human wanna be

Category — Belajar Jadi Manusia

Kisah Dalam Sebuah Bus

Oleh. Romdhi Fatkhur Rozi

Dari banyak perjalanan, sebagian besar diantaranya adalah himpitan yang membuat kita, kalau mau jujur, seharusnya merasa beruntung. Banyak melihat kenyataan yang seringkali tidak sesuai dengan harapan. Banyak mendengar kedengkian yang melemparkan kita pada kesunyian berfikir. Merasakan bahwa dunia ini sebenarnya diciptakan untuk segala sesuatu yang ada didalamnya, untuk bersama hidup dalam sekilas cerita di rentang waktu kehidupan.

Ada seorang ibu, bersama entah suami atau lelaki hidung belang, menggendong seorang balita di sebuah angkutan yang setiap minggu nya kutumpangi. Mereka mengamen dengan suara parau, diselingi erangan anaknya yang meminta perhatian. Kulihat sebagian besar dari kami, penumpang bus itu, tidak ingin terlalu jauh larut dalam pemandangan yang menyedihkan itu. Ada sebuah perasaan haru, tapi lebih banyak kesal. Mengapa Tuhan menampakkan segalanya dengan begitu apa adanya. Menunjukkan pada kita semua bahwa “inilah sebagian cerita dalam dunia yang kau tinggali”.

Seorang lelaki berikutnya naik ke dalam bus yang sama. Juga menyanyikan sebuah tembang dengan teknik vokal yang lebih menyerupai sebuah raungan. Lamat-lamat, indah pula pesan dalam tembangnya. Kesan menyentuh hati. Kuperhatikan lima jari di tangan kanannya hilang. Ada sedikit daging tersisa menyerupai jempol, yang sesungguhnya tidak lagi dapat disebut sebagai jari. Disitu ia menempelkan pick gitar nya, dengan lem atau entah alat perekat apa. Apa kiranya kisah yang membawanya sampai pada bus ini? Tatapannya kosong, memandang keluar jendela, di sepanjang jalur tol yang lebih mulus dari nasibnya.

Di sebuah persimpangan, dua anak perempuan ikut serta dalam perjalanan bus ini. Yang lebih besar menggendong ukulele, yang satu lagi membawa rangkaian tutup botol dalam sebuah kayu kecil yang dijadikannya alat musik. Mereka bernyanyi tanpa peduli situasi. Suaranya fals. Seharusnya sekarang mereka belajar atau mengerjakan tugas sekolahnya. Tapi kini mereka meramaikan bus kami dengan hiburan alakadarnya. Semua tahu ini hanyalah sebagian kecil dari banyak potret sama seperti mereka di puluhan kota besar lain di negeri ini.

Kalau setiap harinya kita duduk diruangan ber AC, bersenda gurau dengan teman dan rekan kerja. Makan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk sesuai keinginan. Belajar tinggi dan membaca segala teori yang menganalisis tentang kondisi sosial masyarakat. Punya waktu untuk bercumbu dan menghayalkan cita-cita romantis bersama pasangan. Kini apa sesungguhnya makna dari segala pelajaran di bangku kehidupan ini? Aku hanya ingin punya keberanian untuk menghadapi segala sesuatunya dengan bijaksana.

April 24, 2010   No Comments

Gue Dapat Sepuluh Poin!!

Banyak seharusnya yang bisa diceritakan, tapi karena sudah terlanjur tertumpuk oleh banyak cerita dan kejadian, jadi males mau menuliskannya disini. Mungkin mengalir sajalah, dan berikut ini adalah sepuluh hasil kontemplasi gue di sela-sela semua kisah yang penuh ambiguitas.

Pertama, Tuhan itu ada. Stop berdebat soal ini!

Kedua, Mungkin sudah bukan saatnya gue bertanya “kenapa gue Tuhan?”. Tapi yang jelas itu sudah tergariskan. Jadi gue memilih diam.

Ketiga, Hidup ini kalau kita mau benar-benar jujur dan coba memikirkannya sedikit saja, ternyata memang “cuma sekali”. Dan gue sudah memutuskan untuk tidak membuang masa muda gue dengan bertindak konyol dan terlalu banyak ha-ha hi-hi. Gue punya cita cita, dan gue yakin Tuhan bersama gue.

Keempat, cita-cita itu nomor satu. Gue gak sanggup kalau harus bangun tidur dengan kesadaran bahwa gue sedang di surga. Ini dunia. Bukan akherat. Disini manusia di hukum. Kalau mau hidup enak harus berusaha dengan tangan sendiri. Gantungkan cita-cita setinggi langit itu bukan omong-kosong. Mau, hidup di kolong jembatan?!

