human wanna be

Category — Cerpen & Prosa Saya

Jejak Andjani di Kampung Halaman

Kereta yang mengantarku selama hampir delapan belas jam dari Jakarta, terlambat seperti biasanya. Belum lagi membludaknya penumpang yang luar biasa dalam musim seperti sekarang ini. Panas. Suasana pulang memang sudah lumrah dengan kenyataan bahwa rakyat kecil harus berdesakan hanya sekedar untuk mengunjungi keluarga di desa. Rasanya seluruh warga berpindah dengan berbondong-bondong dalam sekali angkut.

Dari kejauhan, sesaat sebelum kereta berhenti di stasiun tujuan, kulihat bentangan sawah di kanan-kiri rel tempat kereta melintas. Semuanya hijau kekuningan bersatu dengan birunya langit di sebelah Utara, juga Selatan. Tampak pula bumbungan asap bakaran jerami mengisi sebagian kecil pemandangan di titik jauh antara bukit itu. Bila tidak salah perhitungan, desaku berada di dekat gerombolan pohon kelapa yang menjulang disana.

Turun dari kereta, tak sabar rasanya ingin kujumpai si Mbah yang lama tentunya mengharap kedatangan cucu lelaki seorang ini. Sedangkan desaku masih harus ditempuh dengan setengah jam perjalanan ojek lagi.
Dari beberapa obrolan, kuketahui sekarang ini desa semakin bertambah sepi. Banyak pemuda pergi meninggalkan desa, memilih tanah rantau untuk mengadu nasib. Meninggalkan tanahnya terus digarap oleh generasi kakeknya yang sudah semakin renta. Sedikit menanggung malu juga mendengar itu, sebab tentu aku termasuk pula golongan itu. Beruntung kini aku sudah kembali, pada tempat dimana udara begitu sejuk dan wangi bakaran jerami melingkupi sekitar.
Di sepanjang jalan, pepohonan besar tumbuh subur tak terhalangi sesuatu apapun. Teduhnya menjadikan suasana menjadi begitu berbeda dibandingkan Jakarta. Di sini adem ayem, enak untuk bermalasan. Di belakang, beberapa anak berlarian mengejar ojek yang kutumpangi, mungkin santri pengajian. Kangen juga aku akhirnya dengan suasana, juga segenap mereka yang hadir pada masa lalu.

***

Bila kukenangkan, ada sebuah kisah di desa ini yang semasa kecil dulu sering kudengar ceritanya dari si Mbah. Tentang seorang perempuan yang sering menampakkan diri di tepi batas desa, pada sebuah hutan dekat Telaga Madirda. Wajahnya luar biasa cantik, namun tubuhnya dipenuhi rambut yang lebat hampir menyerupai kera. Kedatangannya pada telaga itu semata untuk melakukan tapa Nyantika, yaitu duduk dalam posisi seperti katak agar mendapatkan kembali keutuhannya sebagai seorang bidadari yang cantik nan jelita. Namanya Dewi Andjani.
Konon, jauh sebelum Andjani menjalani tapa penebusan dosa ini, ia adalah perempuan dengan perawakan yang sempurna. Tubuhnya tinggi, berkulit sawo matang. Rambutnya panjang dan tubuhnya terlindung di balik selendang bidadarinya. Wajahnya oval dengan bibir tipis sempurna. Dewi tercantik di langit dan bumi.
Dari cerita si Mbah aku ingat, Dewi Andjani selalu datang saat pagi belum menyingsing, saat semuanya masih terlelap. Keluar dari telaga Sumala tuk bersemedi, demi menebus segala kesalahannya agar dapat kembali menjadi manusia. Konon kutukan yang sekarang dijalaninya, akibat perbuatan yang dilakukannya semasa masih tinggal di kayangan dulu. Adalah Cupumanik Astagina  yang menjadi penyebab segala derita yang harus dijaninya selama ini. Sebuah pusaka kedewataan yang dengannya kita bisa melihat segala terjadi di angkasa dan bumi sampai langit ke tujuh.
Saat Dewi Andjani masih tinggal di kayangan, Ibundanya, Dewi Windradi memberikan pusaka tersebut padanya. Padahal warisan kedewataan yang sangat sakral itu adalah pemberian Bhatara Surya, selingkuhan Dewi Windradi. Pusaka yang digunakan untuk menggaet cinta Dewi Windradi tersebut, telah diharamkan tuk diberikan pada siapapun termasuk anak-anak mereka. Sayang, Dewi Windradi lebih mengasihi anaknya yang begitu cantik, mengalahkan segala Dewi yang hidup di kayangan. Dengan diberikannya pusaka tersebut pada Dewi Anjani, kedua saudaranya yang lain, Subali dan Sugriwa merasa cemburu dan ingin pula memiliki pusaka kedewataan yang teramat sakti itu.
Sampai pada bagian ini, aku selalu merasakan bahwa dunia memang dipenuhi dengan iri dengki. Sebagian selalu ingin mengalahkan sebagian yang lain, mengorbankan saudara sedarah sedaging kalau bisa. Luar biasa rasanya keburukan tingkah manusia di bumi Tuhan ini. Aku mengerjapkan mata menyadari bahwa kejadian seperti ini bahkan sudah terjadi sejak zaman perwayangan bergulir mengisi sebagian masa dalam hidup manusia.
Diceritakan, perebutan pusaka antara Dewi Anjani dengan kedua saudaranya membuahkan kemarahan dari Resi Gotama, Ayahanda mereka yang tak lain adalah suami syah dari Dewi Windradi. Dengan kekuataannya, Resi Gotama melempar Cupumanik Astagina ke angkasa sehingga terpisah jadi dua. Satu bagian menjadi telaga Nirmala di negara Ayodya, dan bagian tutupnya jatuh ditengah hutan menjadi telaga Sumala.
Murka yang tak lagi bisa dikendalikan itu akhirnya berbuah kutukan pada Dewi Windradi, apalagi setelah mengetahui bahwa Cupumanik Astagina sumber petaka tersebut adalah pemberian Bhatara Surya. Akhirnya, terbongkarlah kisah perselingkuhan Bhatara Surya dengan istrinya itu. Resi Gotama menyumpah Dewi Windradi menjadi batu dan mendiami taman Argasoka Kerajaan Alengka serta mengusir ketiga anaknya dari kayangan. Anjani tercebur kedalam telaga Sumala, beserta pula kedua saudaranya. Saat itulah Resi Gotama menurunkan wahyu pada ketiganya agar melakukan tapa, untuk menebus kesalahan mereka di masa lalu. Subali diperintahnya tuk tapa ngalong , Sugriwa tapa ngidang , dan Anjani harus menjalani tapa ngodhok.
Kisah yang diceritakan si Mbah ini sudah menjadi dongeng yang bertahan beratus turunan. Mereka percaya, baik Subali, Sugriwa ataupun Andjani masih mendiami hutan ditepi batas desa yang di dalamnya terdapat telaga Madirda tempat Andjani biasa menampakkan diri.
Sudah banyak generasi desa ini tumbuh berganti. Sebagian besar pergi merantau ke kota, sisanya memilih menetap dan bekerja sebagai petani. Mereka yang tetap tinggal melestarikan kisah ini turun temurun. Aku hanya tersenyum setiap kali si Mbah mengulang-ulang cerita yang sama.
Perubahan masa memang berjalan begitu cepat, meninggalkan sejarah di belakang setiap langkah manusia modern. Boro-boro membaca atau mendengar kisah perwayangan begini, tuntutan hidup sehari-hari saja sama ruwetnya dengan kemacetan Jakarta. Perjalanan pulang seperti sekarang, selalu saja menjadi momentum untuk mengenang kembali setiap cerita yang pernah berkembang di desa yang jauh dari polusi ibu kota ini. Sementara si mbah, adalah wujud dari pendongeng yang selalu setia bercerita pada cucu-cucunya, sekalipun mereka sudah kenyang dicekoki keajaiban cerita Doraemon.

