlak oleh kita sebagai manusia. Akal, pikiran, dan hati sudah seharusnya berjalan beriringan. Mengalahkan egoisme dan nafsu yang hanya berbuntut pada chaos dan kekacauan. Akal menjadi sensor untuk mencari jalan keluar, pikiran menjadi kontrol kesadaran, dan hati menjadi penyejuk yang handal untuk mengalahkan nafsu. Manusia adalah makhluk paling hebat dimuka bumi ini. Kenyataan yang sudah tidak terbantahkan. Diri sendirilah yang menjadi musuh utama umat manusia sejak dahulu kala. Dan hanya sedikit sejarah yang mencatat manusia mampu mengalahkan dirinya sendiri. Segala macam kesuksesan, memang harus diawali dengan sebuah keinginan. Tapi hati-hati, seperti sebuah lirik terkenal yang kita semua mungkin tahu, keinginan juga adalah sumber penderitaan. Semakin besar keinginan, semakin besar peluang sukses terbuka, semakin besar pula tekanan yang akan menjadi sumber penderitaan itu. Tulisan ini pernah di terbitkan di Media Tegalboto Pos Tahun 2006.
May 19, 2009 No Comments
Kartu Plastik Bersaldo Itu…
Sejak ditemukannya uang, manusia kini selalu resah dan resah. Membeli menjadi cara wajar mencari kebahagiaan yang nyaris sulit didapat.
Oleh: Romdhi Fatkhur Rozi
Sekarang ini, dompet kita sudah tidak lagi tebal karena uang yang menumpuk. Alat transaksi paling populer itu tergantikan oleh kartu plastik dengan sandi dan saldo virtual yang tercatat lengkap di lempengan hitam dibagian belakang kartu plastik tersebut. Kartu ATM, Kartu Debet, Kartu Kredit, Kartu Members Departemen Store, sampai Members Hotel dan kartu-kartu plastik lainnya yang sama sekali tidak mencantumkan gambar pahlawan atau tempat pariwisata terkenal Indonesia. Kartu-kartu tersebut kini berlogo Bank-Bank Indonesia yang siap menjadi asisten pribadi pencatat keuangan anda. Laporan yang dibuat akan sangat detail, dalam jalinan angka di buku tabungan atau lembar tagihan yang siap diantar kerumah oleh seorang kurir Bank.
Bayangkan ketika kita mendapatkan gaji dalam bilangan rupiah virtual yang tidak terlihat. Gaji perbulan itu ditransfer oleh pemerintah melalui Bank yang menjadi sindikasi Lembaga tempat kita bekerja. Setelah bilangan angka itu mengisi saldo buku tabungan kita, maka beberapa skala kebutuhan yang antri sudah siap dibeli.
Sesampainya di toko, kita bisa ambil beberapa kebutuhan yang kita perlukan. Kemudian mengurus transaksi di kasir, cukup dengan menyerahkan kartu plastik berlogo Bank yang tidak ada gambar pahlawan dan tempat pariwisata terkenal di Indonesia itu. Transaksi selesai tanpa perlu mengeluarkan lembaran uang yang sangat beresiko kecurian, penularan penyakit, sobek karena tercuci, atau tertelan anak-anak kecil yang entah iseng atau lapar.
Kartu plastik menjadi asisten yang secara otomatis mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan kita. Lembaran rupiah yang sekian beresiko itu kini sudah tergantikan dengan angka angka yang dapat berpindah pindah melalui jaringan satelit serba canggih. Dalam rangkaian digit, semuanya terkesan semu. Sensasi dan produk yang dibeli, konkret.
Dengan Kartu Plastik maka semua menjadi mungkin. Berbagai transaksi dapat dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai luar negeri. Pihak Bank semakin mamanjakan nasabahnya dengan berbagai fasilitas, bonus dan undian. Mereka dengan senang hati memberikan poin-poin kepada nasabah, yang jika sudah terkumpul dapat langsung dilotrekan. Bila Honda Jazz, Mercedes, BMW, sampai Jaguar tidak kesampaian untuk dibeli, mungkin undian poin tadi bisa jadi satu langkah menuju realisasi. Lalu apa yang tidak mungkin?