Kelima, Tidak ada pekerjaan yang hina di dunia ini. Mereka yang hina adalah mereka yang tidak bekerja dan berpangku sebelah tangan. Selama kita bekerja dan menghasilkan sesuatu dengan tangan kita sendiri maka itu lebih mulia dari apapun.

Keenam, Banyak teman banyak sahabat adalah tempat berbagi, dan mereka selalu menjadi yang terbaik seandainya kita berani hidup dalam pemakluman. Gue sadar merekalah yang kalau kita mau terus terang ke diri sendiri adalah perpanjangan tangan malaikat. Banyak anak banyak rezeki mungkin sedikit konyol di era kapitalisme global ini. Sekarang zamannya banyak teman banyak rezeki. Amien!

Ketujuh, Uang dan cinta, itu dua hal yang berbeda. Pikir baik-baik sebelum semuanya terlambat. Pahamilah bahwa keduanya itu bukan pilihan. Bukan substituen, tapi saling komplementer. Mudah-mudahan gue selalu diberi kekuatan untuk mengejarnya sampai batas umur gue.

Kedelapan, mencintai diri sendiri itu betul. Mencintai orang lain juga benar. Menjadi salah kalau mencintai diri sendiri, tapi berhenti mencintai orang lain. Atau mencintai orang lain tapi berhenti mencintai diri sendiri. Gue yakin ini gak semudah kedengarannya. He he…

Kesembilan, Bangun! Semangat itu ternyata bukan milik siapa-siapa, apalagi milik orang lain. Semangat itu milik diri sendiri, dan kita semua punya. Mau dipakai atau tidak itu urusan masing-masing. Yakinlah bahwa hidup kita, ya hidup kita!

Kesepuluh, ikhlas untuk segala yang terjadi dan sudah terlewatkan. Gue sadar betul poin ini pasti bakal jadi yang paling sulit. He he…

Dan kesemua poin kontemplasi ini, jujur gue gak tau datang dari mana. Yang jelas, jari-jari gue menari begitu saja diatas tuts laptop yang semakin uzur ini. Dan gue selalu yakin, Tuhan sedang berbicara dengan gue sekarang ini. Alhamdulillah.

Jember, 20 & 23 April 2009

May 19, 2009   5 Comments

Adakah Keberuntungan?

Beberapa dari kita mungkin banyak bermimpi dan mengharap tentang apa yang bakal terjadi dalam kehidupan. Termasuk cita-cita yang muluk-muluk sekalipun. Tentang rencana yang sekian banyak terhampar di depan, juga segala usaha untuk kesana.

Dalam segala keterbatasan sebagai manusia, seringkali kita menyerah dan mengharap datangnya keberuntungan. Dalam segala kedengkian kita sebagai manusia, seringkali kita mengutuk mengapa diri ini tak kunjung beruntung seperti manusia lainnya?

Lalu manusia bertanya dimana keberuntunganku?

Lalu bertanya lagi kapan keberuntunganku kan datang?

Dan bertanya lagi kenapa aku tidak beruntung?

Akhirnya bertanya tentang: adakah keberuntungan itu?

Energi di dunia ini pada dasarnya tetap. Ia hanya berubah bentuk. Tidak berkurang tidak pula bertambah. Selalu dalam jumlah yang sama seperti pertama kali energi tersebut hadir di alam semesta ini. Sesungguhnya manusia dapat menyerap sebanyak mungkin energi dari alam semesta. Bila ia mengeluarkan energi positif maka terseraplah energi positif dari alam semesta untuknya. Semakin besar energi positif yang ia keluarkan, semakin banyak pula yang ia terima. Begitupun sebaliknya; bila ia melulu mengeluarkan energi negatif, maka akan kembali dalam bentuk energi negatif.

Keberuntungan, tidak lain hanyalah bentuk dari energi positif yang masuk pada diri seseorang. Bukan karena ia begitu saja datang, namun karena manusia tersebut lebih dahulu berkorban mengeluarkan energi positif dalam dirinya untuk semesta.

Sudah waktunya manusia mengalakkan gerakan penyaluran energi positif! Bagaimana? Berani coba? Mari meyongsong datangnya keberuntungan dengan terus, terus, terus, dan terus berusaha juga berbuat. Demi diri sendiri juga untuk sesama manusia. Apapun bentuknya, apapun caranya. Yuk?