***

Si Mbah terkejut melihat cucu lelakinya ini datang kembali ke kampung. Awalnya ia tersenyum, namun kemudian menangis. Tak tahan rupanya ia menahan kangen yang riuh memuncak.
“Mbah, maafkan cucumu ini lama tak berkunjung,” kataku.
“Kupikir lupa sudah kamu dengan Mbah mu yang sebentar lagi habis ini,” katanya sambil terbatuk. Aku hanya diam meringis mendengarnya.
Malu rasanya harus melihat kenyataan begini. Si Mbah yang seorang, harus kutinggalkan sekian lama hanya untuk mencari penghidupan di Jakarta. Tidak pula sukses dan jadi orang besar, tapi hanya sebagai sekrup kecil di perusahaan. Miris bila melihat petak-petak sawah yang demikian luas, justru tak digarap dengan baik, malah sebagian rusak hanya karena si Mbah semakin berkurang saja kemudaannya.
Memang tak mudah jalani hari-hari dengan tuntutan yang datang dari segala penjuru. Serba salah kalau harus terus-terusan hidup di desa, sementara pergi merantau pun rasanya cuma menjadi cela. Padahal, setiap manusia harus berubah. Hijrah, kalau kata nabi. Bukankah nasib memang bukan semata ada di tangan Tuhan, tapi manusia juga harus ikut cawe-cawe.
Semoga saja pengembaraanku selama ini berbuah kebaikan. Setidaknya sudah menyumbang untuk hidup dan masyarakat, meski barangkali baru sedikit. Toh jika kembali ku ingat pesan si Mbah; bekerjalah kamu jangan untuk dirimu sendiri, berilah sesuatu untuk keluarga, masyarakat, juga bangsa ini seandainya kamu sanggup. Dari sedikit yang kuberikan pada hidup, semoga semuanya menjadi manfaat.
“Kini aku hanya ingin kembali pada tanahku. Tempat kelahiranku” kataku. Tanpa berkata sedikitpun, si Mbah pelan menarik tanganku, sebuah isyarat agar aku mengikutinya.
Diajaknya aku berjalan melintasi hutan gelap yang seumur hidup belum pernah sekalipun aku masuk kedalamnya. Keadaan sekitar kini sedikit berbeda dibandingkan dulu. Di batas antara hutan dengan areal sawah, sudah ada pondokan tempat bercengkrama para petani. Ingin rasanya singgah, namun si Mbah jalan terus. Jauh melintasi hutan, jalanan setapak makin sulit ditelusuri, tanda kalau kami semakin masuk pada bagian yang jarang dilewati orang.
Begitu sampai pada sebuah rimbun pohon yang dahannya bergelantung sampai ke tanah, terkejut aku melihat jernih sebuah telaga yang tersembunyi dibaliknya. Konon telaga yang kulihat di depan mataku ini tak lain adalah Telaga Madirda, jelmaan Cupumanik Astagina tempat Dewi Anjani biasa menampakkan diri untuk bersemedi.
Pelan si Mbah bertanya, “Tentu kamu ingat kisah Dewi Andjani yang berulang kali ku ceritakan padamu?”
“Tentu saja ingat. Semuanya bahkan,” aku membela diri.
“Ingat kamu ketika Andjani menjalani tapa ngodhok?”
“Ingat.”
“Bertahun lamanya Dewi Andjani menjalani pertapaan yang sedemikan khusyuk. Tiada kesempatan baginya untuk makan selain menunggu dedaunan jatuh dari pohon sampai kepangkuannya, dan minum selain menunggu titik embun menetes ke bibirnya. Derita menunaikan dharma penebusan dosa”, si Mbah memulai lagi kisahnya.
“Kesabaran seorang dewi yang ingin segera mendapati dirinya kembali menjadi bidadari kayangan”, lanjutku hafal.
“Tapi tahukah kamu, saat ketika Bathara Guru datang padanya, kemudian berbelas kasihan pada Dewi Andjani?”
“Tidak”
“Dengan segala kebaikan Bathara Guru, diberikannya seteguk air lewat daun sinom  yang tumbuh disekitar telaga Madirda pada Dewi yang merenggut hatinya itu.”
Sampai bagian ini aku terkesima dibuatnya. Potongan kisah yang belum pernah di ceritakan oleh si Mbah. Barangkali memang sengaja disembunyikan. Tapi sengaja kubiarkan, biar sekalian lengkap pengetahuanku tentang kisah perwayangan ini.
“Lantas?” lanjutku.
“Seteguk air dari daun sinom itu kemudian berubah menjadi benih yang tertanam di rahimnya. Tumbuh dalam irama persemedian yang khusyuk. Kehamilan yang tidak direncanakan itu melahirkan seorang gagah bernama Hanoman. Lelaki yang berwujud kera putih, pandai beradat istiadat seperti manusia. Putra Bathara Guru ini adalah makhluk kekasih dewata, ditakdirkan berumur panjang dan dikaruiniai pula beragam ajian yang membuatnya kuat dan berani.”
“Kemana perginya Hanoman?” tanyaku setengah berbisik.
“Menjelma menjadi manusia biasa, berwujud bayi tak berdosa yang kala itu menangis hebat menggemparkan seisi desa. Kuselamatkan ia dari bawah pohon asam tempatnya terbaring. Bersih dan tiada cela” ujar si Mbah.
Aku hanya terkesima mendengar kisah terpendam yang selama ini dirahasiakannya. Kesadaranku jadi amburadul dalam seketika. Inilah kenyataan yang tak terkatakan selama bertahun, tersimpan rapat dalam gurat ketuaan di wajah si Mbah.
“Kini rendamlah dirimu dalam telaga itu. Lakukan tapa dengan semedi yang kamu bisa. Jalankan dengan khusyuk sebagaimana Ibundamu melakukannya dulu. Tentu saja kamu tidak akan berumur, karena kamu adalah keturunan dewa-dewa. Pewaris Cupumanik Astagina yang melegenda itu. Kembalilah ke kayangan tempat segalanya bermula. Jadilah abadi seperti Ibundamu, Dewi Andjani yang tidak pernah beranjak tua, selalu cantik, muda dan bersahaja.”
Dengan tergagap, kuceburkan diriku kedalam dinginnya telaga. Kusaksikan Dewi Andjani muncul perlahan pada riak air, tepat ditengah-tengahnya. Sayup-sayup suaranya mengisi pendengaranku, “Kembalilah anakku, Hanoman. Tuntas sudah pengembaraanmu yang mulia di muka bumi. Biarkan seisinya berjalan atas kehendak takdir.”

Kebumen-Jember, 7 September 2008

May 19, 2009   1 Comment

Sebatang Rokok Untuk Tuhan

Tuhan, di malam ini aku hanya ingin bercerita banyak dengan-Mu. Tentu Kamu punya waktu, aku tahu kamu pasti punya waktu. Sebab aku tahu Kamu sedang kesepian diatas sana. Ah, itupun kalau Kamu ada diatas. Mungkin juga Kamu ada di bawah kan? Atau sedang ada disampingku malah? Kalau dihitung hitung, senang kiranya Kamu kuajak mengobrol begini. Setidaknya sekedar pengusir bosan ditengah kesendirian-Mu itu. Iya kan?

Aku hanya ingin sharing sedikit tentang kehidupan ini Tuhan. Ah bagaimana aku harus memanggil-Mu? Nama panggilan-Mu pun aku tak tahu? Dengan Tuh, atau Han? Apa kiranya yang enak? Huh, kamu selalu diam saja. Baiklah, agar lebih akrab, bagaimana kalau kupanggil dengan Han saja? Bagaimana?

OK. Kalau begitu Han saja.

Begini Han, aku cuma sedang sesak saja berjalan di bumi-Mu ini. Makanya aku ingin bicara banyak seputar hidup di dunia, yang engkau sendiri (seperti kata Milan Kundera) tentu sedang tertawa-tawa di sana mendengar ini semua. Iya kan? Ah terserah kau lah. Tertawa lah sepuasmu, tapi please… dengarkan segala ocehanku ya?

Han, Kamu tahu apa artinya pendidikan? Aku diajak belajar berhitung, membaca, dan berfikir. Kebanyakan berhitung seputar logika Phytagoras dan kawan-kawannya, membaca banyak teori cultural studies sampai posmodernisme, dan berfikir ala Rene Descartes sampai Nietzsche. Semuanya menarik. Kutelisik satu persatu sampai ke akarnya. Senang juga bisa banyak tahu meski tidak seluruhnya. Ada rasa bahwa aku sudah menjalankan perintah-Mu, iqra! Bacalah! Iya kan? Toh semua bilang Kamu tidak suka manusia bodoh. Kamu ingin manusia dapat menguasai ilmu pengetahuan, dan jelas Kamu benci dengan kefakiran. Benar begitu?

Tidak ada yang kurang dari kami manusia, ciptaan-Mu ini berusaha. Susah payah kami menjual tanah, dan segala ternak di desa untuk sekedar dapat menuntut ilmu. Tapi biaya mahal dan tambah mahal. Terpaksa kami harus menjual lebih banyak. Sampai hampir habis malah. Apalagi teman-teman yang seumur hidupnya mencita-citakan jadi dokter itu. Ratusan juta terkuras! Orang tua sudah semakin berkurang saja kesehatannya, tapi masih dipaksa berjualan di pasar sekedar untuk mengirimi uang. Mulia sekali hidup mereka Han. Dengan segala kuasa-Mu, berilah tempat bagi mereka di surga-Mu kelak Han? Mau kan?

Tapi tahukan kamu Han, jiwa pendidikan bangsa ku kini sudah tidak lagi semulia dulu. Segala dihitung dengan kacamata bisnis semata. Tidak punya uang tidak sekolah, yang artinya tidak bisa menjalankan perintahmu untuk berilmu. Lalu harus bagaimana nasib rakyat kecil seperti aku ini Han?

Sekarang di Indonesia, Sarjana seperti tidak ada harganya. Semuanya dicetak hanya untuk jadi tukang. Susah payah kuliah tinggi menuntut ilmu, hanya jadi sales, beberapa yang cantik jadi SPG sebuah produk. Kerja di perusahaan, yang kecil dan besar sekalipun, hanya jadi tenaga kontrak yang bisa setiap saat dibuang. Nasibnya selalu ada di ujung tanduk. Salah sedikit tentu terusir dari kantor dan jadi melata lagi di jalanan. Kembali mengais-ngais kesempatan di kota besar, bertarung dengan jutaan muda-mudi lain berebut kerja. Bagaimana bangsa ku ini Han?

Tidak punya modal tidak bisa berusaha. Sekarang ini semua dihitung dengan uang. Kapital. Kalau sudah terlanjur miskin, apalagi hidup di Indonesia sini, mau berbisnis susahnya minta ampun. Pinjam modal di Bank, harus punya tanah untuk digadaikan. Tapi tanah sudah terlanjur disita pemerintah untuk dibikinnya Mall dan perumahan. Berkumpul bersama teman-teman untuk berserikat, membangun usaha bersama, yang ada saling jegal untuk jadi nomor satu. Lalu bisa apa Han?

