human wanna be

Category — Resensi Film

This is England

Beruntung pada suatu waktu seorang teman membawa DVD film ini. Karya sinematografi yang digarap dengan sangat serius, meski hanya sekedar sebuah film indie. Bukan usaha yang sia-sia, sebab akhirnya ia diganjar sebagai Film Terbaik dalam  British Independent Film Award.

Sebuah cerita sederhana dari sudut pandang seorang anak kecil yang menghadapi realitas politik era Margaret Thatcher. Semuanya berjalin kelindan dengan kompleksitas pribadi Shaun yang diperankan dengan sangat memukau oleh Thomas Turgoose.

Kehidupan Shaun yang serba tertindas dalam pergaulan membawanya dalam sebuah komunitas baru yang serba fashionable dan gaul.  Semua dilakukan hanya karena ia merasa perlu diakui di lingkungannya, meskipun hanyalah sebagai seorang anak kecil. Cerita berlanjut saat akhirnya ia harus ikut-ikutan gerakan politik melawan kediktatoran pemerintah tentang kebijakan perang pada saat itu.

Penggambarannya sangat sederhana, karena penonton diajak melihat realitas dari sudut pandang seorang anak kecil yang terlanjur tercebur dalam ketidaktahuannya tentang keseluruhan seluk kehidupan. Kelompok muda yang masih sangat belia memang selalu menjadi korban sentimen politik karena begitu mudah dikompori, dan memiliki asas fanatisme yang kadang berlebihan. Sedangkan dilain sisi, mereka tetaplah anak muda dengan segala kenakalan dan kebutuhan bersenang senang.

Bagi yang menyukai dialog dengan aksen British yang kental, film ini sangat saya rekomendasikan. Apalagi lirik-lirik soundtrack-nya juga sangat kritis dan mudah diterima. Semuanya dalam bahasa mendalam, tapi terbungkus kesederhanaan ala muda mudi.

Selamat menonton.

May 19, 2009   No Comments

The Color Purple

Tentang kemanusiaan selalu menarik untuk di filmkan, dan Stephen Spielberg menurutku berhasil memukau penonton dengan karyanya yang satu ini. Film produksi tahun 1985 ini mendapat nominasi untuk 11 Oscar. Whoopi Goldberg, Danny Glover dan pemeran lainnya sukses membuai penonton dengan banyak adegan yang mengharukan.

The Color Purple yang menggambarkan kehidupan warga kulit hitam di Amerika ini, banyak bicara tentang posisi perempuan yang sangat memprihatinkan ditengah maskulinitas lelaki. Sayang banyak adegan dan setting lokasi yang sepertinya terlalu berlebihan. Tapi justru adegan hiperbolis itulah yang membawa penonton dalam keprihatinan yang mendalam menyaksikan kenyataan kehidupan semacam itu.

Sangat layak tonton, apalagi Oprah Winfrey juga ikut bermain dalam film ini. Meskipun hanya sebagai pemeran pembantu, toh perannya sebagai Sofia dalam film ini patut diacungi jempol. Soundtrack “Miss Celie’s Blues” milik Quincy Jones yang legendaris itu juga ikut dinyanyikan, tentu dengan improvisasi yang tidak kalah bagus.

Selamat menonton.

May 19, 2009   No Comments

I Heart Huckabees

Sebuah drama ironi kehidupan. Yah, seperti setiap saat kita mencoba berfilsafat. Kocak dan penuh kebingungan. Inilah gambaran akan modernitas yang sudah hampir mencapai pinggiran jurang ketiadaan. I Heart Huckabees.

Dalam film ini kita tidak akan disuguhkan komedi norak bin ajaib seperti yang sudah sering kita lihat di film komedi komersil lainnya. Atau kejorokan bahkan eksplorasi seksual yang sudah menjadi senjata andalan film-film komedi pasaran. Juga tidak akan kita temui disini kisah sederhana berakhir bahagia yang berpretensi semata untuk menghibur penonton. Tapi di sini, kita akan diajak berfikir –mungkin sedikit merenung. Jika anda siap untuk terjun kepada kedalaman ruang berfikir, sebaiknya anda copy dulu film ini sebelum dikembalikan ke tempat rental dimana anda menyewanya. Karena agak sulit memang memahami film ini dengan hanya sekali tonton. Percayalah!!