May 19, 2009   No Comments

Beruntungnya Bisa Berbagi Kebahagiaan

Kadang kita tidak sepenuhnya memahami untuk apa orang orang disekitar kita hidup dan tumbuh bersama. Kita seringkali terlanjur memandang mereka seperti halnya “benda” yang kita miliki, bisa kapan saja pergi, hilang atau rusak termakan waktu. Sulit menjaga segalanya tetap baik apalagi abadi sepanjang umur kita hidup didunia. Seandainya saja pada akhirnya kita tidak lagi punya tempat untuk bersandar, lantas bisa apa? Mau apa?

Kebanyakan kita membutuhkan orang lain, teman, pacar, bahkan orang tua sekalipun untuk berbagi kesusahan. Mereka biasanya selalu sanggup untuk itu. Ada saja waktu mendengarkan ataupun sharing tentang kesamaan hobby dan lain sebagainya. Teman untuk tempat berbagi kesah, sahabat tempat berbagi sedih, orang tua tempat berbagi rencana atau mungkin pacar untuk berbagi hari.

Diatas semuanya itu, kesedihan kadangkala bisa selesai cukup hanya dengan diri sendiri. Duka mungkin bisa dimakan sendiri. Ada waktunya kita tidak ingin melibatkan orang lain dengan segala masalah yang terjadi. Semakin dewasa tentu kita semakin paham bagaimana menempatkan masalah pada tempatnya.

Tapi bagaimana bila ada saat ketika justru kebahagiaan datang, kita tidak punya siapa-siapa disamping kita. Suka dirasa sendiri, bahagia tidak sempat terbagi. Ada cerita indah yang tak terceritakan dan kesenangan hidup dimakan sendiri. Lantas untuk apa semua keindahan dunia? Mau apa kita dengan segala yang terasa?

Kenapa justru sesak melihat pantai indah dengan birunya yang menyatu langit. Sesak melihat gunung menjulang gagah menjemput awan. Sesak menjalani kegelimangan sebab tak tahu bagaimana membaginya. Sakit hati pada kesendirian ketika segalanya indah tapi kita merindu seseorang untuk duduk bersama menikmatinya? STOP. Bacalah kisah berikut:

Seorang perempuan tua yang bekerja sebagai pengantar surat menabung dengan susah payah untuk dapat berlibur ke kota terindah di dunia, Paris. Setelah ia berhasil mengisi tabungannya, ia berkelana seorang diri melintasi kota Paris dan melihat segala keindahan yang tersaji disana. Hatinya bahagia bukan alang kepalang karena mimpinya menjadi kenyataan. Namun perasaannya tiba tiba saja menjadi gundah. Ia merasakan kesepian yang luar biasa ketika akhirnya ia sadar bahwa segala yang terasa hanya dinikmatinya sendiri. Ia ingin berbagi ceria namun tidak ada seorangpun yang berjalan bersamanya. Bibirnya mungkin tersenyum, namun hatinya menangis. Ia merindukan orang lain yang hidup dan tumbuh bersamanya ada disana saat itu juga. Menikmati segalanya bersama dalam tawa dan canda. Namun akhirnya ia hanya diam saja berjalan sendirian dibawah lampu kota yang gemerlapan.

Bagaimana dengan anda? Masihkah anda sendiri? Segeralah bergabung dengan tim “Beruntungnya Bisa Berbagi Kebahagiaan”!!!

May 19, 2009   1 Comment

Ruang Bernama Dunia

Kebanyakan dari kita berfikir dunia adalah ruang yang kekal. Setidaknya merasa bahwa ia akan kekal, meski sadar bahwa ia tidak kekal. Kita terlanjur dikenalkan pada sistem dan mekanisme duniawi yang sangat rigid. Segalanya harus terukur dengan parameter yang manusia sendiri bingung harus bagaimana mengejarnya. Absurd.

Setiap dari kita diajarkan untuk menjadi soleh dan beriman, tapi selalu punya nafsu dan hasrat yang melimbungkan. Mereka bilang kita harus sukses untuk masa depan yang lebih baik, tapi untuk memulai harus terbentur sejuta alasan. Kita dikenalkan pada uang sebagai simbol keberhasilan, tapi jadi lupa diri dan lupa Tuhan.

Melihat dunia bagaikan melihat keabadian. Segalanya adalah hidup dan kegembiraan. Disela selanya ada duka, juga derita. Ada cinta, ada asmara. Punya cerita dan kisah yang nyatanya kebanyakan dari kita sendiri tidak tahu untuk apa semua itu.

Jika saja waktu tiba-tiba terhenti? Bagaimana kita menterjemahkan segalanya?