Sebagian besar Bos pemilik perusahaan, pendidikannya lebih rendah daripada karyawannya. Mereka bisa bangkit tanpa sekolah, menguasai dunia dengan tangannya. Setiap perintah adalah titah yang harus dijalankan. Dan karyawan kecil, apalah artinya, toh hanya pesuruh. Babu kalau kata temanku. Lalu ingin berkarier? Sampai tengah jalan saja, sudah disuruh pensiun dini. Umur 50 harus sudah pensiun! Lihatlah Han, banyak orang stress karena kehilangan jabatannya. Pulang ke rumah, dan tidak lagi dipandang oleh masyarakat, hanya karena mereka bukan lagi golongan priyayi? Lalu mati termakan stroke karena dulu terlalu banyak mengkonsumsi kolesterol. Dan ternyata sampai akhir hayatnya, tidak bisa duduk dalam jajaran direksi kalau tidak ada ikatan keluarga. Dengan kata lain, selamanya hanya jadi tukang. Apa bedanya dengan kuli bangunan di gedung bertingkat sana? Ah, cuma berbeda sebutan saja. Lalu bisa apa Han?

Banyak yang berlomba jadi pegawai negeri, sekedar cari jalan aman. Negara berlaku baik dengan menyerap sebanyak mungkin pegawai, tapi tujuannya semata hanya untuk mengurangi pengangguran. Apa itu tidak lucu? Berapa tanggungan pajak untuk membiayai mereka semua? Mahal bukan alang kepalang Han. Sudah begitu, duduk di pemerintahan, bisanya cuma korupsi nyolong uang rakyat. Habis diperas begini, tidak lagi diperhatikan, harga-harga malah dinaikkan. Rakyat cuma jadi pesakitan. Tumbal negara kesatuan.
Mereka mati-matian mempertahankan posisi. Suap sana sini, semata untuk tetap berkuasa. Dihabiskan seluruh anggaran, hanya karena takut jatuh jadi rakyat biasa lagi. Bagaimana mental yang begini ini bisa hidup di hati sanubari bangsaku Han? Apa kiranya yang hendak Kau sampaikan?

Percuma sudah kubaca semua karya pembesar-pembesar Ilmu Pengetahuan itu. Kubaca pemikiran mereka, mulai Aristoteles, …sampai Edward Said. Kini, dengan muntah darah kuselesaikan setiap lembar bukunya, toh politisi busuk disana tetap saja korupsi? Bisa apa aku dengan ilmu pengetahuanku? Bisa apa? Bikin mereka dipenjara saja aku tak bisa. Mereka terlalu sakti, apalah artinya sedikit jurus ilmu ku ini? Pelan-pelan dihabiskan semua harta rakyat sampai tak bersisa. Dimakan sendiri, dan ditumpuk jadi kasurnya. Tahu kamu kasus korupsi Trilliunan rupiah di sini Han? Ah, kamu pasti tahu. Iya kan?

Mungkin sekarang kamu malah terbahak-bahak dengar keluhku ini. Iya, benar begitu Han? Kamu maha kuasa Han, please…jangan diam saja. Aku sudah capek menghadapi ini semua. Ikhtiar sudah. Sabar sudah. Apa lagi? Kenapa tidak Kamu masukkan kebesaran hati dan jiwa dalam setiap kami, manusia ciptaan-Mu ini? Kenapa masih banyak yang tega hidup diatas penderitaan orang lain?

Ah, mungkin inilah keterbatasanku memahami segala. Hanya Kamu yang maha pintar? Maha mengerti? Iya kan? Dengan lihainya Kamu bilang dalam kitab-Mu ilmu pengetahuan manusia hanyalah setitik air ditengah laut. Agar Kamu selalu menjadi yang terpintar. Benar begitu? Aku jadi curiga, jangan-jangan Kamu suruh kami semua menuntut ilmu, agar paham segala isi dunia, lalu hanya untuk menemani-Mu berdiskusi nanti di akherat? He he… Iya kan? Ayolah jawab. Kamu kesepian diatas sana. Kamu suruh kami berkelana di dunia mencari jawab atas segala pertanyaan. Semua ini untuk kepentingan-Mu? Atau memang untuk keperluanku? Jawab Han. Please….

Kalau tahu segala pandangan komprehensif dan holistik ini hanya untuk menyiksa, tentu sejak awal aku memilih menjadi pragmatis saja. Lebih enak, lebih santai. Tidak berpribadi luhur apalagi memahami pendalaman kehidupan. He he…

Ah, tidak tidak. Aku tidak menyesal Han. Aku bahagia Kamu karuniai pikiran yang begini indah. Membuatku melihat warna-warna dunia-Mu ini lebih dalam. Aku suka, senang, dan aku bahagia. Kamu tidak cemburu kan seandainya aku bahagia? Nanti tahu-tahu kamu azab aku? Ampun Han…

Sekarang ini sebisa mungkin aku berusaha untuk tetap bersuka hati Han. Tersenyum menghadapi hidup, meskipun realitas sudah sedemikian pahit. Beruntung aku punya banyak teman yang bisa dijadikan tempat muntah, beruntung pula aku punya kamu Han. Satu-satunya yang mengerti segalanya dari berbagai aspek.

Ini rokok terakhir Han. Untuk kamu. Kamu mau dong? Terima kasih ya sudah menemaniku malam-malam begini. Tentu kamu banyak tugas yang lain. Kamu memang the best. Baiklah, aku sudah puas sekarang. Aku tahu kamu membisu demi kebaikan hubungan kita kan? Antara kamu dan aku. Antara kamu dengan seisi penghuni bumi. Iya kan? Iya kan Han? Semoga saja.

Bumi Tegalboto, Jember
16 Oktober 2008, 01.55 WIB

May 19, 2009   5 Comments

Bait Rindu Untukmu

Mungkin engkau adalah satu satunya perempuan yang bersedia mencintaiku apa adanya. Buktinya aku merindukan saat dimana aku terlalu banyak mengecewakanmu, sementara kau terus saja memberikan kasih sayang yang kini tiada lagi tergantikan oleh siapapun. Seperti mata air yang terus mengalir, engkau mengaliri kejernihan di sungai hari-hariku.

Aku mungkin belum menjadi siapa-siapa untuk dirimu yang kini sudah terlalu lama menanggung begitu panjangnya beban penantian. Padahal banyak hal yang ingin kuberikan sebagai pembalasan akan cintamu yang mungkin sulit terbayar. Tapi keadaan memaksa cerita menjadi lain. Aku malah bergabung dengan begitu banyak generasi Indonesia yang terjebak realitas kehidupan di pentas Dunia Ketiga. Meski aku sudah mencoba, tapi ternyata tetap saja sulit.

Aku jadi merindukan wejangan yang selalu engkau berikan jika keadaan sudah menjadi sedemikian ini. Biasanya tetap saja tidak menolong, tapi selalu saja berhasil menenangkan. Ajaib. Adalah kasih yang menjadikannya bernilai, meskipun dalam penelusuran fikirku aku pun sudah mengetahuinya, tapi segala yang keluar dari bibirmu selalu saja terdengar lebih baik.

Apakah engkau ingat hari-hari kita yang sering diwarnai perpisahan sebab aku terlalu sering pergi meninggalkanmu? Bergabung bersama malam dan hilang tertelan kesemuan. Pencarian jati diri yang seringkali menyakitimu dengan luka yang tentu saja sulit ditanggung oleh perempuan biasa-biasa saja. Aku seperti keledai yang berulang kali jatuh dilubang yang sama, namun dirimu hadir sebagai sosok yang tiada bosan menarikku keluar, lagi dan lagi.

Aku merindukan ketika kusaksikan dirimu tertidur diatas sajadah panjang terbentang, karena lelah berdoa untuk seisi alam semesta. Sementara aku dengan langkah gontai memasuki rumah kita yang sejuk karena doamu sudah mengisi udara. Aku jadi ingin kembali ke masa itu untuk sekadar menyelimutimu yang kesulitan melawan dingin malam karena tahajud memang bukanlah pekerjaan mudah. Sekedar menghangatkan dirimu, karena dahulu tiada sempat aku lakukan.

Aku juga merindukan segelas susu yang selalu saja kau buatkan untukku di setiap pagi yang riuh dengan rencana. Saat semua ramai dengan segala aktivitas, engkau dengan penuh kesabaran mengaduknya perlahan. Lupa bahwa dirimupun punya banyak kesibukan yang harus dilakukan. Segelas susu yang selalu saja mengantarkanku pada kejernihan fikir dalam menghadapi hari.

Kini seperti juga hari yang dulu, aku akan bertarung menjalani ujian hidup. Mencoba mengalahkan dunia dengan tanganku yang tulangnya tidak sekuat tulang-tulangmu. Adalah dorongan dan teduh nasehatmu yang satu saja sepertinya sudah cukup menjadi pemicu handal. Semoga semuanya baik-baik saja seperti apa yang tertera di setiap bait doamu. Kasih sayang itu.

Ah, tentu saja banyak hal lain yang sulit diurai, sebab kasih sayang seperti wangi parfum yang terlanjur bersatu dengan udara. Aku kini kesulitan jika harus terlalu lama berpisah dari wangi yang sudah banyak kau tebarkan. Aku ingin kembali padamu. Bersimpuh dihadapan pengakuan. Bilang aku mencintaimu sepenuhnya, dan berjanji untuk selalu menjadi yang terbaik. Wahai Engkau penguasa waktu, berikanlah hambamu ini sekedar sedikit kesempatan untuk membuktikan segala rasa ini.