Kartu plastik tidak mungkin digunakan di pelosok desa. Kartu plastik hanya dapat digunakan di toko-toko yang terpampang logo Bank di depannya, dan didukung oleh koneksi via satelit yang canggih. Kartu plastik hanya dimiliki oleh orang yang berkecukupan secara ekonomi terutama di kota kota besar, tempat perputaran uang berjalan dengan cepat. Bukan di desa, tempat orang bertransaksi jual beli sapi dengan tawar menawar seharian.
Kemudahan yang dirasakan oleh mayoritas penduduk kota secara tidak langsung berdampak pada semakin cepatnya perputaran uang. Pengguna kartu-kartu plastik yang bertambah setiap tahun bisa saja membeli barang dengan berhutang, seperti apa yang difasilitasi oleh kartu kredit. Berangkat hanya bermodal kartu plastik di dompet, lalu comot sana sini apa saja yang terpajang di etalase toko. Pulang membawa belanjaan berkeranjang-keranjang, dan tagihan dilunasi bulan depan.
Tanpa disadari, masyarakat modern yang bertanggung jawab lebih besar pada perputaran uang sebagai roda ekonomi, terjerat dalam perangkap konsumerisme memabukkan. Dunia belanja semakin fashionable dengan kehadiran kartu-kartu plastik di kantong. Dengan foto diri, atau berhiaskan tokoh kartun favorit. Bentuknya pun kian unik, tidak lagi melulu kotak persegi panjang. Siapapun jadi ingin (dan bisa) memiliki kartu plastik.
Seseorang dengan mental belanja tentu saja dapat dengan mudah tercebur dalam jurang konsumsi menghidupkan kapitalisme. Metode hutang yang seringkali ditembak sebagai kelemahan kartu kredit kini juga diantisipasi oleh pihak bank dengan mengeluarkan kartu debet. Kartu dengan fasilitas menyerupai kartu kredit ini pada dasarnya berfungsi sama, alat gesek bersaldo untuk membayar sebuah transaksi. Hanya saja pembayaran ataupun transaksi hanya bisa dilakukan dengan sesuai saldo yang tersimpan di rekening kita.
Bank yang sesungguhnya berperan mengajak masyarakat untuk menabung, dilain sisi tanpa sengaja juga mengajak para nasabahnya untuk “mudah belanja”. Fleksibilitas kartu-kartu plastik cukup berbahaya rasanya untuk dikonsumsi penggila konsumerisme. Apalagi menghalalkan hutang dengan praktik besar pasak daripada tiang. Kisah kredit macet bukanlah omong kosong para ekonom, tapi justru berdampak luas pada perekomomian nasional.
“Maaf saya pakai kartu kredit”, kata seseorang customer di sebuah toko swalayan. Sang customer segera mengeluarkan kartu berlogo VISA itu dari dompetnya, kemudian menyerahkannya kepada pelayan toko. Setelah digesek pada sebuah mesin, transaksi selesai, dan si pembeli pulang membawa barang belanjaannya. Hutang dibayar belakangan, toh memang begitu seharusnya.
Bumi Tegalboto, September 2006
(Tulisan ini pernah dimuat di -seingat saya- Media Tegalboto Pos. Mungkin ini versi yang belum diedit oleh redaktur.)
May 19, 2009 No Comments
Shaummil Hadi, ‘Pacar Gelap’ Saya Itu…
“Dia itu cool banget, kalo jalan cepet dan gak tengok kanan kiri. Nunduk lagi.” Setiap kali mereka berkomentar seperti itu, mau tidak mau saya pasti langsung membenarkan. Shaummil Hadi, ‘pacar gelap’ saya, memang seperti itulah adanya.
Dia cerdas dan rajin membaca. Punya koleksi buku yang teramat banyak, meski sering kekurangan uang untuk makan. Meski sekarang sudah jarang bertemu, dia masih saja sesekali menyempatkan diri bersilaturahmi untuk pinjam duit.