I Heart Huckabees bercerita tentang sebuah ironi mendalam tentang keterasingan mereka yang mencoba ‘menjadi lain’ ditengah derap pembangunan modernitas. Kisahnya berawal ketika Albert Markovski (diperankan oleh Jason Schwartzman), mengalami kebetulan-kebetulan yang diyakininya saling berhubungan satu sama lain. Kebingungan yang dialaminya membuatnya memutuskan untuk menyewa seorang Existential Detective / Detektif Keberadaan (Crisis Investigation & Resolution) bernama Vivian Jaffe (diperankan oleh Lily Tomlin) untuk meyelidiki tentang hal-hal aneh yang dialaminya. Perkenalannya dengan detektif perempuan tidak cantik ini, membawanya bertemu dengan seorang penyelidik lain (partner Vivian) Bernard Jaffe (diperankan oleh Dustin Hoffman) yang tidak kalah gilanya dengan Catherine. Pertemuan awal antara Brad dan Bernard diawali dengan dialog tentang alam semesta yang saling berkaitan satu sama lain. Bahwa ada kesalinghubungan antara berbagai hal di dunia ini. Bernard juga menjelaskan bagaimana posisi seseorang dalam alam semesta ini. Ketika akhirnya kedua detektif ini mulai terlibat lebih jauh dalam kehidupan Albert, maka dimulailah cerita sebenarnya yang penuh dengan dialog dan perdebatan rumit tentang filsafat.

Albert adalah salah seorang pemimpin Open Spaces, sebuah lembaga yang peduli pada kelestarian ruang terbuka bagi publik. Sebagai seorang yang sangat peduli dengan lingkungan hidup, Albert adalah salah satu dari penandatangan piagam kesepakatan Open Spaces yang berusaha mempertahankan sisa rawa-rawa ditengah kota besar yang terus membangun. Huckabees adalah perusahaan penyedia kebutuhan sehari-hari (toserba) yang sedang membujuk proyek Open Space (ruang terbuka) untuk mendukung proyek pembangunan Huckabees agar diterima publik. Pengerjaan membujuk ini langsung dibawahi oleh Brad Stand (diperankan oleh Jude Law) demi mempengaruhi pandangan Albert untuk melestarikan rawa-rawa tersebut sesuai dengan cara yang diinginkan oleh perusahaan Huckabees.

Cerita bergulir ke tarik ulur antara keinginan Brad Stand dengan kampanye Shania Twain-nya dan Albert Markovski dengan kampanye puisinya. Keduanya menginginkan pelestarian terhadap rawa milik Mary Jane (pewaris rawa kakek buyutnya) dengan mempertahankan caranya masing-masing. Brad Stand beranggapan bahwa kampanye dengan menggunakan sosok penyanyi seperti Sahania Twain akan lebih mudah dimengerti publik dan Albert beranggapan kampaye menggunakan kalimat-kalimat puitis akan lebih menyentuh hati masyarakat. Namun rupanya Brad Stand memiliki rencana tersembunyi. Kampanyenya lebih memihak kepada keinginan Huckabees untuk membangun perusahaannya. Sedangkan akhirnya Albert Markovski harus kalah dan tersingkir dengan kampanye puisinya yang kurang populer.

Cerita bergulir pada kebingungan Albert akan pekerjaan yang meyita pikirannya, sementara ia juga dengan bantuan kedua detektif keberadaan (Existential Detective) harus menyelesaikan kebingungan akan kebetulan-kebetulan yang dialaminya. Pertemuannya dengan seorang lelaki kulit hitam berumur 18 tahun dari Afrika diyakininya memiliki makna tersendiri. Krisis eksistensi yang dialami oleh Albert memaksa kedua detektif keberadaan untuk memperkenalkannya pada Tommy Corn (Diperankan oleh Mark Wahlberg) seorang pekerja pemadam kebakaran yang sangat peduli pada minyak dunia dan permasalahan dunia ketiga. Corn baru saja ditinggalkan oleh istrinya karena selalu saja mendebatkan masalah filsafat dengan keluarganya perkara hidup, keadaan, ketiadaan dan hal-hal filosofis lainnya. Albert dan Corn adalah dua orang yang selalu berpergian dengan menggunakan sepeda ontel demi menghindari pemakaian minyak dunia yang terlalu boros. Kesamaan idealisme yang mereka miliki menyatukan keduanya dalam persahabatan untuk melawan kejahatan modernitas.

Kemudian muncul rasa tidak percaya kedua sahabat ini akan kemampuan kedua detektif keberadaan tersebut. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyelidiki sendiri masalah yang dialami oleh Albert. Pertemuan mereka dengan Steven (lelaki kulit hitam dari Sudan Afrika) rupanya justru membawa mereka pada perdebatan seru dengan keluarga angkat Steven. Perdebatan tentang minyak, industri, sosialisme, ekonomi, kemiskinan di Afrika, Tuhan dll, mewarnai suasana makan malam mereka bersama keluarga tersebut. Ini membuktikan bahwa seseorang dengan idealisme seperti mereka sulit untuk hidup normal ditengah-tengah masyarakat modern yang sangat individualis dan tidak perduli lagi dengan masalah lingkungan.