Untuk Ibu ku satu satunya, Jember 25 Juni 2008

May 19, 2009   No Comments

Prada

Di sore seperti ini aku sering membayangkan engkau melintas dibawah rimbun pepohonan tua itu. Dijalanan yang diatasnya berserak dedaunan kering. Kulihat mereka berterbangan tertiup angin, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Menegaskan kesepian mereka karena tidak kunjung datang pengunjung yang dahulu sering berdatangan ke taman itu. Kini segalanya senyap. Hanya kicau burung yang sedang sibuk berkawin terdengar disegala sudut ranting pohon.
Engkau adalah perempuan yang aku sendiri tidak tahu namamu. Di Bar tempat kau biasa menari aku tahu engkau dipanggil Prada, tapi namamu yang sebenarnya aku tak tahu. Parasmu seperti bulan, teduh dan lembut. Meskipun sepanjang malam engkau memaksanya tampil mesum dan bergairah, tapi aku tahu wajahmu lembut seperti kapas. Aku sudah melihatnya kemarin malam. Ketika tanpa sengaja kulewati koridor tempat kau biasa berdandan. Dibangku kecil itu engkau terdiam menunduk. Menunggu giliran tampil yang dengan segera akan merenggut keayuan yang tersimpan diwajah itu. Tapi aku tahu. Aku sudah meilhatnya kemarin malam. Wajah teduhmu yang sebenarnya.
Mungkin memang mengherankan bila sekarang ini aku menjadi sulit tidur. Sulit memajamkan mata karena selalu terbayang pertemuan singkat yang engkau sendiri tidak menyadarinya. Aku jadi sering melamun dan melarikan segalanya dengan pergi berjalan-jalan sendirian. Termasuk pergi ke taman ini. Taman yang kini sudah sepi pengunjung. Mencoba melepaskan ingatan tentang dirimu yang habis dicoleki lelaki buaya sepanjang malam di bar itu. Aku ingin menggantinya dengan dirimu yang perlahan melangkah disudut sebelah sana dengan gaun yang menyeret dedaunan. Tersenyum sambil mengulurkan tangan dan merengkuhku perlahan
Ini adalah sebuah rasa yang aku sendiri tidak mampu menjelaskannya. Adakah waktu engkau akan berubah. Menjadi seorang perempuan seperti yang aku harapkan. Mengganti dirimu kini dengan dirimu yang sebenarnya. Dirimu yang masih terkubur didasar jiwamu yang sudah terlalu sering termakan malam.
Engkau adalah perempuan yang aku sendiri tidak tahu namamu. Tapi aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Merubah riuh harimu, dengan tenang yang kutawarkan. Seperti garis cahaya yang perlahan memudar berganti gelap, ditamanku yang kini sepi pengunjung.

Jember, 22 Juni 2008

May 19, 2009   No Comments

Buat Kamu

Kadang tidak semua hal bisa dijelaskan. Banyak yang hanya bisa dirasakan tapi tidak bisa diurai. Seperti kenapa misalnya sekarang disore ini aku duduk menantikan entah apa. Menatap jauh ke gerbang tempat kau biasa lewat. Biasanya aku hanya akan diam saja saat tahu engkau perlahan mulai melewatinya, namun sebenarnya hatiku gembira bukan alang kepalang. Entah kenapa aku menjadi terbiasa menyembunyikan perasaan yang seharusnya aku luapkan. Aku terlalu menahan diri. Aku terlalu kaku dengan hatiku. Tidak membiarkannya mengalir dan bercerita tentang apa inginnya yang sesungguhnya.
Kini ternyata semua itu menjadi sumber bencana dalam hidupku. Ketika tidak lagi kutemukan engkau berjalan diantara gerbang yang menjulang disana. Menenteng tas kecilmu atau gantungan kunci yang selalu kau goyangkan hingga bergemericing. Senyum senyum sendiri sebab engkau sangat percaya diri dengan wangi sabun mandimu yang baru. Jelas engkau mengharapkan banyak hal dari semua pertemuan yang terlah terjadi. Disetiap hari dan disetiap sore yang kita lewati. Entah ungkapan cinta dan sayang, entah pula canda atau tawa yang kita dapati saat kita melintasi jalanan panjang bersama Miranda.
Entah mengapa aku selalu merasa sudah memberikan segalanya, padahal belum apa apa. Dunia memang selalu mengharap semuanya serba tampak dan konkret. Jelas dan bisa dilihat ataupun didengar. Aku tidak memberi itu, sebab yakin hatiku sudah memberinya. Tapi apalah artinya bila kedirianku yang begitu tidak lagi bisa diterima dengan apa adanya. Aku sadar ada bagian dimana aku memang bersalah. Ternyata sulit untuk berdamai dengan segala tuntutan yang datang darimu, sebab aku merasa sudah memberikannya. Tapi maaf bila tak cukup.
Kini aku sudah jauh tersesat dalam kesendirian yang absurd. Aku jadi mencari apa yang tidak bisa aku temukan. Aku merasa aku terus mencari tanpa tahu apa yang hilang. Aku jadi mendambakan pengertian yang sepenuhnya. Jelas itu tidak mungkin. Sebab tak ada yang sempurna. Aku jadi gampang melupakan segalanya demi diriku sendiri. Demi ambisi bahwa ada hal yang seharusnya berjalan seperti apa yang kuinginkan.
Pencarianku tidak berakhir pada apa apa. Selain kebuntuan dan kepusingan yang terus akut merasuk. Merusak segala konstelasi kepastian dan kelurusan berfikirku. Aku jadi cepat kalap dan hambar. Merasa bahwa semua ini hanyalah warna kelabu dalam hidupku dan terus akan begini. Sebab semangat sudah kendur. Sebab mimpi-mimpi sudah berganti. Terus berganti dengan cepatnya. Apa yang harus kulakukan?
Dalam hatiku sudah menginginkan masa depan hidup bersamamu. Menjalani hari dan kisah panjang sampai akhir kita menghembuskan nafas terakhir . Semuanya sudah tertata rapi didalam pikiran dan sanubariku. Yakin bahwa semua itu nyata dan ada didepan mata. Suatu saat akan datang dan akan terjadi. Sebuah keyakinan yang sepenuhnya. Absolut. Sayang sekali semuanya menjadi hal yang menyakitkan. Apa yang lebih menyedihkan dari memaksa dirimu mengganti seseorang yang selama ini ada dalam bayangan dan cita cita mu dengan orang lain. Mengapa aku harus mengganti bayangan seorang perempuan yang akan menggendong anak anak ku dengan bayangan orang lain. Mengapa aku harus mengganti bayangan seorang perempuan yang akan membuatkan aku sarapan pagi dengan bayangan seorang perempuan lain. Mengapa harus begitu? Mengapa semua mimpi dan cita-cita harus begitu saja dicemari? Awalnya memang kupaksa, tapi akhirnya tidak berakhir apa apa.
Aku sudah berulang kali lari dari beberapa bagian dirimu yang sulit aku terima. Mungkin karena aku sedemikian egois mendampakan kesempurnaan. Jelas itu salah. Aku lari dari ketidaksempurnaan hubungan kita. Mencari yang lain, mencari cerita yang lain. Tapi ternyata dirimu selalu membayangi dan sulit hilang. Bukan karena tidak bisa hilang, tapi sebenarnya karena aku menginginkan engkau terus ada dalam pikiranku. Aku ingin engkau. Bukan yang lain. Tapi ketika hatiku berkata itu, aku coba menepisya. Entah mengapa.
Ketika akhirnya aku lelah, aku jadi ingin sendiri. Menikmati segala inginku. Menikmati segala hidupku apa adanya. Aku menikmati keterpurukanku sebab mungkin aku tahu aku tak dapat kembali padamu. Sebab mungkin kamu sudah menutup semuanya. Mengubur semuanya. Sebab ini adalah perpisahan terpanjang kita. Perpisahan hati yang paling panjang, meski aku masih seringkali bertemu dirimu. Mendengar tawamu dari balik sisi gelapku. Mengira-ngira apa yang sedang engkau lakukan diluar sana. Membayangkan engkau berjalan sendiri melewati jalanan sepi. Mengkhawatirkan engkau bertemu dengan seseorang yang lain diluar sana. Seseorang yang mungkin akan lebih sempurna. Yang lebih mengerti dan menerimamu apa adanya. Tapi sudahlah. Inilah kisahku. Kisah hidupku. Aku menyadarinya bukan untuk menangisinya, tapi untuk mengerti bahwa inilah rahmat dan berkah dari garis hidup yang aku jalani. Inilah hidupku. Inilah hidupku. Hidup seorang lelaki yang kini sudah ditinggalkan cinta. Meninggalkan cinta.
Sampai detik ini engkau belum juga berjalan melewati gerbang itu. Entah sampai kapan. Mungin besok. Atau lusa. Bila saat itu tiba, semoga aku punya keberanian untuk mengungkapkan segalanya tentang ini. Tapi diatas itu semua, semoga engkau mau menerima dan mendengarkan dengan hati. Jika ada jalan untuk kembali pada cinta, semoga itu kamu. Jika saat itu tidak kunjung tiba dan takkan pernah tiba, maka biarlah semua itu menjadi sejarah yang sudah tercatat dalam halaman notebook ini. Mungkin akan bisa bercerita dimasa depan. Sebuah kejujuran harus terbuktikan, sebab kebenaran adalah mutlak.
Terima kasih Tuhan, terima kasih cinta. Inilah aku apa adanya.