Pertama kali bertemu pada akhir 2002 yang lalu, ia memang sudah menjadi sosok yang cukup ideal untuk diajak ngobrol. Sedikit banyak kami sering meluangkan waktu untuk membahas permasalahan-permasalahan hidup yang cukup complicated. Tentu saja dalam perselingkuhan yang indah. Kadang ketika menjelang tidur, atau saat bermesraan di warung-warung kopi.
Selama menjadi koki di dapur Tegalboto, dialah yang cukup banyak berperan menghidupkan kompor dan meramu bumbu untuk memasak produk redaksi Tegalboto. Sangat antusias dan loyal kepada organisasi. Sedikit ekstrim dalam mengemukakan pendapat tentang suatu hal, tapi berani mengambil resiko.
Ketika Tegalboto hampir ambruk, Shaummil diam-diam menjadi bensin bagi kompor Tegalboto. Adalah Sigit Budhi Pimred Tegalboto yang ketika itu dibakarnya untuk terus semangat menggarap redaksi. Adalah Nova, Tinus, termasuk juga saya, yang ikut dibakar meskipun ia sudah sangat kelelahan menjabat Pemimpin Redaksi menggantikan Sigit Budhi Setiawan. “Ayo baca, ayo nulis!” Yang terakhir ini, mungkin masih tersisa di halaman terakhir majalah Tegalboto edisi Kritik Relasi Timur Barat.
Dengan semangatnya, Shaummil rela mengorbankan kuliahnya demi sebuah eksistensi dan proses berpikir yang menjemukan di Tegalboto. Demi Majalah Tegalboto, dan demi pembenarannya akan tidak adanya absurditas disini, di Tegalboto. Pantang menyerah, dan terus berproses hingga batasnya.
Ketika kewajiban sebagai mahasiswa memanggilnya, ia habiskan tahun terakhir di Jember dalam kesendirian yang ‘kudus’. Bertapa di kamar sempitnya dengan tumpukan buku yang menjulang, menggarap Skripsi yang judulnya saja dapat membuat kita semua geleng kepala. Merem melek membaca dan menulis di PC lemotnya yang monitornya bisa bikin buta. Sebuah kerja keras yang dikerjakan dengan penuh idealisme dan kepercayaan, juga dengan semangat mulia, merubah dan memberi pencerahan bagi almamater tercinta. Sungguh ironis skripsi yang mati-matian digarap itu, akhirnya harus rela di stempel B pada rapor ijazahnya.
Tapi Shaummil, bukanlah orang cengeng yang memendam kepala dibawah bantal menyesali hidup. Skripsi mautnya itu kini hampir final terbit sebagai buku. Tentu juga karena kejeliannya mencari jalan menggapai mimpi.
Sekarang ini, ia sudah harus bersiap-siap menghadapi masa lalu. Menghadapi keluarganya yang dulu melepasnya dengan penuh harap di ujung dermaga Sabang, Pulau ter-Timur Indonesia itu. Ia kini pulang dengan gelar sarjana yang hampir enam tahun diraihnya. Sebuah perjuangan panjang yang melelahkan.
Meski tidak sampai tangan memeluk gunung, pasti ada jalan untuk mencapai puncaknya. Seperti itulah saya ingin menggambarkan Agam, panggilan akrab Shaummil Hadi teman dari jauh itu. Ia pernah menjadi Redaktur Pelaksana Tegalboto dan satu tahun menjabat Pemimpin Redaksi. Pernah menjadi kakak kelas yang cukup kritis di Hubungan Internasional Unej, dan pernah menjadi teman tidur di Tegalboto. Ia juga salah satu ‘pacar gelap’ yang dulu sangat setia menemani saya cangkruk bareng untuk berdiskusi panjang tentang absurditas hidup. Terlepas dari itu semua, sampai sekarang ia adalah sosok big brother yang semangat dan beberapa prinsipnya tetap menjadi panutan bagi pribadi saya. Shaummil, bagiku kamu tetap yang ter-‘seksi’.