Setelah memilih menyelidiki sendiri masalah Albert, kedua detektif tersebut terus mencoba meyakinkan Albert dengan pemikiran-pemikiran filosofis. Bernard menjelaskan bahwa hidup ini hanyalah ilusi. Bahwa diri kita ini hanyalah kumpulan dari partikel-partikel yang saling berkaitan. Tidak ada wujud yang utuh tanpa unsur pembentuk yang sama. Bernard kembali lagi mengulangi penjelasan rumitnya tentang selimut dan pengendalian emosi yang semakin membuat Albert bosan.

Kebingungan Albert dan Corn akhirnya membawa mereka bertemu dengan seorang penulis buku asal Perancis yang juga berfikir sangat filosofis, Caterine Vauban (diperankan oleh Isabelle Huppert). Catherine rupanya adalah juga seorang detektif seperti kedua rekannya yang sebelumnya telah menyelidiki kehidupan Albert. Caterine membuktikan bahwa ia mampu membuktikan kebetulan-kebetulan yang dialami oleh Albert. Pertemuannya dengan Seteven di tiga tempat berbeda bermakna bahwa mereka berdua sebetulnya adalah anak yatim piatu. Steven seoarang yatim piatu karena kedua orang tuanya meinggal akibat perang suadara, dan Albert yatim piatu karena kedua orang tuanya justru tidak meninggal, tetapi karena tidak lagi memperdulikan masalah mental emosional anaknya sejak kecil. Dan jadilah mereka dua orang anak yatim piatu zamannya.

Hubungan yang erat antara Albert, Corn dan penulis Perancis Caterine melibatkan mereka sebagai tiga orang Platonis yang selalu mencoba menjawab permasalahan-permasalahan filsafat. Sampai akhirnya keharmonisan hubungan mereka harus terganggu karena Albert menjalin hubungan khusus dengan Caterine. Dalam film ini digambarkan bagaimana cara bercinta Albert dan Caterine yang diluar batas kewajaran akibat cara berfikir mereka yang juga diluar kebiasaan. Hubungan mereka bertiga melukiskan bagaimana absurditas hubungan antara manusia, dan menjawab arti dari sebuah penghianatan persahabatan.

Caterine dan Albert kemudian sepakat untuk mempengaruhi Dawn Campbell (diperankan oleh Naomi Watts) pacarnya Brad Stand yang kebetulan juga sebagai model / Miss Huckabees. Dawn akhirnya menyadari bahwa perannya sebagai Miss Huckabees hanya sebagai komoditas belaka untuk menjual produk-produk perusahaan. Posisi perempuan sebagai alat publikasi dalam film ini menjadi perdebatan tersendiri yang cukup unik.

Caterine dan Albert akhirnya membakar rumah Brad Stand dan menghanguskan jet ski nya karena dianggap sebagai simbol hura-hura kehidupan modern. Dawn berhasil diselamatkan oleh Corn karena Corn berhasil mendahului teman-temannya yang terjebak ditengah tengah kemacetan lalu lintas. Disini dilukiskan bagaimana kebencian luar biasa Corn akan mobil yang dikatakannya sebagai ‘peminum bensin’.

Sementara itu kedua detektif (Vivian dan Bernard) sibuk menyelidiki kehidupan Brad Stand yang ternyata juga diketahui memiliki krisis identitas pula. Hubungan Brad dengan adiknya dikampung halaman tidak berjalan mulus. Maka terkuaklah pribadi Brad sebenarnya yang sering mengulang-ulang cerita konyol sebagai propaganda untuk menggolkan keinginannya dan menutupi krisis identitasnya.

Krisis dan tekanan yang dialami oleh Brad membuatnya tidak mampu lagi mengendalikan emosi, sehingga ia harus ditendang dari proyek kampanye yang melibatkan Shania Twain. Kebohongan akan kepeduliannya terhadap lingkungan akhirnya terbuka, sehingga ia dibenci oleh semua orang, Mary Jane, Shania Twain, pacarnya Dawn dll, karena dianggap merusak rantai makanan. Brad mengalami stress yang luar biasa apalagi setelah mengetahui rumahnya dibakar dan pacarnya Dawn menjalin hubungan dengan Corn karena telah berhasil menyelamatkannya dari kebakaran.

Pada akhir cerita Albert mengetahui bahwa ternyata Caterine, Vivian dan Bernard adalah satu persekongkolan detektif. Sehingga Albert terpaksa meninggalkan Caterine dan kembali pada sahabatnya Corn. Mereka berdua sepakat untuk menolak penggusuran rawa dengan cara yang paling ekstrim. Merantai dirinya di depan buldoser!!!

Inilah film tidak sederhana yang terpaksa ditampilkan dengan gaya komedi agar mudah dipahami. Selamat menonton.

May 19, 2009   No Comments