Jember, 2007

May 19, 2009   1 Comment

Doel

Saya hanya dua kali ke Jakarta. Yang pertama waktu saya masih kecil, masih digendong. Kedua, ketika saya memutuskan bekerja di gudang beras Haji Romli. Sejak itu saya dipanggil Doel. Padahal nama asli saya Tirto Suwiryo Adikarto. Sulit diingat, makanya mereka memanggil saya dengan sebutan Doel. Meskipun hanya sebagai kuli angkut beras, saya senang menulis. Bahkan lebih senang dari apapun.
Sebenarnya saya ingin menjadi penulis, tapi selalu gagal. Maksudnya tidak pernah berhasil dimuat di media massa sehingga bisa dibaca banyak orang. Padahal saya yakin saya sudah menulis dengan baik. Beberapa diantaranya malah bercerita tentang kehidupan nyata, paman saya, nenek saya, bapak saya, adik saya, termasuk saya sendiri.
Waktu SD dulu saya selalu dapat nilai terbaik untuk mata pelajaran mengarang. Tentu saja itu suatu hal yang pantas dibanggakan. Sebab tidak semua siswa mendapat nilai terbaik. Ada yang dapat nilai terbaik, baik, cukup, bahkan ada pula yang buruk. Dan saya selalu masuk kategori yang pertama. Bagi saya, ini seperti sudah suratan takdir.
Saya yakin saya dianugerahi kemampuan menulis sejak kecil. Buktinya saya lebih cepat bisa baca tulis dibandingkan saudara kandung saya yang lain. Saya bahkan sudah bisa berhitung meskipun itu belum diajarkan di sekolah. Kakek saya seorang mandor perkebunan, jadi terbiasa menghitung hasil panennya sampai hasil jualnya ke pasaran. Ia termasuk mandor ulung karena selalu tepat perhitungannya. Kakeklah yang banyak mengajarkan saya bagaimana menulis dan berhitung, berikut rumus-rumus cepatnya.
Kakek adalah orang yang paling berjasa dalam sejarah keluarga kami. Merubah cara berfikir keluarga untuk selalu mementingkan pendidikan, lebih dari apapun. Semasa muda kakek masuk dalam sebuah akademi yang dibentuk oleh Jepang. Ia dajari bahasa Jepang, bahkan lagu kebangsaan mereka. Ia hafal beberapa lagu, utamanya yang dijadikan sebagai mars perjuangan bangsa Jepang. Pendidikan informal dari bangsa Jepang, sedikit banyak menyadarkannya tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan. “Mereka bisa datang kemari, menjajah, dan mengambil hasil bumi kita, karena mereka pandai. Pintar. Pasti mereka semua sekolah”, begitu kata kakek. Bapak tahu, kakek sebenarnya dendam. Tapi bagimana lagi, yang terjajah harus mengalah.
Menulis seperti sebuah ritual dalam keluarga kami. Bapak selalu berpesan, “sambunglah umurmu dengan tulisan, sebab kita tidak abadi”. Pesan ini selalu saya simpan dan coba diamalkan dalam kehidupan. Ini semacam mantra untuk melahirkan semangat menulis. Sangat berkhasiat.
Saya sering menemukan tumpukan berkas tulisan dari zaman kakek masih muda dahulu. Semuanya masih tersimpan rapi. Ceritera tentang kejamnya masa pendudukan Jepang saya punya koleksinya. Kebanyakan warisan dari kakek, termasuk surat-surat dari temannya yang diasingkan ke Belanda jauh sebelum Jepang berkuasa. Semua sudah saya baca. Beberapa sering saya ulang-ulang.
Saya selalu dipesani Bapak untuk menuliskan apa saja yang sudah saya perbuat dalam sehari, setiap kali sebelum saya pergi tidur. Semacam buku harian, tapi tentu tidak sebagus itu. Esok paginya, setelah sholat subuh, Bapak sempatkan untuk membacanya. Biasanya Bapak senyum-senyum sendiri disamping dipan tempat saya tidur. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Sebab hari masih gelap. Dan saya memilih melanjutkan tidur karena sebentar lagi pagi dan saya harus berangkat ke sekolah. Selalu begitu selama bertahun tahun. Tapi tidak setelah Bapak meninggal.
Bapak pergi tidak meninggalkan apa-apa. Ia hanya seorang juru tulis di Kantor Desa. Tidak pernah sampai jadi Kepala Desa, sebab tidak punya uang untuk kampanye apalagi bagi-bagi uang untuk warga. Kerjanya hanya menulis dan menulis. Jika laporan keuangan dan administrasi desa sudah beres, biasanya ia menulis sebuah cerita. Kalau sudah jadi saya disuruh baca. Ceritanya bagus-bagus. Ia pernah bilang, saya harus lebih baik darinya. “Agar tulisanmu tidak lagi hanya dibaca oleh anakmu sendiri, tapi juga orang lain. Masyarakat.”, katanya.
Setelah kematian Bapak keluarga kami langsung jatuh miskin. Sebab hanya ialah tulang punggung keluarga kami. Ibu tidak bekerja. Hanya kadang-kadang bantu tetangga bila ada hajatan. Bantu masak sampai bantu cuci piring. Penghasilannya jelas tidak cukup. Kakak saya yang seorang tinggal di Bandung, bekerja sebagai Satpam sebuah pabrik. Yang seorang lagi tinggal di Surabaya, jadi kuli angkut di pelabuhan. Mereka hanya lulusan SMP. Saya lebih beruntung sebab sempat sekolah sampai SMU, meski tidak sampai lulus.
Kedua kakak saya adalah orang-orang yang juga berjasa dalam kehidupan saya. Mereka rela mengorbankan sekolahnya, sekedar untuk memberikan kesempatan pada saya untuk sekolah lebih tinggi. Tapi ternyata, perjuangan itu harus kandas. Setelah berkeluarga rupanya kebutuhan hidup mereka juga makin besar. Apalagi tinggal di kota besar macam Bandung dan Surabaya. Lama-kelamaan uang kiriman dari mereka untuk membiayai SPP saya terputus. Saya sedih dalam hati, tapi tidak sampai menangis. Sejak saat itu saya berhenti sekolah.
Pada malam-malam yang sepi, Ibu sering menangis dipangkuan saya. Minta maaf karena tidak bisa menyekolahkan saya sampai tinggi. Saya hanya tersenyum, bilang kalau semuanya baik-baik saja. Selama kita dikaruniai kesehatan oleh Tuhan, itu sudah lebih dari cukup. Disela-sela tangis itu, saya bercerita padanya kisah-kisah yang pernah ditulis kakek. Beberapa saya hafal. Ibu diam mendengarkan sambil sesekali sesegukan. Biasanya Ibu baru bisa tidur kalau sudah lelah menangis. Jika sudah begitu, saya terpaksa terus memangkunya sampai pagi.
Setelah kematian Bapak, tinggal kami berdua dirumah sempit itu. Sebenarnya saya tidak tega menginggalkan Ibu dirumah sendirian. Tapi dalam hati saya ingin bekerja. Mungkin merantau ke Kalimantan, atau Sumatera. Katanya disana gampang cari diut. Banyak tetangga yang sudah membuktikannya. Kebanyakan jadi kuli penebang pohon di Kalimantan. Tapi kalau lihat Ibu menangis saya jadi urung.
Waktu itu Mas Karyo, warga Dusun sebelah cari orang untuk bekerja di Jakarta. Jadi kuli angkut beras di sebuah perusahaan milik orang kaya. Belakangan saya tahu kalau orang tersebut adalah haji Romli. Dengan segala bujuk rayu, saya ungkapkan niatan saya untuk merantau di Jakarta. Saat itu Ibu mungkin sudah dicerahkan oleh Tuhan. Ia membiarkan saya pergi agar punya pengalaman dan tidak terus menerus tinggal di desa. Ia hanya berpesan, “Jadilah orang baik sepanjang umurmu”
Dengan segala keberanian saya berangkat ke Jakarta diantar oleh Mas Karyo. Disana seperti janji Mas Karyo, saya bekerja sebagai kuli angkut beras. Upahnya lumayan, bisa untuk kirim uang ke Ibu di desa. Enam bulan pertama saya sudah dapat kenaikan upah. Katanya waktu itu harga sembako naik, jadi upah kuli juga ditingkatkan. Saya bersyukur pada Tuhan, meski kehidupan sebenarnya bertambah sulit.
Sedikit sedikit dari upah yang saya terima saya tabung untuk membeli sebuah mesin ketik. Ini kebutuhan penting bagi saya, bahkan melebihi kebutuhan sandang. Beberapa teman sesama kuli sering mengejek rencana saya. Apalagi ketika sambil tertawa saya bilang, ini untuk hobi yang menjanjikan. Mereka tergelak sambil geleng-geleng kepala.
Saya tinggal di sebuah kontrakan para kuli. Isinya enam orang termasuk saya. Kami urunan untuk membayar sewa tempat dan bayar listrik. Dua diantaranya sudah menikah, punya anak kecil-kecil. Letak rumahnya masuk kedalam gang. Rapat sekali dengan rumah-rumah disebelahnya. Kondisinya tidak seperti di desa yang antar rumah kebanyakan dipisah oleh pekarangan. Saya mencoba menikmati hidup, sambil terus menulis. Kebanyakan inspirasi diambil dari lingkungan sekitar tempat saya tinggal. Dalam dua tiga hari setidaknya saya punya satu tulisan. Biasanya cerita pendek, kadang-kadang juga puisi.
Waktu itu Haji Romli punya anak seorang gadis yang cantik sekali. Sering jadi cerita dan bahan khayalan para kuli, utamanya kalau datang saatnya ia berkunjung ke gudang. Saya tidak tahu nama lengkapnya, beberapa kuli yang lain memanggilnya Non Yeni. Saya menghormatinya meski usianya lebih muda dari saya. Ia adalah anak juragan yang secara otomatis juga berkuasa penuh atas hidup dan penghasilan saya. Non Yeni sering jadi bahan ispirasi bagi saya untuk menulis. Saya sempat jatuh cinta, tapi tentu saja itu hanya mimpi di siang bolong. Apalah daya tangan tak sampai memeluk gunung kata saya dalam hati.
Saya segera menepiskan angan yang tidak-tidak. Saya hanya berfikir untuk bekerja dengan baik. Menghasilkan uang agar bisa terus mengirimi Ibu di desa. Setiap hari saya berangkat bekerja pukul tujuh pagi. Cukup dengan berjalan kaki, sebab lokasi gudang tidak begitu jauh. Pulangnya saya selalu menyempatkan diri mampir dikantor pos untuk mengirimkan naskah cerita yang sudah saya buat. Harapannya naskah saya dimuat dan bisa dapat uang tambahan. Sisanya untuk mengirimkan sedikit kebanggan pada Bapak saya di alam kubur. Semoga ia tahu kalau anaknya bisa lebih baik.
Hari demi hari penantian, tidak ada satupun diantara seluruh naskah kiriman saya dimuat di media massa. Saya tidak menyerah, saya terus menulis. Karena menulis bagi saya sudah menjadi bagian dari hidup layaknya kebiasaan makan dan tidur bagi kebanyakan orang. Keyakinan saya terus tumbuh karena saya percaya manusia bisa merubah nasibnya sendiri.
.