Bumi Tegalboto, 19 Juli 2006
(Tulisan ini pernah dimuat di Bulettin Tegalboto untuk menghormati momen kelulusan senior saya yang selalu saya banggakan.)
May 19, 2009 2 Comments
Peradaban Bit dan Jaringan Kabel Optik
Suatu kali saya diminta untuk menusir potret seseorang teman. Kualitas fotonya bagus, hanya saja ia tidak puas karena wajahnya dalam foto tersebut terlihat kusam. Dia bilang, “Fotografernya payah. Zaman sekarang kok tidak bisa buat foto bagus”. Dan bertugaslah saya selaku seorang editor foto digital. Tidak sampai setengah jam, tugas saya selesai. Wajah ‘klien’ saya dalam foto tersebut jadi terlihat bersih dan bercahaya. Tentu saja akibat diolah oleh serangkaian rumit teknologi komputasi. Hasilnya saya attach melalui email, dan saya kabari dia melalui sms. Kebetulan saya berada di Jember, dan teman saya terpisah selat Sunda, berada di Lampung. Setelah melihat hasilnya, dia bicara lewat telpon, mengucapkan terima kasih dan sekali waktu minta diajarkan teknik-teknik photoshop.
Inilah kelumrahan baru yang berjalan disekitar kita. Sebuah dunia dengan kemajuan teknologi luar biasa yang memungkinkan seseorang berada di tempat berbeda secara bersamaan. Lahirnya PC sejak 20 tahun terakhir semakin meyakinkan kita semua untuk bersiap-siap “tidak heran” atas segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sebuah peradaban baru dengan bit sebagai satuan terkecil di era informasi sekarang ini, menggantikan satuan atom yang sudah berjalan selama jutaan tahun.
Dulu ketika pertama kali saya belajar fotografi, saya selalu diajarkan bahwa hasil yang akan didapat semuanya kembali kepada the man behind the camera. Kini kepercayaan itu mungkin sudah goyah. Saya mulai berfikir untuk mempercayai bahwa hasil fotografi akan bergantung pada the man behind the PC. Parahnya lagi, saya mulai meraba-raba adanya kemungkinan fotografi telah mati akibat Photoshop. Apa yang terjadi dengan kepercayaan saya?
Sekarang ini, teknologi memungkinkan manusia bersembunyi dari ketakutannya sendiri atas ketidaksempurnaan penciptaan dirinya oleh Tuhan. Manusia seolah menyempurnakan keterbatasan Tuhan dengan membuat kepalsuan-kepalsuan yang dapat diterima secara massif. Melalui teknologi manusia dapat menikmati halusinasi atas realitas dengan sangat nyata. Nyaris tanpa mengurangi sedikitpun esensi yang semestinya tidak terwakilkan secara duniawi. Dan beramai-ramailah manusia sekarang ini “memalsu” wajahnya dan menikmati tubuh molek Anna Kournikouva lewat langit-langit virtual teknologi. Inilah realitas baru peradaban bit itu. Merubah pemahaman manusia atas apa yang sudah sekian lama dipercaya.
Kemajuan teknologi komunikasi seperti sekarang ini masih belum final. Setidaknya ribuan penelitian baru dilakukan setiap harinya dan jutaan temuan baru didapat. Meski ratusan juta penduduk dunia ketiga masih berada dibawah garis kemiskinan, teknologi tetaplah teknologi. Berjalan sendiri dalam relnya yang terus membiakkan cabang-cabang baru perubahan. Seseorang seperti saya (juga anda), dalam hitungan menit dapat memotret sebuah kampung kecil di Jember, kemudian mencetaknya di Jakarta dan dinikmati oleh kolega anda di Amerika. Teknologi sekarang ini memungkinkan kita melintasi ribuan mil samudera tanpa perlu menyeberanginya dan mengetahui apa yang terjadi atas pegunungan Himalaya tanpa perlu mendakinya terlebih dahulu.