May 19, 2009   No Comments

Artinya Kehilangan

Artinya kehilangan adalah kesempatan untuk kembali melihat kedalam dan sadar sepenuhnya tentang kuasa diluar ke-manusiaan kita. Kehilangan seperti juga pil pahit namun berkhasiat menyembuhkan ego, takabur, dan beragam penyakit hati lainnya. Ia tidak tertebak kapan akan hadir, dan selalu tiada terencana.

Jika harus berkesempatan meminum satu pil “kehilangan”, percayalah, itu adalah awal untuk menjadi lebih baik. Percayalah bahwa setiap detail hidup adalah cabang-cabang konsekuensi yang akan membawa kita pada keadaan yang sudah tertakdirkan.

Cukup melewatinya dengan sabar. Menelannya dengan hati-hati dan menikmati setiap siksaan rasa pahit yang mungkin terasa. Sebentar saja kok. Khasiatnya adalah pelajaran hidup yang kan menjadi guru terbaik sepanjang jalan melintasi waktu hidup di bumi Tuhan ini.

Cinta, teman, sahabat, keluarga, saudara, adalah ruang yang bisa kita tinggali, sebagai tempat berbagi. Tertawa kadang juga bersedih. Tapi bila pintu perpisahan telah terbuka, siapa bisa menghindar dari pil pahit “kehilangan”. Hanya dengan ikhlas menerimanya, percaya pada kuasa Tuhan, maka segalanya bukanlah rintangan. Dengan kepercayaan dan keyakinan diri bukan mustahil kita bisa melompati gunung.

Jika semua adalah cabang-cabang konsekuensi, lalu apa lagi yang harus dipertanyakan dari sebuah fenomena “kehilangan”?

Stop crying, and do something… Semangat!!!

May 19, 2009   1 Comment

Rahmat dan Berkah

Banyak rezeki yang terkadang alpa untuk disyukuri. Seperti juga banyak hari yang berlalu untuk selalu diingat. Sudahkah kita menyisihkan sebagian waktu untuk merenungi berapa banyak kebahagiaan yang sudah kita rasakan? Rezeki yang sudah kita peroleh?

Bila Tuhan kan menambah rizki orang yang bersyukur, lalu apalagi yang kita tunggu. Bersyukur bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun mengingatkan diri ini untuk selalu bersyukur, itu yang sulit.

Adakah kesulitan yang selalu datang menimpa kita? Pasti. Adakah kesusahan dan gundah gulana? Pasti. Adakah keluhan dan kecewa? Pasti.

Dengan bersyukur kita jadi tahu bahwa semua ada rahmat dan berkah yang tersembunyi disetiap lekuk hidup. Dibalik setiap kesulitan, gundah gulana ataupun keluh dan kecewa. Seperti juga pelajaran, dan pengalaman. Ia adalah barang mahal yang harus ditebus dengan susah payah.

Syukurilah yang kau miliki sekarang, sebab susah senang yang terjadi adalah rahmat terbesar bahwa kita masih boleh merasakannya. Dengan bersyukur maka segalanya kan menjadi berkah… Amien.

May 19, 2009   No Comments

Adakah Jalan Tuk Kembali…?

Kita mengenal waktu sebagai sosok egois yang tak kenal ampun. Datang dan pergi begitu saja. Semua hidup dimulai dan diakhiri oleh waktu. Hari-hari dituntut oleh waktu. Menjadi manusia juga harus memahami waktu lebih dari apapun. Siapapun jadi sulit berdamai dengan waktu.

Ketika ia dimulai, kita ditempatkan pada keadaan ‘harus’ siap menerima segala keadaan. Kelahiran adalah mula segalanya. Kita tidak bisa memilih menjadi seperti apa ketika jarum waktu sudah diputar. Sejak itu, kita harus selalu berdamai dengan setiap keadaan yang tercipta.

Selama menjalani hidup, waktu menjadi rekan setia yang menemani sekaligus mengawasi setiap perilaku dan perbuatan. Ia ada namun tak tampak. Ia bisa dikenang dengan indah atau bahkan disesali, bila sudah berlalu. Bisa pula di impikan dan selalu diharapkan, bila ia belum kunjung tiba.

Kita manusia diajarkan untuk akrab dengan waktu. Belajar menghargainya, seolah ia adalah guru yang selalu mendidik bahwa hidup sebenarnya adalah rentang waktu. Ruang yang merentang namun berbatas. Ada, namun akan berlalu, akan habis.

Lepas dari waktu berarti mati. Kehilangan segala keindahan duniawi dan kembali pada tempat seharusnya kita berada. Waktu pada saatnya akan mengingatkan apa dan siapa kita, dan sejauh mana kita sudah berbuat. Dosa apa yang sudah terjadi, dan hukuman apa yang akan menanti.