***

“Dan disinilah saya sekarang pak”, kataku pelan. Bibirku kering karena terlalu banyak cerita. Lalu aku meneguk segelas air yang ada di meja.
“Tapi kamu sanggup”, tanya seorang lelaki yang saat ini duduk di depanku. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Ia adalah sosok yang namanya tercantum di surat yang datang padaku kemarin pagi. Surat mengejutkan yang mengharuskanku datang ke ruangan yang setiap sisinya dipenuhi penuh buku ini. Sebuah kantor yang dipintunya ditulisi ‘Bagian HRD’.
“Sanggup”
“Tapi, jadi penulis tetap tidak mudah lho. Apalagi ini perusahaan besar. Kamu tahu sendiri kan? Ketat.”
“Saya tahu saya bukan orang yang terdidik secara akademik. Tapi saya akan usahakan yang terbaik Pak. Saya punya banyak stok cerita pendek untuk bapak terbitkan di koran Bapak.”
“Lalu bagaimana dengan nasib Ibu mu di desa?”
“Saya akan sesekali berkunjung ke desa untuk ceritakan beberapa kisah yang sudah saya buat untuknya. Semoga ia tidak lagi menangis seperti dulu”.
“Terus bagaimana dengan, Non Yeni?”
“Jika keuangan sudah membaik, saya akan kembali ketempat Haji Romli. Saya mau lamar anaknya.”

May 19, 2009   No Comments

Jazz

Sepertinya dia mencintai aku. Bukan tebak tebakan, tapi inilah yang sebenarnya kurasakan. Dari semua yang muncul dan kami lewati bersama, aku bisa buat kesimpulan. Kadar keragu-raguan masih ada, cuma sedikit. Pokoknya meski dia tidak katakan langsung aku berani sumpah. Dia mencintai aku. Titik. OK. Jangan bantah”.

Mendengar itu Poppy kontan diam saja. Matanya lekat menatap mataku. Agak lama, lalu lemah menggelengkan kepalanya. Aku jadi tambah bingung. Apalagi disusul dengan senyumannya yang ganjil. Jelas saja kalau itu dibuat buat. “Yowis, kapan-kapan aku kesana”, Poppy mulai bicara. “ Lho sekarang saja, mumpung aku lagi semangat”, aku berusaha menunjukkan antusiasmeku. Tapi Poppy malah kembali mencoba menenangkanku, “Aku percaya semua omonganmu. Tapi malam ini aku banyak kerjaan. Soal itu besok saja. OK”. Aku yang begitu bersemangat,lagi-lagi terduduk lemas menyaksikan Poppy yang langsung terburu melihat jam tangannya. Sudah kuperkirakan kalau dia bakal segera pergi meninggalkanku. Yah, seperti yang lain kurasa Poppy juga tidak percaya.

***

Tengah malam. Hening dan senyap. Suara jangkrik bersahutan. Dingin dan banyak nyamuk. Sekarang ini, seperti malam yang lain, adalah waktu special buat kami. Satu ruang yang hanya aku dan dia berhak mengisinya sesuai apapun itu keinginan kami. Kalian jangan tertawa. Sebab malam ini, kami akan benar benar bercinta. Maksudku, bercinta yang sungguh-sungguh bercinta. Tau kan? Nah dia sudah datang. Ssst… .

***

Namanya Jazz. Aku bertemu dengannya pertengahan bulan ini. Baru sebentar sekali jika dibandingkan siapapun yang sudah kenal aku lebih dulu. Apalagi, mengingat belakangan ini aku juga jarang, bahkan malas membuka relasi baru. Tapi bukan itu inti persoalannya. Tiga belas atau kalau tidak salah empat belas hari bersamanya belakangan ini adalah ratusan tahun yang begitu indah. Dan dia dengan dengan segala yang melekat dalam pribadi serta wujud tak menentunya, begitu mengerti aku keseluruhan. Total. Percaya atau tidak, itulah yang terjadi. Tapi tidak apa apa, aku bisa ngerti kok kalau kalian tidak percaya.

Ya sudah, biar kuceritakan pada kalian.

Suatu senja dalam perjalanan pulang dari kantorku, sekitar begitu sunyi. Tapi tidak kurasakan sepi. Sebab, ramai sekali dihati ini. Masing-masing minta diperhatikan. Aku yang lelah, bertambanh stress dan kalap. Untungnya, kaki ini masih bisa diajak kompromi. Paling tidak dia masih mau mengantarkanku menatap mentari sesaat sebelum ia tertelan malam. Dan untuk itu aku berterima kasih, karena setidaknya sore ini masih sedikit bernilai.

Dari ujung lapangan, aku menyeberang menuju ujung yang lain. Kontrakan kecilku, adalah bedeng sederhana ditengah kumuhnya rumah susundan kos-kosan. Sebuah tempat yang terlalu memalukan untuk dibandingkan dengan gedung-gedung megah selang satu kilo dari rumahku. Tapi ini Jakarta. Dan terlalu bodoh untuk terus memikirkan hal itu, sementara tiap harinya harus disibukkan dengan kerja dan kerja.

Kakiku hampir mati rasa. Tempat tidur adalah cita-cita yang teramat jauh untuk digapai. Meski hanya untuk sekedar berbaring diatasnya. Terus saja aku gontai menapakkan sepatuku ditanah becek. Sepatu yang hampir tiga tahun menemaniku bolak-balik melintasi lapangan ini tanpa bosan. Juga lapangan yang tidak pernah berubah semenjak pertama kali aku memutuskan tinggal disini. Dan kontrakan mungilku masih begitu jauh. Oh, apa yang lebih membosankan dari ini semua.

Sial, dancuk, anjing, keparat, monyet, semuanya keluar tiba-tiba dari mulutku bersamaan dengan tubuhku yang terjerembab jatuh di kubangan. Astaghfirullah. Semoga kata yang terakhir ini bisa segera memaksa Tuhan memaafkan aku. Berjuta masalah rupanya mengganggu konsentrasi kakiku dalam melangkah. Dan akibatnya adalah, ini semua.

Kemeja, celana serta wajahku, kuyub lumpur. Hampir tidak lagi menyerupai kemeja. Terima kasih untuk tidak menyebutnya lap pel. Perlahan lahan aku bangkit lalu sibuk memaki sambil sambil repot membersihkan kotoran disana-sini. Dengan kondisi seperti itu aku lebih memilih untuk duduk ditengah rerumputan dan mulai tertawa sendirian. Yah hanya berharap, semoga saja semua ini berbalas kebaikan.

Tidak lama dari kepusinganku yang tak berujung, mataku menangkap sesuatu diatas onggokan tanah kering disudut lapangan. Oh Tuhan, jangan-jangan inilah jawaban-Mu. Segera kuhampiri dan langsung terkesima menatap sebuah kaset tergeletak ditanah. Jelas tertulis diatasnya, Jazz.

***

Sepanjang malam dia sibuk menjelma dirinya menjadi bunga, kupu-kupu, padang rumput, gunung, ngarai, jurang yang dalam, bintang, bulan serta mentari, diskotik, striptease, anggur, celana dalam, beha, payudara, pantat, ciuman serta pelukan hangat, senggama, bahkan rajutan ribuan kata cinta.

Perjumpaan pertamaku dengan Jazz, rupanya cukup menakjubkan. Aku yang terkesima awalnya histeris, tapi kemudian senyam senyum sendiri. Namun tidak saja tidak merubah kelakuan Jazz yang terus menerus tanpa bosan bertransformasi di langit-langit kamarku. Nah, coba lihat! Sekarang dia malah menari bagai putri India dengan pusar yang sembarangan di obral.

Oh Jazz, lemah alunanmu begitu kontras dengan perwujudan dirimu dalam realita. “Please Jazz, ayo turun dari sana, aku sudah mulai pusing nih ngeliat tingkahmu”, keluhku yang kututup dengan dengusan panjang. “Jangan lagi sekali-kali kau tiupkan racunmu di udara. Meskipun sedikit, tetap saja membuatku mabuk. Ayo Jazz… please”.

Karena bingung, akhirnya kuputuskan mengajak Jazz bermain di padang rumput. Harumnya semerbak memenuhi ruang kamarku. Menebarkan wangi sabana, disetiap sudut dimana cucian kotorku tergeletak. Begitu alami dan menyenangkan. Kami asyik berputar bahkan berguling guling di padang luas itu. Sebentar bosan, Jazz berubah lagi menjadi awan. Aku diajaknya keliling dunia. Mampir di Perancis, Swiss, juga di jembatan yang besar sekali di California. Dari sana aku diajaknya ngebut naik Porche Sport terbaru putar-putar Vegas. Singgah di bar, lalu mabuk bersama. Sepanjang waktu dia terus saja meninabobokanku dengan tembangnya. Lalu seperti layaknya serial TV, aku dan Jazz menutupnya dengan ciuman panjang.