Kehadiran internet mengkoneksikan seluruh dunia dalam satu jaringan. Memanjakan manusia dengan kemudahan-kemudahan serba instan dan “saat itu juga”. Kita masuk dalam jaring-jaring besar cybernetic yang menawarkan realitas baru diluar realitas duniawi. Seorang direktur sebuah perusahaan besar, dapat menghadiri rapat dari kamar tidurnya melalui teknologi teleconference. Dan teman saya lewat teknologi web cam, dapat bertatap muka dengan pacarnya melalui layar komputer meski mereka berada di dua pulau yang berbeda.
Digitalisasi dalam bentuk bit memang sudah merubah cara kita bekerja, cara berfikir, cara berbisnis, dan cara kita menikmati dunia ini. Dunia berdiameter ribuan kilometer persegi tempat kita tinggal, nyaris terangkum dalam kombinasi rumit logika angka-angka 0 dan 1. Kita menjadi asing dengan orang tua dan adik-adik kita yang berada diruang sebelah, sementara layar komputer berukuran 14 inch didepan kita mengenalkan pada bentuk-bentuk baru keseluruhan isi dunia.
Kabel optik penyusun komputer kita mampu mengirimkan jutaan data hanya dalam sepersekian detik. Seluruh berita harian Kompas hari ini dapat kita baca tanpa perlu terlebih dahulu memungut koran yang sudah dengan susah payah dicetak dan diantarkan pagi-pagi ke halaman rumah kita. Sebuah koran dengan ribuan atom penyusunnya sudah digantikan jutaan bit yang tersusun dan tersimpan rapih dalam database virtual yang tidak terlihat. Entah dimana.
Kita tidak pernah memikirkan dimana kotak surat kita berada. Ia hanya berpredikat @blablabla. Dan kita percaya serta dapat membacanya atau membuangnya kapan saja kita mau. Ketika kita membacanya, pengalaman yang sama terjadi layaknya kita membaca surat kolega kita yang dikirim melalui pos. Atau ketika kita memutuskan untuk membuangnya kita hanya perlu menekan satu tombol, dan ia lenyap entah kemana. Tentu kita tidak perlu memikirkan kemana surat kita tadi, atau berfikir adakah kemungkinan orang lain membacanya.
Selamat datang di era baru, peradaban bit dan jaringan kabel optik!
Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Tegalboto Edisi Hyperlifestyle. Tahun 2005.
May 19, 2009 1 Comment
Campuss And Student Advisory Centre, Apaan tuh?
Beruntung sekali pada Februari 2003 nanti, Universitas Jember akan memiliki serangkaian gedung yang akan berfungsi sebagai pusat bisnis dan pelatihan kerja bagi seluruh mahasiswanya. Ini merupakan sebuah prestasi baru bagi Unej dalam pengembangan fasilitas kampus, setelah sebelumnya berhasil membangun gedung Fakultas Kedokteran di sayap Utara Kampus Bumi Tegalboto. Betapa tidak, fasilitas Campuss Centre dan Student Advisory Centre dimiliki sekaligus. Mengalahkan Ubaya dan ITB yang hanya memiliki Campuss Centre, atau ITS dengan Student Advisory Centre-nya saja.
Ide spektakuler ini pada awalnya muncul dari otak dua orang dosen Unej sendiri yang menilai bahwa mahasiswa lulusan Universitas Jember kurang memiliki bekal cukup dalam menghadapi dunia kerja yang pada saat ini lebih condong didominasi oleh bidang usaha bisnis. Kemudian tidak adanya sebuah ikatan yang baik antara pihak Universitas sendiri dengan cetakan-cetakannya (lulusan-lulusannya). Inilah yang menjadi keresahan dan mendasari munculnya ide tersebut di kepala mereka yaitu, Dr. Zulfikar dan Dr. Martinus. “Sekarang ini mahasiswa yang sudah lulus dari Unej, hanya lulus-lulus saja tanpa ada kematangan dalam hal pemahaman dunia kerja dan ketika mereka lulus sepertinya tidak ada ikatan lagi dengan almamaternya”, kata Zulfikar ketika diwawancarai di ruang Yayasan gedung rektorat Universitas Jember.