Kehilangan waktu, berarti kehilangan kesempatan. Hidup sudah tak ada, yang nyata adalah keadaaan seharusnya. Selama hidup, kita bisa memohon kata “seharusnya saya begini dan begitu” untuk jadi konkret. Mengusahakan sebaik mungkin, sebisa mungkin. Tapi bila waktu sudah habis dan berlalu, adakah permohonan “saya ingin lebih baik” bisa terucap… Lalu adakah jalan tuk kembali? Tidak.

Waktu, pahamilah, hormatilah… Di rentangnya kita hidup, dibatasnya kita mati.

May 19, 2009   1 Comment

Eksistensi, Kata Lain Dari Kerapuhan

Nyaris tiada yang sempurna. Mengenal hidup seperti menyerahkan separuh nafas pada ketergesaan. Kita dipacu untuk mengerti dan paham akan diri sendiri dan orang lain. Semua, setiap kita, berlomba untuk pencapaian sebuah eksistensi. Diakui, dikenal, dimengerti, dihormati, disayangi…dan seterusnya.

Sedangkan ruang dibalik tembok itu adalah kehampaan. Banyak yang gila karena kehilangan keluarga, cinta dan sahabat. Banyak yang stress karena hilang harta dan materi. Banyak yang bunuh diri, karena kehilangan tuhan dan penuntun.

Sekolah adalah eksistensi. Keluarga adalah eksistensi. Beragama adalah eksistensi. Berorganisasi adalah eksistensi. Bekerja adalah eksistensi. Pacaran adalah eksistensi. Berteman adalah eksistensi. Punya hobi adalah eksistensi. Belanja adalah eksistensi. Mengungkapkan pendapat adalah eksistensi. Nyaris tiada yang luput dari kata eksistensi.

Semua diluar diri kita, status dan bilangan atau apapun namanya, adalah pengakuan atas keberadaan diri kita. Mengejar eksistensi seolah mengejar kepercayaan diri. Dibalik itu…

Eksistensi tanpa disadari menjadi kerapuhan yang teramat nyata. Tanpanya kita menjadi tidak bisa melanjutkan hidup. Seolah-olah semua harus benar dan berada pada jalurnya. Kehilangan cinta dan sahabat adalah cerita. Kehilangan harta dan materi adalah cerita. Kehilangan keluarga adalah cerita. Kehilangan Tuhan adalah cerita. Semua cerita selalu bisa dibuat. Selalu bisa diperbaiki selama hidup masih berjalan.

Ketika semua tidak berakhir pada apa-apa… Percayalah, semua hanya cerita. Lakukan yang terbaik dan jangan jatuh terlalu dalam.

May 19, 2009   1 Comment

Senyuman, Obat Maharasa…Berani coba?

Kita memahami keindahan, seringkali disinkronkan dengan penampakan secara fisik yang mengesankan, membuai angan, dan melenakan seolah tak ingin cepat berlalu. Keindahan seperti sebuah dongeng yang selalu berakhir bahagia karena terjaga tetap seperti itu.

Ia adalah kado dari sebuah duka yang sudah berlalu atau sedang tidak dirasa. Ia adalah cerita / dongeng yang selalu tak jemu untuk diceritakan / didongengkan lagi. Kita selalu mengharapnya ada sebelum tidur, lagi berharap dapat memimpikannya.

Tapi dalam hidup, tiada satu cerita yang berjalan konstan tanpa emosi. Kadang bahagia kadang bersedih, sekali waktu berduka, sekali waktu tertawa. Tentu semua pernah tersenyum? Pernah tertawa? Pernah bersedih? Pernah berduka?

Tapi sudah pernah coba mengkombinasikannya? Senyum ketika bersedih? Tertawa ketika berduka?

Mendapati diri yang sudah sedemikian rapuh tercipta, tentu sangat manusiawi katakan “Sulit” untuk lakukan itu. Tapi pernahkah terfikir bahwa senyum dan tawa adalah obat maharasa untuk segala…?

Bahwa hidup akan berakhir dalam ketiadaan. Apa yang terjadi hanyalah pengulangan-pengulangan dari segolongan manusia sebelum kita. Pencarian manusia tidaklah akan kunjung henti. Dan dunia akan terus berjalan seperti adanya seperti layaknya.

Jika sudah begini adakah alasan untuk murung dan bersedih?

Menjadi manusia bahagia adalah menerima setiap cobaan dengan senyuman, dan menerima kesulitan dengan tawa dan semangat baru.

Temukan apa yang dapat kita raih dengan senyuman. Sang Obat Maharasa itu…!!!

May 19, 2009   No Comments