Begitu pula dengan malam-malam yang lain. Sepi dan hening kamarku tidak lagi membatasiku dengan ramai dan meriah. Berkat Jazz. Kekasih baruku yang setia. Oh, ini bakal lebih parah dari candu. Aku sadar itu.

***

Ini Sabtu, 29 Februari. Sembilan lewat sepuluh malam.

Tiba tiba Jazz berubah menjadi kutub utara. Begitu dingin, berasap serta menggigilkan. Putih sekali. Ingat mengucapkan yang satu ini harus dengan tekanan pada I yang panjang. OK/ Sering juga sih aku terlena berbaring manja dibahunya. Namun longsoran gletser yang bertubi-tubi malah buat aku sadar kalau berlama-lama disana bias mematikan. Jadi cukuplah, meski Cuma sebentar, aku bias mencicipi sekali lagi transformasi dirinya yang mendebarkan.

Terkadang aku memang sering heran. Kedatangannya bisa membuat aku shock, dilain waktu malah buat aku penasaran. Tapi sumpah, mala mini dia benar-benar bersikeras berubah menjadi kutub utara. Aku tidak sepenuhnya paham sebab musababnya. Karena –jangan tertawakan aku ya- bahwa itulah dia. Sosok yang seenaknya kesana kemari. Berubah wujud semaunya. Menjadikan aku patung goblok yang ditindas kuasanya. Aku seperti tersedot masuk dalam kegelapan yang tak berdinding. Meraba kanan dan kiriku dengan putus asa. Dan dia, memanbg benar-benar dia yang mengejutkan. Tiba-tiba menangkap lalu mengikatkudiranjang sepi. Hanya aku dan dia.

Aku yang kere dan tidak berdaya, diciuminya sampai mampus. Sialnya ini baru foreplay. Karena aku tahu pergelutan masih panjang, aku memilih menahan nafas dan menyimpannya diparu-paru. Kalau saja nanti aku benar-benar mati, paling tidak nafas simpananku masih bisa membangkitkan aku lagi dan balik memperkosanya.

Ah, tak tahulah. Sepertinya aku mulai bisa menikmati permainan. Ternyata nikmat juga menjadi korban perkosaan.

***

Malam yang lain. Tepat dua dini hari. Hujan deras yang berisik ramai menyerukan rintiknya di atap kontrakanku. Seperti biasa, Jazz datang lagi. Dan seolah-olah sudah terjadwal, kami memulainya dengan membahas banyak hal sebelum menuju acara inti. Bercinta. Bagian ini diisi dengan banyak tertawa daripada serius. Matanya yang jernih berbinar kala dia cekikikan menggoda aku. Nafasnya hangat terhirup hidungku. Tangannya lembut menggerayangi sekujur tubuh. Aku terpesoba dalam diam.

Saat kulihat ia sudah tak sabar minta disetubuhi, segera kurenggut putting susunya, menghisap lalu menikmati desahnya. Aku bersumpah kalau kali ini aku harus menguasai permainan.

Kami bercinta dalam lautan keringat. Menghabiskan malam sebelum ia harus pergi. Selalu saja kurasakan sepi yang segera datang tiap kali ayam jantan mulai berkokok. Sebah tanda peringatan akan perpisahan. Meski sadar bahwa esok aku akan berjumpa lagi, namun tetap saja tidak ingin rasanya kulepaskan pelukanku darinya. Menyedihkan sekali jika tiap pagi kala mentari mulai bersinar, aku mencoba mati-matian mengenang dan menikmati bekas payudaranya di dadaku. Oh Jazz. Aku mati dalam candumu.

Dan tidak salah lagi, menjelang subuh, ia berpamitan dan lenyap meninggalkan ruang kamarku. Aku kembali membumi ditengah serakan buku dan bau apek calana dalam.

***

Begitu Poppy pergi meninggalkanku, segera kutelan habis sisa kopi di meja kafe. Aku sudah sepenuhnya sadar bahwa tidak mungkin ada satupun dari mereka bakal percaya. Sia-sia rasanya bercerita panjang lebar kalu mereka tidak melihat dan merasakan langsung seperti apa yang kurasakan. Benar-benar sebuah pengalaman pribadi yang ‘religius’. Oh Jazz, gara-gara kamu aku jadi gila. Terima kasih atas segala kasih saying yang sudah kita lewati. Kita akan menjaganya tetap abadi. Aku mencintaimu seperti kutahu bahwa angkaupun mencintaiku.

Petugas kasir membuatku terjaga dari lamunan. Segera kubayar dan mengucapkan maaf dan terima kasih dengan terbata-bata dan hampir bersamaan. Dari wajah bingungnya aku bisa tarik kesimpulan bahwa ia tidak sepenuhnya ngeh dengan kata-kataku. Oh, aku memang serba gugup belakangan ini. Jangan jangan ini indikasi kalau aku sudah gila. Andai saja ada dari mereka yang mau mengantarku ke rumah sakit jiwa. Sekedar cek, mungkin. Ah, tak tahulah.

“Blues!!”, kudengar seseorang memanggil namaku. Dari depan pintu kafe kulihat Poppy berlari tergesa menghampiriku. Terheran-heran aku kenapa Poppy sampai begini kalut.

Kamu memang sudah gila!!! Aku sekarang hampir sepenuhnya tidak percaya. Kamu memang sudah sinting!!”, Poppy nyerocos tidak karuan. “Ada apa?”, kataku pelan mencoba menenangkan keadaan. “Ada seseorang didepan mencarimu. Mencak-mencak sama satpam, bersikeras maksa masuk kesini. Katanya mau minta tanggung jawab sama kamu. Dia Hamil!! Kata satpam namanya Jazz!!”

Aku diam dan terpelongo, berkata lirih pada Poppy untuk mengantarkanku cek jiwa. Tapi percuma kurasa ia tak mendengar.

Jember, 30 Januari 2004

(Cerpen ini pernah diterbitkan di Bulettin Nasi Putih. Beruntung karya yang satu ini tercatat tanggal penulisannya. File asli tulisan ini telah lenyap bersama komputer saya yang rusak dan digondol tukang servis. Beruntungnya lagi cerpen ini sempat di print dan terjaga dalam tumpukan arsip lama di lemari saya. Thanks God…)

May 19, 2009   No Comments

Pocut Meutia Love Reinaldi Achvagoza

Terima kasih Cut, kamu sudah bersedia datang malam ini. Hujan diluar sudah cukup bagiku untuk menandakan kalau kamu serius. Sekali lagi terima kasih. Kamu kelihatan menggigil . Pesan teh hangat?

***

Rei, jika aku ingat semua ini, aku jadi lupa kalau kamu kejam. Malam itu tujuh Februari yang membawaku pada cabang konsekuensi berikutnya. Aku tidak merasa terjebak apalagi menyesal dengan segala pilihanku. Aku hanya merasa perlu bertanya pada Tuhan tentang maksudnya mengirimkan semua ini padaku. Ah, aku bingung Rei…

Jikalau malam itu hujan turun lebih deras. Atau jika Mama lebih tegas melarangku keluar malam. Atau jika saja ada panggilan mendadak dari kantor seperti yang biasa terjadi. Atau jika sopir taksi yang kutumpangi nyasar. Atau bahkan jika malam itu aku tertabrak mobil, pastilah tidak akan sesakit ini Rei. Keputusan itu. Aku nyaris bunuh diri dengan memori ini. Aku tidak kuat Rei…

Kafe Diggers, Sembilan lewat empat belas malam kamu meminangku. Menyelipkan cincin permata dari gaji pertamamu ke jari manisku. Aku yang diam saja, tambah kamu serang dengan “Lusa kita menikah”. Aku semakin membisu dan kesulitan bernafas. Dan ketika akhirnya kamu menciumku, itulah pertama kalinya kurasakan sentuhan paling dalam yang membekas hingga kini…

Rei kamu bajingan. Tapi aku tak mampu membencimu. Sayangku padamu melebihi apapun yang berserak di jagat raya. Tidak seredup Bulan tapi lebih terang dan hangat dari matahari. Ah, aku terlalu gombal. Bukankah keindahan diantara kita adalah sesuatu yang tidak terdefinisi, apalagi dianalogikan. Yak kan Rei… Biarkan mereka tidak bernama. Itu lebih membahagiakan.

Jika harus kupilih siapa yang akan paling kubenci, tentu aku memilihmu Rei. Kaulah penjahat yang berhasil merampok semuanya dari diriku. Kusalutkan kemenanganmu. Tapi kumohon, jangan lagi kautempatkan siapapun dalam posisi sepertiku sekarang. Aku pun mencintai kaumku.

***

Ketika malam itu mendadak semuanya menjadi sepi, aku mengerti bahwa kau menunggu jawabanku. Jelas aku bingung Rei, sebab kau sudah bertunangan. Dan siapalah diriku ini Rei, jika harus kukatakan, kuterima pinanganmu. Aku hanyalah Pocut Meutia yang belum pernah mengenal apa itu cinta dan sayang sebelumnya. Aku hanyalah seorang Pocut Meutia yang menyedihkankarena harus mencintaimu yang bukan milikku. Aku hanya ingin menangis Rei. Aku hanya ingin menangis…

Tulisan lama yang naskah aslinya masih berupa tulisan tangan bercampur beberapa sketsa gambar. Ditulis sekitar tahun 2003. Ketik ulang lalu posting di halaman ini tahun 2008. Ah…, betapa zaman sudah berubah.)

May 19, 2009   No Comments

Kalian dan Kita

Malam. Kemarin juga malam. Esok…?

Aku tengadah menatap lagit-langit kamarku sambil doa. Tidak tentu apa yang kupanjatkan. Tapi Tuhan punya naluri yang kupercaya dapat memahamiku sedalam dalamnya.