Mereka adalah dua orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kualitas lulusan Universitas Jember di mata persaingan kerja. Ide besar yang lahir dikepala mereka, dengan segera mendapat sambutan dari pihak Yayasan Pengembangan Universitas Jember ketika dipresentasikan dalam pertemuan bersama di dareah Batu. Pihak Yayasan kemudian merefleksikan antusiasmenya dengan kini bertindak sebagai pengelola melalui JUBC (Jember University Buisiness Centre). Sedangkan Dr. Zulfikar dan Dr. Martinus sekarang ini bertindak sebagai penanggungjawab pembangunan gedung. Mimpi Universitas Jember beberapa tahun yang lalu untuk segera memiliki gedung pusat pelayanan mahasiswa sepertinya akan segera terealisasikan.
Sejak awal pembangunannya Mei 2002, perencanaan bangunan terdiri dari dua konsep utama dengan klasifikasi tujuan masing masing. Pertama adalah Campuss Centre sebagai pusat pelayanan kepentingan mahasiswa dan civitas akademis kampus. Kedua, Student Advisory Centre, yang sebelumnya bertempat di gedung perpustakaan Unej, sebagai wadah pelatihan dan konsultasi bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja sebagaimana fungsi yang sudah berjalan selama ini. Serta konsep tambahan dengan mendirikan beberapa bangunan lain yang akan dijadikan komplek pertokoan, dan pelataran didepannya yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan kesenian mahasiswa. “Kalau anda keluar negeri, anda dapat melihat bahwa setiap perguruan tinggi disana sudah memiliki gedung semacam ini”, jelas Martinus ketika dikonfirmasi diruangan yang sama.
Pembangunan Campuss Centre memang lebih condong ke arah kemudahan pemenuhan kebutuhan sehari hari civitas akademis, yaitu mnahasiswa, dosen, dan karyawan di lingkungan Universitas Jember. Seperti pos, perbankan, buku, bahkan hiburan. Beberapa komplek pertokoan yang juga turut dibangun akan menyuplai keperluan mahasiswa Universitas Jember yang mayoritas tinggal sebagai anak kost. Kesimpulan ini didapat dari hasil survey yang dilakukan oleh JUBC (Jember University Business Centre) sebelum melaksanakan pembangunan gedung tersebut, bahwa dari 15.000 warga Universitas Jember, 13.000 diantaranya adalah mahasiswa dengan presentase 71,95% mahasiswa hidup terpisah dari orang tua (kost), 17,19% tinggal bersama orang tua, 6,67% kontrak bersama teman-teman dan sisanya 4,18% tinggal bersama family. Angka ini mendorong pihak Yayasan untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan mahasiswa melalui unit bisnis retail dengan segera merealisasikan pembangunan CSAC di lingkungan Universitas Jember berdasarkan tata letak, rancangan bangunan dan model bangunan sesuai dengan master plan Universitas.
Selain itu pembangunan komplek pertokoan disekitar gedung utama, juga akan difungsikan sebagai tempat pelatihan dunia kerja. Metode part time job serta pelatihan siap kerja bagi mahasiswa akan dijadikan beberapa kriteria wajib bagi setiap usaha bisnis retail yang akan bertempat di kompleks pertokoan tersebut. “Tapi kita nggak memberikan lapangan pekerjaan kepada mahasiswa, hanya memberikan jembatan perkenalan pada dunia kerja dengan menempatkan mereka di dalam usaha tersebut.”, tegas Zulfikar. “Dan seluruh mahasiswa Unej dapat memanfaatkan fasilitas ini, tak terkecuali alumninya”, tambahnya.
(Lanjutan tulisan masih dalam proses ketik ulang.)
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Tegalboto Edisi Hitam Putih Tahun 2003.
May 19, 2009 No Comments