Aku tidak ingin menangis dalam sendiri ini. Tapia pa yang kupunya selain air mata. Andai saja aku secantik dirinya. Anda saja aku seperti mereka yang kau bilang semampai. Andai saja aku penuh talenta seperti yang selalu kau dambakan. Tentu saja aku tidak terduduk disini dan berderai air mata yang berdarah darah seperti sekarang. Andai…

Lelaki, akulah yang berdosa padamu. Jangan pernah kau sakiti dirimu dengan rasa bersalah itu. Akulah yang tak mampu memberimu segala. Akulah yang serba terbatas. Akulah yang lemah dan lumpuh. Akulah yang membuatmu demikian adanya. Aku tidak akan mengeluh didepanmu dengan cucuran air mata. Juga dengan rengek yang membuatmu bimbang ataupun ragu. Pergilah dengannya. Dan jangan menoleh lagi kesini, sebab aku sudah punya diriku sendiri. Aku yang sudah terisi tubuhmu.

**

Pagi. Juga seperti pagi yang kemarin. Esok…?

Sekarang mungkin kau sudah duduk bersanding kekasihmu menuju Amsterdam. Terbang melintasi langit ke negeri nun jauh disana. Tidak kutunggu engkau kembali. Namun kunanti kasihmu tetap hadir dalam sendiriku. Cuma itu. Maka datanglah bersama bayanganmu kesini. Kutunggu. Selalu.

**

Gerimis. Seperti tahun lalu. Penghujan yang rutin.

Kunikmati buncitku yang berisi dagingmu. Kuelus dan kujaga sampai dia benar-benar siap menerobos keluar menyaksikan dunia. Jiwamu yang melekat padanya kutunggu. Perwujudan dirimu seutuhnya kunantikan. Satria kita yang kan jadi lelaki tangguh perkasa. Oh darling andai kau ikut denganku menunggu kelahirannya.

Lelakiku. Aku tahu engkau tidaklah mungkin mengingatku lagi. Sebab dirinyasudah sepenuhnya menggantikan aku. Tapi Satria kita. Dia membutuhkanmu yang tak tergantikan. Dan segalamu tak mampu kuajarkan padanya. Demi dia kuingin kau pulang lelaki. Demi Satria kita…

**

Sore. Mendung seperti kemarin dan kemarinnya lagi.

Koran itu sedari tadi tergeletak disana. Menungguku meraihnya, namun tetap tak kulakukan. Demo mahasiswa anti politisi busuk memenuhi halaman muka. Halaman berikutnya kupastikan tentang kunjungan Presiden. Dan berikutnya tentang perkosaan. Dibelakangnya lagi pasti tentang kampanyeanti narkoba. Seperti biasa.

Karena jenuh, kuraih juga akhirnya lembar koran yang sebagian sudah kena siram kuah sayur itu. Tak kusangka kekasihmu yang popular dan cantik itu mengisi halaman paling belakang. Tidak berpose seperti biasanya namun berdarah dan tergeletak dipinggir jalan. Sebuah kecelakaan merenggutnya. Tersentak aku bersamaan dengan munculnya dirimu di serambi depan. Tersenyum dan seperti ingin memelukku.

Berlari kusambut kamu dengan dekap. Dan kudengarkan tiap dengus nafasmu bercerita tentang kematian kekasihmu. Meski kau menangis, bahagia pula akhirnya kudengar dari bibirmu kau kan menikahiku.

**

Sekarang adalah esok itu.

Kuresapi tiap rayumu memastikan keabadian. Betapa engkau begitu piawai merangkai kata. Oh lelakiku, sudahlah.

Kutahu engkau mencintaiku hari ini. Sama seperti kau bilang kemarin dulu. Dan kemarin dulunya lagi. Meski sekarang adalah esok yang kunantikan tapi bagaimana dengan lusa. Sungguhkah kau kan tetap seperti ini. Sedangkan kau adalah seorang lelaki.

Tapi sudahlah.

Bukankah aku perempuan. Bukankah aku yang akan selalu menerimamu sejadi-jadinya dirimu. Ibliskah, Malaikatkah? Bajingankah? Dan sebab aku perempuan, ketidaksempurnaanku bisa kapan saja kau tinggalkan. Jadi jangan pernah khawatir darling untuk terus mengobral kata-kata indahmu. Sebab aku perempuan. Tidak akan berkomentar selain menyunggingkan senyum dan pura-pura bangga bisa memilikimu. Terima kasih.

Untuk dia yang selalu menginspirasi.

(Tulisan jadul banget, mungkin sekitar tahun 2003. Posting berjamaah dengan tulisan-tulisan lain yang juga baru ditemukan di tumpukan arsip lama.)

May 19, 2009   No Comments

Masokis

Saya pernah punya cita cita jadi seorang astronot. Bisa terbang ke bulan lalu loncat-loncat disana. Tapi berhubung beberapa teman bilang kalau Bulan itu begitu jauh dan tinggi, maka saya urungkan niat saya. Maklum saya punya semacam pobia akan ketinggian. Lagian naik angkot pun saya mabuk, apalagi kalau harus mengendarai pesawat jet ke bulan. Tidak tidak. Saya bukan tipe masokis.

Karena bosan terus-terusan jalan kaki, saya juga jadi kepikiran untuk punya mobil. Kebetulan suatu hari dalam perjalanan pulang kerumah bersama beberapa teman, saya melihat sebuah mobil yang begitu membuat saya ingin memilikinya. Salah seorang teman bilang kalau itu mobil namanya be em we. Bangkunya empuk, longgar, dan ada ase nya, tapi harganya mahal. Langsung saja saya ajak mereka pergi ke sow rum tidak jauh dari situ. Maksudnya untuk liat-liat dulu. Siapa tahu ada yang mau kasih satu mobilnya buat saya. Tapi karena terlalu lama nongkrong di depan sow rum, kaki saya jadi kesemutan. Dan kelihatannya mbak cantik yang didalam sana tidak kasih tanda kalau mau ada pengundian dor pres. Ya sudah, percuma saja saya terus-terusan menunggu tanpa kepastian. Karena seperti saya sudah bilang tadi, kalau saya bukan tipe masokis.

Oh ya, dulu juga saya punya keinginan untuk bisa jadi presiden. Tapi duluuuuu banget. Waktu es de. Kata guru saya, Presiden adalah orang pinter yang bisa mengendalikan negara ini. Punya banyak uang dan disenangi oleh rakyat. Bisa jalan-jalan keluar negeri dan ketemu turis-turis. Tapi ternyata, baru-baru ini, banyak orang rame-rame dijalanan. Katanya menuntut supaya Presidennya lengser dari jabatan. Beberapa diantaranya teriak-teriak kalau rakyat tidak sudi punya Presiden seperti inilah, seperti itulah. Ya ampun, betapa sengsara jadi Presiden. Di cemooh rakyat dimana-mana. Meski katanya bisa jalan-jalan keluar negeri dan punya banyak uang, saya batalkan niat saya untuk jadi Presiden. Saya tidak bisa di hina seperti itu. Saya ini punya harga diri. Saya tidak mau membohongi hati nurani. Saya bukan tipe masokis!!

Jangan pernah meremehkan saya. Saya pernah pula punya keinginan untuk melamar bule. Kupikir mereka pasti menyukai aku yang pendek, hitam, lucu, dan imut. Tapi ternyata mereka semua bajingan. Dari pengalaman beberapa teman, saya jadi tahu kalau saya cuma bakal dijadikan selingan ditengah-tengah liburan mereka disini. Padahal saya sudah sempat membayangkan kalau saya nanti bisa beristri orang seperti mereka. Tapi daripada saya jadi korban, lebih baik saya memilih produk local. Karena sekali lagi, saya bukan tipe masokis! Titik.

Saya cuma orang miskin. Tukang sapu jalan. Kemana-mana tidak pakai sandal. Punya anak tiga, dan istri dua.

Suatu siang sepulang dari warung kopi, saya langsung menuju rumah. Berharap bisa tidur siang, dan mimpi indah. Tapi apa daya, istri muda malah kasih kode buat bercinta. Sayangnya, stok kondom dirumah kebetulan habis. Saya takut kebobolan kalau tidak pakai pengaman. Akhirnya saya bujuk istri saya untuk menunda sebentar nafsunya. Saya jelaskan kalau saya tidak mau punya anak lagi. Hidup ini sudah cukup susah. Buat makan saja pas-pasan. Sendal jepit saja tidak terbeli. Apalagi kalau harus tambah ngurusi satu anak lagi. Tidak tidak!! Saya ini bukan tipe masokis sayang. Saya tidak ingin bercinta kalau tidak pake kondom!!

Mas, jangan marah marah gitu dong. Besok juga gak apa-apa.

Nah begitu dong… Iya, saya mengerti kok perasaan mas. Tapi saya gak ngerti soal masokis-masokisan itu mas. Emang itu apaan sih mas?

Eh, ……. Semacam, eeee …., apa ya … . Ah sudah dek gak usah tanya-tanya lagi. Susah saya jelaskannya. Ini bahasa orang sekolahan. Kamu pasti gak tahu.

Tapi saya penasaran lho mas. Emang apa sih maksudnya mas?

Eee…, masokis itu…., semacam…. , apa ya…. . Ah sudahlah. Aku kok jadi bingung ngadepin kamu ini. Ya sudah-sudah, ayo bercinta saja.

Lho, katanya masokis. Masokis itu apa… mas….? Masokis itu… . Ah ayo dong bercinta. Masokis itu apa dulu dong?!

Ehhh…

Red Carpet Community Jember, 5 Maret 2004

(Cerpen lama yang akhirnya di posting juga. Saya terpaksa ketik ulang cerpen ini setelah menemukannya terbengkalai dalam map arsip jadul.)

May 19, 2009   No Comments